MEMAHAMI DAN MEMILIH SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN BAGI PENYEDIA LAYANAN INFORMASI KESEHATAN

MEMAHAMI DAN MEMILIH SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN BAGI PENYEDIA LAYANAN INFORMASI KESEHATAN

Abstrak

Saat ini di pasaran sedang berkembang perangkat lunak mengenai solusi manajemen pengetahuan. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mendiskusikan berbagai isu yang terkait dengan pemilihan sistem tersebut dalam rangka mendukung pengetahuan para pekerja. Soft System Methodology (SSM) dan SISTeM (siklus 1) digunakan sebagai pendekatan pemecahan masalah dengan kerangka kerja penelitian tindakan (action research) untuk menganalisa Knowledge Management System (KMS), menganalisa interaksi antara manusia dan komputer serta untuk mengembangkan kriteria bagi pemilihan sebuah sistem. Kriteria didalam penyeleksian sistem manajemen pengetahuan tersebut kemudian diuraikan dan diaplikasikan didalam studi kasus mengenai pelayanan kesehatan berdasarkan fakta.

1. Pendahuluan

Manajemen pengetahuan (KM) telah didengungkan didalam berbagai disiplin ilmu selama bertahun-tahun dan terakhir diaplikasikan di dalam pelayanan kesehatan dan kepada para pekerja pengetahuan didalam lingkungan tersebut. Dengan semakin tumbuhnya konsep ini maka terdapat pula kebutuhan untuk mengembangkan suatu cara didalam memahami proses pengetahuan tersebut serta untuk memilih sistem manajemen pengetahuan yang dapat membantu menciptakan pengetahuan (creation), menyimpan (store) serta membaginya (sharing).

“Selama beberapa tahun yang lalu telah terjadi perkembangan yang cepat didalam teknologi dimana terjadi penjualan oleh para vendors berbagai perangkat lunak manajemen pengetahuan ….Adalah hal yang wajar untuk mengatakan bahwa tidak ada produk tunggal yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan manajemen pengetahuan di suatu organisasi”.

Manajemen Sistem Pengetahuan (KMS) merupakan sebuah alat untuk mempengaruhi manajemen pengetahuan dan kemudian diwujudkan dengan berbagai pelaksanaan. Alavi dan Leidner

“Target kepada aktivitas profesional dan manajerial dengan fokus menciptakan, menggali pengorganisasian serta menyebarkan pengetahuan sebuah organisasi sebagai perlawanan terhadap “informasi” atau “data””.

Untuk memperoleh sebuah pemahaman yang lebih luas mengenai apa yang dibutuhkan ketika memilih sebuah KMS, menjadi hal yang penting untuk memberikan penghargaan terhadap perilaku manajemen pengetahuan didalam sebuah organisasi yang tidak mencakup kegiatan pada saat ini tetapi juga kegiatan yang diinginkan. Hal kedua adalah adanya kesadaran bahwa teknologi manajemen pengetahuan sebagai sesuatu yang berharga. Makalah ini bertujuan untuk memberikan sebuah tinjauan yang luas terhadap berbagai persoalan ketika melihat sistem manajemen pengatahuan (KMS) dibandingkan hanya sekedar melakukan analisa mendalam terhadap persoalan tersebut –misalnya melihat apakah ada hubungan dan kegunaan dari sistem tersebut. Makalah ini juga bertujuan untuk mengembangkan kriteria yang dapat digunakan ketika memilih sebuah sistem manajemen pengetahuan.

2. Studi Kasus

Manajemen pengetahuan dalam konteks pelayanan kesehatan berdasarkan fakta (evidence based health care) memberikan potensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap para praktisi yang sedang mencari fakta-fakta tersebut. Para pekerja pengetahuan yang bekerja di lingkungan ini kemudian mengundang peneliti untuk bekerja bersama mereka didalam sebuah rumah sakit pengajaran (teaching hospital) yang besar di Melbourne, Australia. Kerumitan pengetahuan yang muncul didalam praktik bersama komunitas yang beranekaragam tersebut kemudian digunakan untuk mengilustrasikan kompleksitas didalam sistem manajemen pengetahuan terpilih.

Pusat spesialis fakta (evidence specialist centre) ini kemudian didirikan dengan biaya dari pemerintah. Tujuannya untuk menyediakan informasi mengenai efektivitas pegobatan klinis kepada seluruh praktisi kesehatan yang berada didalam area geografis yang luas mencakup empat rumah sakit dan banyak pusat kesehatan masyarakat. Pelayanan ini telah berjalan selama lebih dari dua tahun dan telah menjawab berbagai pertanyaan dari para petugas kesehatan, berbagai profesi yang berkaitan dengan pengobatan, serta dari para perawat dan bidan.

Sebagai contoh, pernah ada pertanyaan yang ditujukan kepada pusat pelayanan ini oleh seorang manajer pengawas infeksi yang menanyakan apakah tindakan pencegahan standar bersifat efektif didalam mencegah perpindahan darah yang tertular virus (HIV, HBV, HCV) di lingkungan unit haemodialisis. Ukuran pencegahan apa yang efektif?

Tinjauan yang sistematis, didasarkan panduan fakta, pendugaan teknologi kesehatan dan percobaan acak terkontrol dari database yang ada kemudian membantu mencarikan jawaban terhadap pertanyaan ini. Dari hasil pencarian tersebut ditemukan fakta bahwa hanya ada sedikit “standar emas” dalam bentuk pemeriksaan sistematis dari percobaan acak terkontrol sehingga diperlukan fakta/bukti lain yang harus dimasukan untuk menjawab pertanyaan ini. Sejak diajukannya pertanyaan, pengetahuan telah dihasilkan melalui interpretasi terhadap pertanyaan, pemilihan informasi yang tepat untuk menjawab pertanyaan, penilaian terhadap fakta dari sisi keketatan dan validitas yang kemudian diterjemahkan kedalam pengetahuan yang relevan dan dapat dipahami sehingga para praktisi dapat menggunakannya.

3. Metodologi

Penelitian tindakan (action research) kemudian dipilih sebagai kerangka kerja didalam penelitian ini yang digambarkan sebagai “sebuah proses kognitif yang bergantung kepada interaksi sosial diantara para pengamat dengan lingkungan sekelilingnya”

Format penggunaan penelitian tindakan yang digunakan didalam penelitian ini seperti yang digambarkan oleh Susman dan Everard mencakup lima tahapan yaitu diagnosis, rencana tindakan, pengambilan tindakan, evaluasi serta menetapkan pembelajaran. Gambaran yang kemudian mengikutinya adalah adanya tahapan dimana peneliti dan partisipan bergerak lebih mendekat kepada tujuan memilih sebuah KMS.

Didalam penelitian tindakan ini terdapat berbagai pendekatan pemecahan masalah yang dapat digunakan didalam menyelidiki sistem informasi. Salah satu pendekatan tersebut adalah Soft System Methodology (SSM) yang dapat digunakan sebagai sebuah metode untuk mengeksplorasi gagasan mengenai “aktivitas manusia yang bertujuan”.

SSM tidak hanya menambah pengetahuan kita terhadap suatu masalah dan situasi tertentu tetapi juga memberikan intervensi yang berguna terhadap situasi semacam itu. Hal ini sesuai dengan tradisi penelitian tindakan dimana salah satu prioritasnya adalah memberikan solusi praktis terhadap permasalahan daripada hanya sekedar menguji dan menghasilkan teori. Dasar penerapan SSM terletak secara kuat didalam tradisi penelitian tindakan dimana “bertujuan untuk memberikan kontribusi baik terhadap tujuan praktis memecahkan masalah tertentu dan juga bertujuan sebagai ilmu pengetahuan sosial dengan saling bekerjasama didalam kerangka kerja etik yang diterima bersama” (Rapport, 1970).

4. Diagnosis

Dengan mengunakan SSM, peneliti dan partisipan mampu mendiagnosis apa yang sedang terjadi didalam praktik komunitas. Melalui wawancara, diskusi kelompok terfokus dan observasi partisipatoris, konsep mengenai manajemen pengetahuan kemudian didiskusikan. Beberapa aktivitas manajemen pengetahuan kemudian dilakukan dengan pertanyaan utama yang muncul adalah “bagaimana kita memilih teknologi (KMS) untuk meningkatkan kondisi kerja?” Mereka kemudian mengidentifikasi beberapa permasalahan :

· Pengetahuan yang dihasilkan selama pertemuan ini kemungkinan akan hilang dan tidak tersimpan atau tidak dibagikan oleh para pekerja pengetahuan ini atau pekerja lainnya di pertemuan mendatang.

· Para partisipan memiliki keinginan untuk memperbaikinya tetapi tidak tahu bagaimana melakukannya.

· Para partisipan tersebut melek IT tetapi tidak dapat mengartikulasikan proses manajemen pengetahuan tersebut dengan bergerak ke pemikiran KMS.

· Dengan berkembangnya berbagai produk di pasaran, mereka merasakan proses seleksi tersebut seperti membandingkan antara apel dengan jeruk.

Seluruh masalah ini menciptakan sebuah kesadaran bahwa aplikasi KMS dapat membantu menghilangkan berbagai masalah ini, tetapi masih terdapat beberapa perbedaan dalam cara merealisasikan dan mengimplementasikan KMS ini.

5. Perencanaan Tindakan

Teknologi informasi dapat membantu untuk menstrukturkan pengetahuan dan menggambarkan explicit knowledge dan terdapat berbagai macam teknologi yang tersedia yang mendukung pekerjan ini. Dari sudut pandang sistem pengetahuan teknologi semacam ini digambarkan oleh Skryme dalam Tabel 1.

Table 1 Teknologi Manajemen Pengetahuan

Pengetahuan berdasarkan masukan

Menggali informasi tersembunyi

Penyaringan mengacu kepada periwayatan (profile)

Penyajian berorientasi pengguna

Memadatkan informasi

Peralatan yang cerdas

Penyaringan email

Pencarian berdasarkan tingkat kesesuaian

Konsep pencarian keterangan

Peta visual

Penggalian data dan teks

Proses pengetahuan

Mendapatkan bukti-bukti laporan lama

Peraturan dan induksi

Kombinasi yang lebih cepat

Kasus berdasarkan sebab

Sistem para ahli

Penyimpanan pengetahuan

Menahan lebih banyak informasi saat ini

Referensi satu titik

Manajemen kamus

Aliran pengetahuan

Pengiriman secara berkala

Meningkatkan aliran kinerja

Memperingatkan pengguna terhadap perubahan

Email

Alur kerja perangkat lunak

Teknologi pendorong

Peralatan yang cerdas

Keluaran pengetahuan

Mendukung proses berpikir Menginformasikan pengambilan keputusan

Alat-alat kognitif

Menghasilkan gagasan dan pemetaan visual

Dukungan keputusan : dukungan pertemuan

Dari daftar ini dapat kita lihat terdapat kemungkinan bahwa ketika melakukan praktik di komunitas penggunaan teknologi dapat membantu memecahkan berbagai permasalahan manajemen pengetahuan. Tentunya di banyak organisasi –seperti dalam studi kasus ini– mereka memiliki keterbatasan pengetahuan diluar kompetensi intinya yang bertujuan untuk membuat keputusan yang tepat mengenai KMS.

Sementara itu sangat berguna untuk menggunakan SSM didalam mendiagnosa kebutuhan KMS, dia tidak membantu partisipan atau peneliti dalam tarap berpikir mengenai penggunaan informasi teknologi dan kemudian berkonsentrasi kepada aktivitas manusia mesin (human-machine activities). Untuk membantunya maka di tahap ini maka digunakan Soft System Information and Technology Methodology (SISTeM). Dengan adanya SISTeM ini maka tersedia pendekatan yang lebih praktis untuk meningkatkan

“Pengambilan keputusan operasional dan membawa integrasi organisasi, informasi dan perubahan teknologi didalam satu situasi tertentu.

SISTeM digunakan di akhir tahap penelitian tindakan untuk mengidentifikasi kriteria pemilihan KMS. Pendekatan ini juga telah digunakan didalam didalam berbagai lembaga perawatan kesehatan oleh para pengembang SISTeM dan dianggap relevan terhadap studi kasus didalam makalah ini. Metodologi ini mengandung dua siklus dengan fokus pertama terhadap pengambilan keputusan strategis dan perluasan beberapa prinsip. Seangkan siklus kedua mencakup masalah-masalah operasional seperti keputusan bertindak dan proses bagi pengambilan keputusan.

Menggunakan metodologi ini merupakan cara untuk mengartikulasikan apa yang dibutuhkan dari sebuah KMS dengan tujuan untuk membantu perencanaan tindakan. Tahapan siklus penelitian tindakan ini menggambarkan bagian dari proses ini daripada menggambarkan keseluruhan metodologi dan SSM digunakan sebagai sebuah pendekatan didalam pemecahan masalah. Penekanan di siklus 1 dari metodologi –sebuah tingkatan strategis– dimana prinsip ketegasan telah digunakan untuk memandu pengambilan keputusan di dalam KMS sebelum keputusan praktis untuk bertindak dibuat.

Siklus 1 dimulai dengan sebuah analisa mengenai situasi permasalahan yang kemudian bergerak menuju sebuah keputusan. Hal ini kemudian mengarah ke perubahan selanjutnya dan masalah yang ada di situasi yang baru tersebut kemudian tereksplorasi melalui siklus 2. Eksplorasi situasi yang ada saat ini memfokuskan kepada sistem informasi seperti yang digambarkan oleh Atkinson, tidak hanya dalam praktik komunitas di masa kini dan mendatang tetapi juga pengaruhnya terhadap bagaimana pekerja pengetahuan melakukan pekerjaan mereka. Sebuah analisa politik dan sosial juga membantu untuk mengeksplorasi peran yang telah dimainkan staf IT serta pengalaman dan sikapnya terhadap KMS dan IT dari para pengguna potensial terhadap sistem ini.

6. Pengambilan Tindakan

Sistem dan teknologi yang ada teridentifikasi melalui diskusi dan debat dengan partisipan, dan digunakan sebagai dasar didalam pengambilan keputusan lebih jauh didalam siklus 1 dari SISTeM. Organisasi telah berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dan disusun kedalam sistem manajemen pengetahuan. Ini mencakup :

· Database dokumen seperti bukti-bukti laporan, waktu pertemuan serta berbagai proposal.

· Internet, dimana terdapat pekerjaan mereka sendiri didalam website mereka sendiri serta website organisasi lainnya yang menyediakan fakta praktik yang efektif.

· Database eksternal yaitu database yang harus dicari dari luar seperti Cochran database, Medline, CINAHL dan lainnya.

· Database yang kurang formal dari umpan balik pengguna

· Jaringan server lokal untuk menyimpan dokumen-dokumen internal

Dari pemahaman mengenai apa yang tersedia dan telah dimanfaatkan maka para partisipan dan peneliti kemudian dapat mendefinisikan sistem seperti apa yang dapat menutupi semua kebutuhan.

6.1 Akar Definisi and Kondep Model

Akar Definisi

Sebuah pusat (centre) yang memiliki sistem manajemen pengetahuan yang dioperasikan oleh staf pusat dan dimiliki oleh Institut yang memungkinkan penciptaan, penyimpanan dan berbagi pengetahuan.

CATWOE

Customer (pelanggan) yaitu pekerja pengetahuan yang berada di pusat (centre)

Actors (pelaku) : staf IT, para pekerja pengetahuan

Transformation (transformasi) yaitu pengetahuan di pusat ditransformasikan kedalam komponen sistem pengetahuan.

Weltanshauung (pandangan hidup), berupa penciptaan, penyimpanan dan pembagian pengetahuan yang dibutuhkan untuk efektivitas manajemen pengetahuan.

Owners (pemilik) : fasilitator manajemen pengetahuan, staf IT.

Environment (lingkungan) : pekerja pengetahuan, staf IT.

Setelah mengidentifikasi sistem, para partisipan bekerja bersama untuk mengembangkan sebuah model sistem ekspresif dikaitkan dengan akar definisi. Model ini menggabungkan aktivitas manusia, Gambar 1 menunjukan model sistem tersebut. Ini juga menjadi bahan pertimbangan didalam berbagai literatur pembahasan mengenai KMS dimana berbagai variasi yang ada didalam proses manajemen pengetahuan tergambarkan. Ini adalah suatu cara yang luar biasa untuk mengidentifikasi aktivitas mana didalam sistem yang membutuhkan dukungan IT dan mana yang tidak.

 
  clip_image001

Gambar 1. Model ekspresif dari komunitas KMS

Disana juga terdapat berbagai tugas didalam organisasi yang teridentifikasi sebagai masalah. Mereka tidak hanya tugas yang dapat ditingkatkan melalui penggunaan IT, tetapi juga memerlukan perubahan keorganisasian dan kultural. Tabel 2 memperluas aktivitas manajemen pengetahuan dan mengkaitkan mereka kepada sub aktivitas KMS. Aktivitas semacam itu tereksplorasi di dalam percakapan dengan para partisipan dan pengamatan terhadap kerja pengetahuan mereka.

Tabel 2. Model ekspresif yang menyertai komponen mesin pengetahuan.

MENERIMA (RECEIVE) pertanyaan dari pengguna, diikuti dengan melengkapi formulir permohonan tersebut,

MEMBERITAHUKAN (NOTIFY) kelompok bahwa ada permohonan

MENAMBAHKAN (ACCRUE) informasi mengenai permohonan tersebut (siapa, apa, kapan) secara mingguan.

MENANGKAP (CAPTURE) data untuk penggunaan di masa mendatang.

MENGALOKASIKAN (ALLOCATE ) permohonan kepada pekerja pengetahuan mengacu kepada keahlian, kemendesakan, dan beban kerja.

MENANGKAP (CAPTURE) data mengenai siapa yang mengisi permohonan.

MENCOCOKAN (MATCH) permohonan dengan gabungan data keahlian dan beban kerja.

KETERJANGKAUAN (SCOPE) setiap pertanyaan untuk memastikan sejumlah informasi tersedia dan bagaimana pertanyaan tersebut dijawab.

MENCARI (SEARCH) database untuk meminta informasi yang relevan

MENGKAITKAN (LINK) laporan dengan laporan lainnya yang memiliki kemiripan kepentingan

MENCARI (SEARCH) informasi internal terhadap permintaan yang sedang berlangsung

MENINJAU ULANG (REVIEW) pertanyaan para pengguna, memperbaikinya jika dibutuhkan

PEMBAHARUAN (UPDATE) apabila dibutuhkan

MEMBUAT (CREATE) sebuah gambaran mengenai aktivitas kerja pengetahuan untuk memahami kemajuan pekerjaan dan beban kerja

MENCARI (SEARCH) database, WWW, literatur abu-abu apabila dibutuhkan

MEREKAM (RECORD) strategi pencarian

MENYIMPAN (STORE) database yang digunakan dan website yang telah dikunjungi

PENCATATAN (LOG) terkait metode, sumber yang digunakan dan tidak digunakan (rasional jika dipertimbangkan berguna)

MENYIMPAN (STORE), menyimpan pengetahuan untuk kerja yang akan datang

MENYIMPAN (STORE), dasar rasional bagi pembuatan keputusan

MENDAPATKAN (RETRIEVE) hardcopy bahan-bahan sumber ketika dibutuhkan

PENCARIAN (SEARCH) berbagai katalog perpustakaan untuk ketepatan informasi

GENERATE peminjaman antar perpustakaan

CREATE meninjau aktivitas penyakit dengan kembali : menunggu peminjaman, pemenuhan kebutuhan, pembiayaan, dan waktu yang dibutuhkan.

MEMBUAT (CREATE) pesanan kepada penyedia jasa ketika dibutuhkan

MENILAI (APPRAISE) fakta berdasarkan kriteria

MEREKAM (RECORD) keputusan mengenai penilaian tulisan individual

MENYUSUNNYA (COLLATE) kedalam tabel-tabel fakta/bukti

PENULISAN (WRITE) laporan

MEMBUAT (CREATE) dokumen pemroses kata-kata

MENYIMPAN (STORE) semua jenis laporan didalam sebuah format yang berguan untuk kolaborasi

MEMBUAT (CREATE) dokumen PDF

MEMASUKANNYA (MOUNT) kedalam website

MENGIRIMKAN (SEND) laporan kepada pengguna

MENGUMPULKAN (COLLECT) data kiriman secara tepat waktu

MENYUSUN (COLLATE) statistik pekerjaan yang telah diselesaikan dan waktu yang dibutuhkan.

MEMPEROLEH (GAIN) umpan balik terhadap penggunaaan dan kecocokan laporan.

MENYUSUN (COLLATE) data

MENYIMPAN (STORE) umpan balik temuan

KUMPULAN (AGGREGATE) data untuk dilaporkan

MENYEBARKAN (DISTRIBUTE) umpan balik kepada para pekerja pengetahuan,

BERBAGI (SHARE) dengan para peneliti sebagai bahan evaluasi

6.2 Perdebatan Mengenai Model

Sebuah perdebatan mengenai bagaimana mengartikulasikan kemudian muncul, melibatkan para pekerja pengetahuan dan staf IT di luar pusat (centre) yang sedang dipelajari. Ini adalah cara dimana KMS & IT yang telaha da kemudian dikombinasikan dengan komponen baru untuk menciptakan sistem yang lebih efisien dan terintegrasi. Perdebatan tersebut kemudian membawa isu sosial, okeorganisasian dan politik ke bagian depan. Sementara waktu dipenuhi dengan emosi dan perdebatan, beberapa hasil nyata telah diraih mencakup keputusan terhadap keberfungsian dan keberadaan infrastruktur IT saat ini.

Di tingkatan pragmatis, implementasi sebuah KMS dapat membantu pekerja pengetahuan untuk menangkap dan kemudian menyimpannya. Ini merupakan ragam pengetahuan yang tidak hanya mencakup “praktik terbaik” tetapi juga mengenai meta-pengetahuan yaitu pengetahuan tentang bagaimana memperoleh fakta-fakta (evidence). Ini dapat berbentuk pencarian didalam website, grey literatur, dan sampai mana website tidak digunakan lagi. Perdebatan terus berlanjut, sehingga tercapai “akomodasi yang kuat” diantara para aktor yang saling bersaing dan stakeholder yang ada. Prinsip ketegasan dapat membantu proyek ini bergerak menuju siklus ke-2 dari SISTeM.

6.3 Munculnya Sistem Manajemen Pengetahuan

Dari pemodelan KMS kita mampu mengartikulasikan keberfungsian dari sistem-sistem. Pemodelan ini telah dikombinasikan dengan literatur KMS untuk menciptakan kriteria yang jelas dan realistis yang dapat diaplikasikan kepada sistem yang ada di pasaran. Bagaimanapun, kebanyakan penyedia layanan KMS di pasaran telah memperkirakan akan melebihi 1 milyar dolar di tahun 2002. Berbagai sumber telah melakukan survey terhadap industri yang terdiri lebih dari 65 vendor serta dengan melakukan pencarian melalui Web. Hasilnya para peneliti menemukan bahwa telah terdapat lebih dari 300 vendor dan akan terus tumbuh tiap tahunnya.

Didalam bahasa pemasaran dan pembelian, produk semacam itu ini adalah sebuah jalan panjang bagi mereka yang bekerja didalam pelayanan kesehatan. Pemilihan sistem di luar kompetensi inti ini bagi para profesional semacam itu sistem pemasarannya menjadi membingungkan dan terkadang menjadi tempat yang menyesakan. Menghubungkan keberfungsian dengan proses KM di satu sisi adalah cara yang pragmatis agar kedua masalah tersebut terwakili. Aplikasi IT di satu sisi berguna agar partisipan dapat memperoleh sebuah pemahaman tentang bagaimana mereka dihubungan bersama serta untuk menghasilkan aplikasi yang kemungkinan dapat digunakan oleh masyarakat banyak.

Diharapkan bahwa perkembangan beberapa pemahaman terhadap fungsionalitas KMS akan membantu para pembeli di pasaran membuat beberapa pengamatan terhadap sistem mereka dan memfasilitasi pemilihan berbagai produk di pasar yang besar semacam itu.

7. Evaluasi

7.1 Analisa Sosial : Peran, Nilai dan Norma

Didalam studi kasus ini, yang menjadi penting ketika berpikir untuk menerapkan KMS adalah adanya peran, nilai dan norma dari para pekerja pengetahuan yang akan memiliki pengaruh terhadap perkembangan dan penerapan berbagai solusi yang ada.

Peran : mengangkat aktivitas yang mendukung pelayanan kesehatan berdasarkan fakta di rumah sakit serta untuk memperbaiki pengambilan keputusan dan kualitas dari pelayanan kesehatan.

Norma : berbeda-beda sesuai dengan kelompok klinis dan profesional yang merepresentasikan timnya, norma-norma semacam ini ketika diterapkan kepada pelayanan kesehatan berdasarkan fakta juga berbeda tergantung latar belakang dan pelatihan yang ada di kelompok tersebut.

Nilai : secara intrinsik dibentuk didalam kelompok. Sebagai kelompok yang terdiri dari dokter, perawat, informan, peneliti pelayanan kesehatan dan akademisi maka beberapa norma-norma ini akan dibawa kedalam kelompok.

Manajemen pengetahuan dan teknologi : manajemen pengetahuan merupakan hal yang baru bagi partisipan sehingga mereka kemungkinan tidak mampu untuk mengartikulasikan apa yang dibutuhkan sepanjang terkait dengan KMS. Mereka memiliki pengalaman yang luas tetapi berbeda-beda didalam menggunakan berbagai aplikasi IT dan merasa nyaman dengan aplikasi yang baru.

7.2 Analisa Politik

Paradigma didalam pelayanan kesehatan berdasarkan fakta berbeda diantara profesional klinis. Dalam kasus diskusi yang diikuti partisipan, fokus yang ada terhadap tinjauan sistematis (systematic reviews) dan percobaan acak terkontrol (randomized control trial). Ini tergambarkan didalam filsafat dan fokus hantaran pengetahuan yang disediakan oleh pusat (centre) ini.

Dalam hubungannya dengan manajemen pengetahuan dan sistem pendukung kerja tersebut, pengetahuan dapat menjadi semacam komoditas bagi kekuasaan dengan mengembangkan peran eksklusif dan terlalu menggantungkan nasibnya kepada sebagian anggota kelompok. Para anggota yang vokal didalam kelompok dapat juga mempengaruhi pemaknaan mengapa pengetahuan itu penting, harus disimpan dan dibagikan didalam kelompok.

Pengalaman mengenai teknologi informasi sejauh ini sangat bervariasi. Kebanyakan dari pekerja memiliki perangkat keras dan perangkat lunak yang mereka butuhkan ketika melakukan pekerjaan, tetapi kemungkinan dibatasi oleh organisasi induknya. Mereka tidak hanya mengalami konflik pekerjaan didalam organisasi pelayanan kesehatan tetapi juga di departemen universitas. Dalam kasus ini dapat dikatakan bahwa mereka memiliki “dua pemilik” yaitu universitas jarak jauh yang merancang kebijakan dan melisensi produk dan juga dukungan serta keahlian IT lokal. Aspek politik yang terdapat didalam skenario ini menimbulkan berbagai kesulitan didalam praktiknya karena mereka menjadi tergantung kepada pengaruh organisasi induknya didalam pengambilan keputusan. Contohnya adalah pembangunan server lokal, ini sangat membutuhkan waktu didalam pembelian dan implementasinya karena berbagai masalah yang telah disebutkan sebelumnya. Diskusi kemudian mengarah ke saling berbagi drive sebagai sebuah perangkat penyimpanan (storage) yang tidak dibatasi dibandingkan tempat penyimpanan pengetahuan dimana kontrol terhadap isi dan kodifikasi perlu dilakukan.

8. Menetapkan Pembelajaran

Pembelajaran berada di seluruh siklus penelitian tindakan ini, tetapi akan diringkas didalam bagian ini. Bagi partisipan yang tidak berpikir mengenai proses manajemen pengetahuan, proyek ini adalah sesuatu yang baru. Dengan melakukan ini mereka belajar tentang apa yang sedang terjadi didalam praktik komunitas dan mereka kemudian membuat saran agar hal tersebut bisa ditingkatkan. Hal ini menciptakan rasa kepemilikan dan dukungan terhadap sistem yang baru tersebut. Staf IT didalam studi kasus ini sangat berbahagia untuk berkolaborasi didalam proyek ini, tetapi terkadang mereka merasakan memiliki otonomi yang terbatas didalam mempengaruhi pengambilan keputusan ketika berada di organisasi yang lebih luas.

Pengetahuan diperoleh melalui proses mempengaruhi organisasi induk agar meningkatkan serta memberikan sistem pendukung untuk meningkatkan pekerjaan lokal. Secara konseptual proyek akan menyediakan berbagai pengetahuan baru dalam hubungannya sebagai perantara dan manajemen pengetahuan didalam pelayanan kesehatan.

“Pelajaran ganda berputar” sebagaimana yang digambarkan Argyris dan Schon melihat kepada restrukturisasi norma-norma organisasi untuk merefleksikan perolehan pengetahuan baru selama penelitian. Ini terjadi ketika para partisipasan mengartikulasikan kebutuhan KMS yang kemudian memunculkan sebuah kesadaran mengenai bagaimana dan mengapa sistem yang ada tersebut digunakan. Hal ini juga menantang proses pengambilan keputusan organisasi secara luas dan sering dilihat sebagai tantangan yang tidak menyenangkan terhadap status quo. Partisipan menikmati pengalaman menganalisa sisi politik dan sosial didalam pekerjaan mereka, sesuatu yang baru dan kontroversial saat itu. Peneliti mempelajari bahwa pengembangan kriteria pemilihan dan mengkaitkannya dengan proses KMS ternyata lebih sulit dibandingkan didalam literatur atau yang bagi yang bekerja di lapangan.

9. Kesimpulan

Dari analisis mengenai lingkungan manajemen pengetahuan yang telah dipelajari, banyak dari fungsi KM yang teridentifikasi dapat ditemukan didalam banyak produk KMS di pasaran. Sebelum melihat kegunaan produk tersebut maka harus memiliki pengetahuan tentang apa yang dibutuhkan sehingga waktu dan sumberdaya tidak terbuang percuma. Pemahaman ini akan digunakan didalam siklus penelitian tindakan selanjutnya dimana SISTeM siklus ke-2 dapat digunakan untuk membuat keputusan nyata. Berbagai isu yang muncul di tahap ini akan merangsang berbagai solusi, seperti :

· Secara sistematis diinginkan,

· Secara kultur dimungkinkan,

· Secara keorganisasian adanya tambahan nilai,

· Secara informasi dan teknis dimungkinkan dan

· Secara etika dapat dipertahankan.

Ini mungkin kriteria yang paling penting yang harus diraih oleh setiap sistem sebelum pertimbangan secara fungsional. Di tingkatan pragmatis, implementasi sebuah KMS akan membantu pekerja pengetahuan menangkap dan menyimpan pengetahuan serta mencari dan menilai fakta sebagaimana yang biasa mereka lakukan. KMS dapat memberikan bantuan untuk membuat keputusan bagi yang mengalami kesulitan didalam mengartikulasikan pertanyaan mereka kedalam sebuah format yang dapat secara mudah dijawab.

“Banyak organisasi mencoba untuk membangun program KM beserta arsitekturnya sebelum membangun kerjasama kultural atau dasar-dasar bisnis bagi program ini…mereka memuliki nilai yang kecil kecuali apabila secara langsung dapat dilihat menguntngkan secara bisnis.

Keputusan praktis lainnya,mengenai pembelian Sistem Manajemen Pengetahuan dan implementasinya merupakan bahan diluar makalah ini, tetapi akan diberikan di masa mendatang untuk menggunakan siklus ke-2 dari SISTeM serta untuk memilih sistem KM.

10. Referensi

1. Muir Gray J. Where’s the chief knowledge officer? BMJ 1998; 317 (26 September) : 832-840.

2. Fennessy G. Knowledge management in evidence based health care. In: HIC 2000 8th national Health Informatics Conference; 2000 2-5 September 2000; Adelaide, South Australia:HISA; 2000.

3. Holsapple CW, Joshi KD. Knowledge selection: concepts, issues and technologies. In: Liebowitz J, editor. The knowledge management handbook. Boca Raton, FL: CRC Press; 1999. p.7.11 -7.17.

4. Alavi M, Leidner D. Knowledge management systems: emerging views and practices from the field. In: 32nd Hawaii International Conference on System Sciences; 1999; Hawaii: HICSS; 1999. p. 1-11.

5. Anderson J. An evidence centre in a general hospital: finding and evaluating the best available evidence for clinicians. Evidence Based Medicine 1999; 4(4): 102-103.

6. Rajendran M, Anderson J. Is standard (or universal) precautions effective in preventing the transmission of blood borne viruses (HIV, HBV, HCV) in the haemodialysis unit setting? What preventative measures have been effective? Melbourne, Australia: Centre for Clinical Effectiveness, Southern Health Care Network; 1999 22 October 1999.

7. National Health and Medical Research Council. A guide to the development, implementation and evaluation of clinical practice guidelines. Canberra: Commonwealth of Australia; 1999.

8. Baskerville R, Wood-Harper A. Diversity in information systems action research methods. European Journal of Information Systems 1998; 7:90-107.

9. Susman G. Action research: a sociotechnical systems perspective. In: Morgan G, editor. Beyond methods: strategies for social research. Newbury Park: Sage; 1983. p. 95-113.

10. McKay J, Marshall P. The dual imperatives of action research. Journal: Information Technology & People 2001;14(1):46-59.

11. Checkland P. Systems thinking, systems practice. Chichester: Wiley; 1981.

12. Susman G, Evered R. An assessment of the scientific merits of action research. Administrative Science Quarterly 1978; 23(4):582-603.

13. Skyrme DJ. Knowledge networking: creating the collaborative enterprise. Oxford: Butterworth Heinmann; 1999.

14. Atkinson C. Soft Information Systems and Technologies Methodology, SISTeM: a case study on developing the electronic patient record. Requirements Engineering 1997; 2:1-22.

15. Atkinson C. The Soft Information Systems and Technologies Methodology (SISTeM): a contingency approach to integrated decision making and development. In: Altman G, Lamp J, Love P, Mandal P, Smith R, Warren M, editors. International Conference on Systems Thinking in Management; 2000 8-10 November 2000; Deakin University Geelong, Australia:Deakin University; 2000. p. 71-76.

16. Atkinson C. The ‘Soft Information Systems and Technologies Methodology’ (SISTeM) an actor network contingency approach to integrated development. European Journal of Information Systems 2000; 9:104-23.

17. Checkland P, Scholes J. Soft systems methodology in action. Chichester: John Wiley & sons; 1990.

18. Fennessy G, Burstein F. Using soft systems as a methodology for researching knowledge management problems in health care. In: Altman G, Lamp J, Love P, Mandal P, Smith R, Warren M, editors. International Conference on Systems Thinking in Management; 2000 8-10 November 2000; Deakin University, Geelong, Australia: Deakin University; 2000. p. 180-185.

19. Liebowitz J, editor. The knowledge management handbook. Boca Raton, FL: CRC Press; 1999.

20. Holsapple CW, Joshi K. Description and analysis of existing knowledge management frameworks. In: 32nd Hawaii International Conference on System Sciences HICSS; 1999; Island of Maui Hawaii: IEEE Computer Society Press; 1999.

21. Romberg D. Knowledge management market to hit $5 billion. Computing Canada 1998(November 9 1998).

22. Delphi Group. Insight research series; Knowledge Management Covered Vendors. In; http://www.delphigroup.com/pubs/insight_research-vendors.htm 1997.

23. Argyris C, Schon D. Organizational learning: a theory of action perspective. Reading: Addison-Wesley; 1978.

24. Coleman D. Groupware: collaboration and knowledge sharing. In: Liebowitz J, editor. Knowledge management handbook. Boca Raton, FL: CRC Press; 1999. p. 12.1 – 12.15.

Pos ini dipublikasikan di SOSIOLOGI KESEHATAN, SOSIOLOGI PENGETAHUAN. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s