Bagaimana Masyarakat bisa survive ? menurut Pandangan Durkheim dan Simmel

OLEH : CHASIDIN

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata “masyarakat” sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional. Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakat negara.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama. Lalu bagaimana masyarakat bias bertahan atau survive sampai saat ini?
Masyarakat Menurut Pandangan Durkheim
Ada beberapa terminologi sosiologi yang bisa dikatakan sebagai peta ke dalam pemikiran Durkheim tentang masyarakat, antara lain:
Fakta sosial (social facts/social reality). Lewis Coser menjelaskan bahwa yang dimaksud Durkheim mengenai fakta sosial adalah suatu ciri atau sifat sosial yang kuat yang tidak harus dijelaskan pada level biologi dan psikologi, tetapi sebagai sesuatu yang berada secara khusus di dalam diri manusia. Dengan kata lain, Ritzer menjelaskan bahwa fakta sosial, dalam teori Durkheim itu bersifat memaksa karena mengandung struktur-struktur yang berskala luas –misalnya hukum yang melembaga. Pengaruh fakta sosial itu pun tampak dalam karyanya mengenai bunuh diri di mana persoalan yang pokok di situ ialah apa motiv dan alasan seseorang melakukan tindakan tersebut, atau mengapa beberapa orang cenderung melakukan tindakan itu (bunuh diri). Dengan demikian jelas bahwa yang dimaksud dengan fakta sosial adalah bukan sesuatu yang tampak seperti itu saja, melainkan motiv-motiv atau dorongan sosial yang menimbulkan sesuatu itu terjadi di dalam realitas sosial.
Sui Generis. Dalam kerangka itu, istilah sui generis menjadi suatu terminologi sosial yang sangat kuat dalam teori Durkheim. Masih terkait dengan fakta sosial, semua gejala yang tampak itu bagi Durkheim tidak bisa dipahami secara sui generis, atau taken for granted, atau dipahami apa adanya secara langsung. Suatu fakta yang sui generis bukanlah suatu fakta yang harus diterima begitu saja, termasuk penyimpangan moral seseorang tidak mesti dipahami secara sui generis. Orang harus mampu melihat dorongan-dorongan psikologi, faktor-faktor biologis, dll, sehingga memunculnya suatu bentuk perilaku moral seperti itu.
Solidaritas sosial: secara mekanis dan organis. Kedua terminologi tadi perlu dipahami dalam kerangka teori-teori Durkheim mengenai masyarakat. Bagi Durkheim, fakta sosial itu memperlihatkan adanya berbagai cara dan usaha manusia untuk membangun suatu komunitas, atau apa yang disebutnya masyarakat. Tidak seperti Ferdinand Tonnies yang melihat pada bentuk gemeinschaft (kekerabatan) dan gesselschaft (persekutuan masyarakat luas), Durkheim melihat pada bagaimana pola masyarakat membangun persekutuan itu sendiri. Di sini menurut Durkheim ada dua corak orang membangun komunalitas, yaitu secara organik (solidaritas organik) dan secara mekanis (solidaritas mekanik). Solidaritas organik itu suatu bentuk cara membangun komunitas dengan mana melihat pada latarbelakang yang sama, dan terjadi secara spontan, tanpa melalui suatu rekayasa (social enginering). Berbeda dengan solidaritas mekanik yang terjadi karena faktor disengajakan atau diciptakan secara terencana.
Totemisme. Durkheim patut disebut sebagai pendiri “Sosiologi Agama”. Metodologi yang dikembangkannya dalam sosiologi memang masih menggunakan kerangka filsafat deterministik, dan karena itu cara berpikir matematis (mathematico scientific model) – seperti dikembangkan Imanuel Kant – menjadi acuan metodologi yang penting. Tetapi pengaruh psikologi dan pengetahuan moral membuat Durkheim lebih merespons suatu gejala kepercayaan (sense of beliefs) dalam diri masyarakat. Ada kecenderungan orang membangun suatu ideologi sosial dan dijadikan sebagai acuan dalam hidup. Ideologi itu dilembagakan dalam totem sebagai suatu simbol yang mampu membangun sikap percaya atau perasaan takut dan tunduk (taat). Di sini kita bisa melihat bagaimana Durkheim kembali merekonstruksi dasar-dasar keagamaan masyarakat, dan sebetulnya mengapa masyarakat itu bisa bersekutu dengan melihat pada suatu totem.
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap “fakta-fakta sosial”, istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
Dengan kohesi, Durkheim hendak menunjukkan bahwa solidaritas sosial baik secara mekanis maupun organis, telah membawa masyarakat pada suatu tahapan atau puncak tertinggi peradaban manusia, yaitu kohesi sosial, sebagai kondisi di mana setiap elemen sosial dalam masyarakat berfungsi memberikan standard norm bagi hidup bersama. Di sini penting kita mencatat berperannya lembaga-lembaga sosial dalam menjaga harmoni, termasuk misalnya di Maluku, dalam bentuk berperannya pranata Pela, Larvul Ngabal, Ain ni Ain, sebagai suatu fakta sosial dari adanya kehidupan yang setara di antara masyarakat.
Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas ‘organik’. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang ‘organik’, para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Di sini kita melihat bahwa bentuk solidaritas mekanik dan organik bisa terjadi karena ada suatu dorongan yang lebih kuat, dan menurut Durkheim hal itu disebut kesadaran kolektif (common consciousness). Kesadaran ini muncul hanya ketika orang: individu dan kelompok mampu mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan di antara mereka, lalu mampu mengorganisasi kerja dan peran sosialnya secara adil. Kesadaran kolektif itu juga yang menjadi alasan mengapa satu komunias tertentu terhisab ke dalam satu totem yang dipandang sebagai pusat hidup komunitas itu, atau stanar hukum bagi mereka.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
Durkheim sadar, bahwa seluruh proses perubahan dan pergeseran itu dapat terjadi ketika sistem regulasi sosial menjadi semakin longgar. Menjawab hal ini, Durkheim menunjuk contoh bunuh diri, sebagai akibat dari tidak berfungsinya regulasi sosial di dalam masyarakat secara baik. Jika dipahami dalam kerangka filsafatik, maka kecenderungan itu muncul karena sistem logika dan rasio mandeg akibat dari beragam pertentangan psikologis, biologis, politik, ekonomi, kebudayaan dan juga agama. Pertentangan-pertentangan itu mengakibatkan system regulasi sosial macet dan tidak ada mekanisme kontrol (control mechanism) di dalam masyarakat. Orang merasa bahwa tindakan bunuh diri merupakan salah satu cara membangun sistem regulasi sosial yang baru, dalam arti membangun suatu masyarakat tanpa hukum atau normless society.
Karena itu tidak heran jika setiap orang akan menyusun klaim dan memiliki motiv tersendiri dalam mengantisipasi perubahan dalam masyarakat modern/postmodern ini. Begitu pun lembaga-lembaga sosial akan memiliki dan membentuk sistem regulasi tersendiri dalam menanggulangi berbagai peran sosialnya. Mengikuti Durkheim, suatu perubahan yang terjadi tidak bisa diterima sui generis, melainkan perlu mengolah kesadaran kolektif untuk menata peran sosial dan membangun regulasi sosial yang lebih beradab

Masyarakat menurut Pandangan Simmel
Pada dasarnya Simmel mencoba memahami pandangan yang saling bertentangan antara faham realisme yang dikembangkan oleh Durkheim dengan nominalisme yang dikembangkan oleh Weber. Posisi realisme yang tercermin dalam pandangan Durkheim, menjelaskan bahwa struktur sosial mempunyai eksistensi tersendiri yang riil dan obyektif terlepas dari individu sehingga pandangan ini bercorak kolektivistik. Sedangkan pandangan nominalis Weber kebalikannya, bahwa individulah yang riil dan obyektif, sedangkan masyarakat tidak lebih daripada kumpulan individu dan perilakunya.
Namun bagi Simmel masyarakat tidak hanya kumpulan individu dan perilakunya saja, tetapi harus ada interaksi timbal-balik yang saling mempengaruhinya. Tanpa pola interaksi antar individu yang terus menerus masyarakat akan hilang. Interaksi timbal balik inilah yang disebut Simmel sebagai “sosiasi” sebagai jalan terbentuknya masyarakat.
Dalam mengembangkan konsep masyarakatnya, Simmel merujuk kepada doktrin-doktrin atomisme logis yang dikemukakan oleh Fechner di mana masyarakat lebih merupakan sebuah interaksi individu-individu dan bukan merupakan sebuah interaksi substansial. Dengan demikian, Simmel memfokuskan pada atom-atom empirik, dengan berbagai konsep dan individu-individu di dalamnya, serta kelompok-kelompok yang kesemuanya berfungsi sebagai suatu kesatuan. Masyarakat, dalam skala yang paling luas, justru ditemukan di dalam individu-individu yang melakukan interaksi. Simmel merujuk kepada konsep utamanya yang mencakup bentuk-bentuk sosiasi dari yang paling umum sampai yang paling spesifik. Bila kita dapat menunjukkan totalitas berbagai bentuk hubungan sosial dalam berbagai tingkatan dan keragaman, maka kita akan memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai ‘masyaraka”. Di sini, struktur-struktur yang spesifik di dalam kehidupan sosio-kultural yang sangat kompleks harus dihubungkan kembali, tidak saja dengan berbagai interaksi sosial tetapi juga dengan berbagai pernyataan psikologis. Teori yang dikemukakan Simmel mengenai realitas sosial terlihat dari konsepnya yang menggambarkan adanya empat tingkatan yang sangat mendasar. Pertama, asumsi-asumsinya yang merujuk kepada konsep-konsep yang sifatnya makro dan menyangkut komponen-komponen psikologis dari kehidupan sosial. Kedua, dalam skala luas, mengungkap masalah-masalah yang menyangkut berbagai elemen social terkait dengan hubungan yang bersifat inter-personal. Ketiga, adalah konsep-konsepnya mengenai berbagai struktur dan perubahan-perubahan yang terjadi dan terkait dengan apa yang dinamakannya sebagai spirit (jiwa, ruh, substansi), yaitu suatu esensi dari konsep sosio-kultural. Keempat, yaitu penyatuan dari ketiga unsur di atas yang melibatkan prinsip-prinsip kehidupan metafisis individu maupun kelompok.
Masyarakat adalah sebuah struktur yang kompleks. Di dalamnya terdapat banyak fenomena. Fenomena-fenomena tersebut di satu pihak menarik untuk sekedar dipaparkan secara deskriptif, di pihak lain menuntut sebuah penjelasan secara argumentatif. Masyarakat bisa dilihat dari beberapa sisi, misalnya individualitas, kolektivitas, demografi, dan lain-lain. Di dalamnya juga terdapat banyak elemen-elemen yang menarik untuk diamati seperti ruang, gender, uang, agama, dan lain-lain. Ada beberapa konsep kunci yang terlebih dahulu harus dibahas sebelum memasuki pembahasan khusus mengenai jumlah anggota. Konsep-konsep kunci tersebut adalah apriori-apriori yang ada dalam terbentuknya masyarakat:
• Gambaran yang diperoleh seseorang tentang orang lain dari kontak personal ditentukan oleh distorsi-distorsi tertentu yang bukan merupakan sekedar penipuan dari pengamalan yang tidak lengkap, penglihatan yang tidak sempurna, prasangka yang baik maupun buruk . Dengan kata lain, kita mengenal orang lain dengan melakukan generalisasi dan tipifikasi. Kita cenderung mengelompokkan orang, atau bergabung dengan suatu kelompok berdasarkan persepsi yang tidak sempurna. Namun dengan persepsi yang tidak sempurna itulah ikatan dalam kelompok terbentuk.
• Setiap elemen dari kelompok tidak tersosiasi seluruhnya, tetapi ada bagian yang lain. Setiap anggota tidak bisa larut seluruhnya di dalam masyarakat. Walaupun mereka memiliki kesamaan, tetapi mereka juga memiliki perbedaan-perbedaan. Individu berada di dalam sekaligus di luar masyarakat. Bagian yang lain ini sama pentingnya dengan bagian yang sama di dalam menentukan karakteristik masyarakat.
• Masyarakat adalah sebuah struktur dari elemen-elemen yang berbeda. Ini mirip dengan pernyataan yang kedua. Kesamaan di dalam setiap masyarakat tidak pernah total, bahkan dalam kondisi yang ekstrim seperti sebuah masyarakat totalitarian murni. Kesamaan hanya bisa mencakup hal yang terlihat, tetapi tiap-tiap anggota masyarakat tetap memiliki ruang yang tersembunyi, paling tidak di dalam benaknya.
• Setiap individu secara otomatis mengacu pada posisinya yang telah ditentukan di dalam masyarakat. Meskipun seorang individu masih mempertahankan karakter pribadinya, karakter sosialnyalah yang menjadi sebuah ideal bagi dirinya.
• Konsep berikutnya ini berkaitan dengan teori evolusi. Simmel melihat bahwa meskipun manusia sudah mengembangkan rasionalitas, namun ia masih dikendalikan oleh naluri-naluri dasarnya. Memang secara eksplisit, Simmel tidak menyatakan ini, namun dari beberapa argumen Simmel di dalam tulisan-tulisannya, Simmel memakai logika evolusi untuk menjelaskan masyarakat.
Kelima konsep kunci di atas akan dipakai untuk menjadi dasar analisis mengenai masyarakat.
Meskipun Simmel menolak model masyarakat yang bersifat organik dalam hal tertentu ia dipengaruhi oleh model evolusi Spencer mengenai kompeksitas sosial yang semakin bertambah. Evolusi ini berusaha menjelaskan perubahan masyarakat secara bertahap dari suatu struktur yang sederhana dengan diferensiasi yang rendah dan sangat homogen, kesuatu struktur yang lebih kompleks dengan diferensiasi serta heterogenitas yang tinggi. Publikasi Simmel yang pertama berjudul “On social differentiation” menjelaskan dasar-dasar pembentukan kelompok yang berubah dan keterlibatan sosial dari individu.
Yang banyak memberikan pengaruh pada Simmel adalah seorang ahli filsafat Jerman yang bernama Immanuel Kant. Kant mengembangkan suau perspektif filosofis yang didasarkan pada pembedaan antara persepsi manusia mengenai gejala dan hakikat dasar dari benda-benda seperti mereka berada dalam dirinya sendiri. ia memperlihakan bahwa kita tidak pernah dapat mengetahui benda seperti benda itu berada dalam dirinya sendiri, tetapi hanya karena mereka muncul menurut kategori-kategori kesadaran atau pikiran tertentu yang bersifat a priori. Menurut Kant ada kategori pikiran fundamental tertentu yang bersifat a priori (ruang, waktu, sebab dan seterusnya) yang tidak didasarkan pada rangsangan inderawi tetapi membentuk kesadaran subjektif kita akan dunia empiris diluar kita.
Begitu Simmel menerapkan model berfikir ini tentang kenyataan sosial, ia menyadari bahwa perkembangan pengetahuan sosiologi meliputi lebih daripada hanya sekedar mencatat hukum-hukum universal yang jelas tersingkap oleh data empiris. Sebaliknya pikiran manusia dalam menjalankan fungsi memilih, mengorganisasi pada waktu menginterpretasikan data empiris, ia menggunakan kriterianya sendiri dalam proses ini yang tidak terdapat dalam fakta empiris itu sendiri.
Simmel juga menganalisa konflik dialektik antara bentuk-bentuk sosial yang sudah mapan yang tercermin dalam institusi-institusi yang ada dan pola-pola budaya serrta proses hidup itu sendiri yang secara terus menerus harus menciptkan bentuk baru bagi pengungkapannya sendiri. Perhatian Simmel tidak hanya pada sosiologi, ia menulis banyak hal dan member kuliah dalam bidang filsafat, etika, sejarah, kritik budaya umumnya , seni dan kritik sastra khususnya.
• Bagaimana munculnya masyarakat
Munculnya masyarakat menurut Simmel dikenal dengan istilah vergesellschaftung yang secara harfiah berarti “proses terjadinya masyarakat”, atau disebut juga dengan istilah “Sosiasi” (sociation). Jadi munculnya masyarakat terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang mana dalam proses tersebut individu akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Masyarakat lebih daripada jumlah individu yang membentuknya lalu ditambah dengan pola interaksi timbal balik dimana mereka saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Akan tetapi masyarakat tidak akan pernah ada sebagai suatu benda objektif yang terlepas dari anggota-anggotanya. Kenyataan itu terdiri dari kenyataan proses interaksi timbal balik. Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis (yang percaya hanya pada individu yang rill) dan pandangan realis atau teori organik (yang mengemukakan bahwa kenyataan sosial itu bersifat independen dari individu yang membentuknya).
Contoh terbentuknya masyarakat menurut Simmel, misalnya sejumlah individu yang terpisah satu sama lain atau berdiri sendiri-sendiri saja, yang sedang menunggu dengan tenang di terminal lapangan udara tidak membentuk jenis masyarakat atau kelompok. Tetapi kalau ada pengumuman yang mengatakan bahwa kapal akan tertunda beberapa jam karena tabrakan, beberapa orang mungkin mulai berbicara dengan orang disampingnya, dan disanalah muncul masyarakat. Dalam hal ini masyarakat (sosietalisasi) yang muncul akan sangat rapuh dan semetara sifatnya, dimana ikatan-ikatan interaksi timbal baliknya itu bersifat sementara saja.
Proses munculnya masyarakat sangat banyak macamnya, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing ditempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosiasi ini mengubah suatu kumpulan individu saja menjadi satu masyarakat (kelompok / sosiasi). Masyarakat ada pada tingkat tertentu dimana dan apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.
• Apa beda hubungan Diad dan Triad? Bagaimana dengan hubungan kelompok keempatan dan seterusnya?
Adapun yang membedakan antara hubungan diad dan triad adalah jumlah orang yang terlibat dalam interaksi tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Simmel begitu jumlah orang yang terlibat dalam interaksi berubah, maka bentuk interaksi merekapun berubah dengan teratur dan dapat diramalkan.
Diad :
Bentuk duaan memperlihatkan ciri khas yang unik sifatnya yang tidak terdapat dalam satuan sosial apapun yang lebih besar. Hal ini muncul dari kenyataan bahwa masing-masin individu dikonfrontasikan oleh hanya seorang yang lainnya, tanpa adanya suatu kolektivitas yang bersifat superpersonal (suatu kolektivias yang kelihatannya mengatasi para anggota individu). Oleh karena itulah pengaruh yang potensial dari seseorang individu terhadap satuan sosial lebih besar daripada dalam tipe satuan sosial apapun lainnya. Dilain pihak, kalau seseorang individu memilih untuk keluar dari suatu kelompok duaan maka satuan sosial itu sendiri akan hilang lenyap. Sebaliknya, dalam semua kelompok lainnya, hilangnya satu orang anggota tidak ikut menghancurkan keseluruhan satuan sosial itu.
Keunikan bentuk duaan yang lain adalah dengan adanya istilah berdua itu sepasang, bertiga menjadi kerumunan (two is company, three is a crowd). Semua orang percaya bahwa rahasia dapat dijaga oleh satu orang, dan tidak lebih dari itu. Karena setiap orang dalam kelompok duaan hanya berhadapan dengan satu orang saja, maka kebutuhan tertentu, keinginan dan karakteristik pribadi dari teman lain itu dapat ditanggapi dengan lebih sunguh-sungguh daripada yang mungkin dapat dibuat dalam kelompok yang lebih besar. Akibatnya, hubunga duaan menjadi intim dan unik secara emosional yang tidak mungki terjadi dalam bentuk sosial lainnya. Hal ini menimbulkan sifat yang ekslusivistik kepercayaan bahwa kehidupan yang dihayati oleh dua orang tidak dapat dihayati bersama orang lain, dan tidak ada hubungan lain yang memiliki tingkat kekayaan emosional yang sama dengan itu.
Hubungan duaan tidak selalu disertai oleh perasaan-perasaan positif. Dalam situasi konflik, apapun masalah dan sebab musababnya, hubungan yang sangat intim seringkali membuat konflik malah menjadi lebih parah. Masalah konflik yang kelihatannya sepele bagi orang luar, ditanggapi dengan sangat emosional. Sesungguhnya keterbukaan mereka satu sama lain pada tingkat kepribadian yang sangat dalam membuat mereka mudah saling menyerang yang berhubungan dengan masalah kepribadian ini.
Triad :
Triad disini diartikan sebagai pihak ketiga. Salah satu pokok pikiran Simmel yang terkenal adalah diskusinya mengenai berbagai peran yang dapat dilakukan oleh pihak ketiga. Peran-peran ini yang tak mungkin kita temukan dalam bentuk duaan, meliputi penengah, wasit, tertius gaudens (pihak ketiga yang menyenangkan) dan orang yang memecah belah dan menaklukan (divider and conqueror). Dalam berbagai situasi, peran penengahlah yang muncul karena ikata antara kedua anggota dalam bentuk duaan itu didasarkan terutama pada hubungan mereka bersama pada pihak ketiga. Artinya, ikatan duaan bersifat tidak langsung. Misalnya, hubungan antara seorang ibu mertua dengan menantu perempuan didasarkan pada hubungan bersamanya dengan anak-suami yang mempunyai hubungan dengan keduanya secara terpisah. Namun dalam banyak situasi lainnya, kedua anggota duaan itu langsung berhubungan satu sama lain dan juga dengan pihak ketiga. Atau contoh lain, misalnya suami istri berhubungan satu sama lain, dan juga mempunyai ikatan bersama terhadap anak-anaknya. Karena alasan inilah, anak-anak sering merupakan faktor yang memperkuat perkawinan, artinya mereka memberikan suatu ikatan tambahan lagi pada kedua pasangan itu.
Hubungan keempatan atau lebih :
Dengan adanya tambahan orang lebih banyak lagi dalam suatu hubungan yang diperluas seperti hubungan keempatan, merupakan suatu kelompok yang terdiri dari empat orang adalah kelompok yang paling kecil dimana dapat terjadi pembentukan koalisi dengan ukuran yang persis sama. Kelompok yang terdiri dari lima orang adalah kelompok yang paling kecil dimana dapat terjadi pembentukan koalisi dengan ukuran yang tidak sama.
Karena kelompok tumbuh menjadi lebih besar, kemungkinan pembentukan sub kelompok internal itu bertambah besar. Kalau hal ini terjadi bentuk-bentuk sosial yang sesuai dengan jumlah yang terdapat dalam berbagai sub kelompok itu akan menjadi dominan.
Jumlah dalam Masyarakat
Jumlah adalah sebuah tema yang memegang peranan tertentu di dalam sosiologi Simmel. Mengenai perkara jumlah sendiri, bisa dilihat paling tidak dalam dua hal. Pertama, jumlah yang menjadi jumlah subbagian dari kelompok yang lebih besar atau totalitas. Pembagian seperti ini terjadi biasanya pada saat jumlah kelompok sudah terlalu besar. Jumlah menjadi semacam fenomena antara yang menghubungkan individu dan totalitas. Batasan antara sedikit dan banyak dalam jumlah bukanlah suatu batasan yang jelas. Ini mirip dengan masalah seberapa banyak bulir beras dapat dianggap satu onggokan beras. Kita tidak bisa menentukan dengan tepat berapa bulir beras untuk membentuk satu onggokan beras, namun kita tahu persis apa yang dinamakan seonggok beras. Begitu pula halnya dengan jumlah.
Kedua, mengenai signifikansi jumlah anggota adalah munculnya sifat-sifat tertentu di dalam masyarakat di saat ia mencapai jumlah tertentu. Ini bisa dipandang dari dua sisi: yang pertama, ada karakteristik tertentu yang tidak bisa muncul jika jumlahnya tidak terpenuhi, entah jumlah maksimum atau jumlah minimun; yang kedua, karakteristik kelompok tertentu bisa dimodifikasi dengan mengubah jumlahnya, entah dengan menambah atau mengurangi.
Untuk melihat karakteristik kelompok kita bisa memulainya dengan mengkaji beberapa jenis masyarakat baik dalam kelompok besar maupun kecil.
Kelompok dengan Jumlah Kecil
Simmel memberikan beberapa contoh dalam kajiannya tentang kelompok kecil, yaitu masyarakat sosialis, sekte religius dan aristokrasi.
Simmel melihat bahwa sosialisme, dalam arti sebuah masyarakat sosialis murni, adalah sesuatu yang tidak mungkin. Ia hanya mungkin dalam kelompok kecil. Kelompok kecil mampu saling mengamati anggotanya secara langsung. Distribusi dan juga pembagian hasil kerja terlihat secara langsung sehingga interaksi dapat terjadi, dan masyarakat dapat dipertahankan. Di dalam kelompok yang lebih besar, masyarakat hanya bisa dipertahankan dengan pembagian kerja yang jelas dan kompleks. Alasannya bukan sekedar alasan ekonomis, melainkan pembagian kerja adalah salah satu cara untuk mempertahankan interaksi dan ketergantungan antar anggota kelompok. Tetapi dengan semakin detailnya pembagian kerja, anggota menjadi semakin terindividualisasi. Semakin terindividualisasinya anggota akan menghancurkan sosialisme yang diinginkan dari semula.
Contoh yang bisa dipakai untuk menjelaskan sekte agama adalah memakai contoh kelompok fundamentalis. Kelompok fundamentalis adalah sebuah masyarakat yang dibentuk sebagai sebuah reaksi atas perkembangan masyarakat pada umumnya. Ia dilahirkan dari sebuah definisi negatif atau sebuah negasi. Mereka mendefinisikan dirinya sebagai “yang lain” dari masyarakat di sekitarnya. Makna yang “di sekitarnya” sendiri bisa diartikan dua macam: spasial, yaitu lain dari masyarakat yang bermukim di sekitarnya; dan temporal, yaitu memandang dirinya lain dari masyarakat yang hidup di zaman ini.
Contoh yang lain adalah kelompok Mennonite atau yang lebih dikenal dengan sebutan masyarakat Amish. Mereka membedakan dirinya dengan pakaian, pekerjaan, dan gaya hidup yang berbeda. Kesamaan di antara mereka sekaligus menjadi pembeda dengan kelompok di luar mereka, dan demikian menjadi pengikat masyarakat. Namun keberadaan mereka bisa dipertahankan justru karena mereka secara ekonomis disokong oleh masyarakat di sekeitar mereka. Mereka bisa bertahan karena mereka punya fungsi (atau dalam bahasa Simmel: relasi) di dalam masyarakat yang lebih luas.
Aristokrasi adalah sebuah contoh lain yang unik untuk kelompok yang kecil. Aristokrasi bisa dipertahankan karena mereka dengan sengaja membuat sistem yang membatasi jumlah anggotanya. Pembatasan bisa dilakukan dengan perkawinan sedarah dan warisan aristokrat hanya pada anak pertama. Dengan jumlah yang sedikit, mereka bisa saling mengawasi, dan hubungan darah dapat ditelusuri dengan mudah, dan itu menjadi pengikat bagi kelompok mereka. Jika jumlah mereka menjadi terlalu besar, hak istimewa mereka menjadi hilang, dan keningratan mereka menjadi tidak bernilai.
Pada semua contoh di atas, jumlah kecil menjadi faktor penentu bagi masyarakat. Jika jumlah mereka bertambah, keistimewaan mereka yang memang dihasilkan dari jumlah yang kecil menjadi hilang.
Kelompok dengan Jumlah Besar
Dari penjelasan sebelumnya terlihat bahwa sebuah kelompok akan berkurang militansinya atau radikalismenya jika jumlahnya bertambah. Namun ini seperti bertentangan dengan fenomena amuk massa misalnya. Untuk itu diperlukan penjelasan lain.
Unsur yang bisa menyatukan sebuah kelompok seperti pada penjelasan sebelumnya adalah unsur yang sama yang dimiliki oleh semua anggota kelompok. Seiring dengan membesarnya jumlah anggota, adalah sebuah kesimpulan logis kalau unsur yang sama adalah unsur yang paling sederhana.
Ada dua faktor untuk menjelaskan unsur yang paling sederhana tersebut. Yang pertama adalah argumen evolusi yang melihat manusia dari perkembangan evolusinya. Yang kedua adalah dari kesimpulan logis bahwa lebih mudah untuk tidak setuju pada suatu hal daripada setuju pada suatu hal.
Faktor yang pertama: unsur yang paling sederhana dalam manusia adalah unsur yang paling mendasar dalam manusia itu sendiri. Dari sudut evolusionis, unsur tersebut adalah insting manusia untuk mempertahankan hidup. Unsur tersebut dapat muncul dalam dua bentuk: agresi dan aversi. bila ia melihat sesuatu yang mampu ia taklukkan, ia akan menyerang; bila ia tidak yakin menang, ia akan menghindar. Di dalam emosi, ia muncul sebagai rasa berani atau takut.
Faktor yang kedua: unsur yang bisa menyatukan kelompok adalah unsur negatif. Lebih mudah untuk mencari ketidaksetujuan, karena orang bisa tidak setuju dengan berbagai alasan. Misalnya dalam sebuah demonstrasi menolak pemerintahan yang otoriter, massa bisa disatukan dengan berbagai alasan yang berbeda: karena mereka tertindas, karena mereka adalah oportunis politik, karena mereka peduli dengan mereka yang tertindas, atau sekedar takut untuk tidak ikut serta.
Kedua faktor tersebut bersifat saling menguatkan. Unsur negatif dan sederhana umumnya digerakkan oleh emosi yang paling mendasar dalam manusia, yaitu ketakutan dan amarah, karena itu ada pada setiap manusia. Sebuah pemikiran rasional tidak bisa menggerakkan dari profesor sampai pedagang asongan, tetapi bila ketakutan mereka dipicu, mereka menjadi sebuah kelompok yang satu.
Karakteristik Kelompok Seiring Pertambahan Jumlah
Jumlah adalah sebuah penentu yang mengubah karakteristik dari sebuah kumpulan. Jika ia sudah mencapai jumlah cukup untuk menjadi sebuah kelompok, karakteristik kumpulan orang-orang tersebut berubah. Jika hanya dua atau tiga orang saja berkumpul misalnya, ia belumlah menjadi sebuah kelompok, dan sifat-sifat yang biasanya muncul dalam kelompok belumlah muncul. Tetapi bila jumlahnya mulai mencapai katakanlah dua puluh atau tiga puluh orang, karakter dari sebuah kelompok mulai muncul. Di mana batas angka dari sekedar kumpulan individu atau sebuah kelompok bukanlah perkara mudah. Bila jumlahnya sudah mencukupi, muncullah sifat baru pada kelompok, yang sebelumnya tidak muncul pada sekedar kumpulan individu. Maka matematikanya adalah 1 + 1 + 1 + … + 1 tidaklah sama dengan jumlah aritmatikanya.
Contoh yang digunakan untuk menjelaskan ini ada tiga. Yang pertama jika di dalam satu orang miliuner di antara penduduk 10 ribu orang, ia tidak akan sekuat jika ada 50 miliuner di antara 500 ribu penduduk. Yang kedua adalah dalam kasus parlemen. Jika dalam sebuah partai beranggotakan dua puluh orang, dan empat diantaranya menyatakan mosi tidak setuju, ia akan kalah efektif dibandingkan dengan sepuluh orang yang tidak setuju di dalam lima puluh anggota partai. Yang ketiga adalah dalam ketentaraan. Jika katakanlah jumlah tentara adalah satu persen dari jumlah populasi, maka lebih mudah bagi 100 ribu tentara untuk mengendalikan 10 juta penduduk, dibandingkan dengan 1000 tentara untuk mengendalikan 100 ribu penduduk, atau satu tentara untuk mengendalikan seratus penduduk. Di dalam ketiga kasus di atas, walaupun secara rasio perbandingannya sama, namun jumlah yang lebih besar lebih efektif dibandingkan dengan jumlah yang lebih kecil.
Penjelasannya adalah sebagai berikut. Begitu anggota mencapai jumlah tertentu, pembagian kerja dimungkinkan. Akibat dari pembagian kerja tersebut, efisiensi dalam pelaksanaan tugas meningkat. Di dalam ekonomi kita mengenal adanya pembagian kerja dan skala ekonomis yang mampu menaikkan jumlah produksi. Hal yang sama juga berlaku di dalam setiap masyarakat.
Kohesi dalam kelompok besar dan kecil
Ada dua hal yang menentukan kohesi kelompok, yaitu kesamaan antar anggotanya, dan perbedaannya dengan anggota di luar kelompoknya. Kesamaan ini tidak perlu kesamaan secara persis, melainkan cukup dipersepsikan sama oleh para anggotanya (lihat konsep kunci pertama).
Semakin kecil jumlah anggota kelompok, semakin besar kesamaan antar anggota kelompok, ceteris paribus. Semakin besar jumlah anggota kelompok, semakin besar perbedaan antar anggota kelompok. Jumlah yang kecil, karena persamaannya yang masih besar belum membentuk sebuah karakteristik baru, karena masih terlalu terpusat pada yang tunggal. Karakteristik yang muncul umumnya tidak jauh berbeda dengan karakter anggota penyusunnya.
Setelah jumlah anggotanya bertambah, dan menunjukkan perbedaan yang semakin besar, karakteristik baru sebagai sebuah “masyarakat” muncul. Semakin besar sebuah kelompok, harus dicari sebuah pengikat yang semakin sederhana, “the lowest common denominator.” Tanpa itu kelompok tidak bisa dipertahankan. Tentu saja, dengan persamaan yang semakin sedikit dan sederhana, ini juga berarti perbedaan antar individu anggota kelompok semakin besar, dan ini justru membuat mereka menjadi sebuah masyarakat.
Kohesi pada kelompok kecil lebih mudah dipertahankan karena dalam jumlah anggota yang kecil, persamaan lebih mudah dicari. Kohesi kelompok menjadi isu yang lebih besar bagi kelompok besar dibandingkan pada kelompok yang kecil. Kelompok kecil lebih mudah mempertahankan keutuhan karena masing-masing anggota bisa melihat anggota yang lain dengan jelas. Pada kelompok yang besar, keutuhan itu tidak lagi terlihat dengan jelas, melainkan menjadi sesuatu yang lebih formal. Keutuhan bisa dilihat dari keanggotaan formal misalnya. Simmel memberikan contoh pada serikat buruh. Jika ada satu pekerja yang tidak menjadi anggota serikat buruh, itu bisa dilihat sebagai ancaman bagi kelompok, karena telah menodai keutuhan kelompok. Bisa jadi pekerja yang tidak ingin bergabung sebenarnya tidak tahu menahu dengan kepentingan kelompok buruh dan tidak bermaksud melawan mereka. Tetapi apa yang tampak dari luar adalah adanya ketidakutuhan, dan itu cukup untuk menjadi suatu tanda ketidakutuhan kelompok.
Kohesi kelompok besar dan kecil juga bisa dilihat dari bentuk ikatannya. Ikatan ini bisa dilihat dari evolusinya. Di dalam masyarakat primordial, ikatan masyarakat biasanya dijalankan di dalam sebuah adat istiadat. Adat istiadat ini mencakup seluruh sektor kehidupan masyarakat dari perkawinan, masalah kriminal, keadilan sosial, dan lain-lain.
Dari titik ini masyarakat bisa menjadi semakin individual atau semakin kolektif. Pada masyarakat dengan jumlah yang besar, individu tidak bisa diharapkan bisa taat pada adat istiadat tanpa adanya sangsi yang lebih jelas dan tegas. Hukum yang jelas lebih mudah dilaksanakan sebagai alat pengawasan dan juga pengikat kelompok dalam jumlah yang besar. Di satu pihak, hukum adalah perangkat yang lebih sederhana dari adat istiadat, sehingga bisa menjadi pengikat kelompok yang lebih besar. Di lain pihak, hukum memberikan ruang lebih kepada individu untuk tampil secara berbeda, lebih longgar daripada aturan adat istiadat. Dengan demikian hukum mampu menjalankan fungsinya sebagai pengikat masyarakat dengan jumlah yang besar.
Pada kelompok yang lebih kecil, individualitas lebih dihargai. Norma adat istiadat bergerak ke arah moralitas individual yang otonom. Moralitas lahir dari konfrontasi antar pribadi yang dimungkinkan di dalam kelompok kecil. Adat istiadat menjadi terlalu kaku di dalam kelompok kecil ini, karena ia dengan mudah dapat diperbaharui dengan perjanjian baru antar anggotanya.
Dari sini terlihat ada sebuah paradoks. Di satu pihak massa dalam jumlah yang besar diikat oleh sesuatu yang sebenarnya tidak begitu bernilai. Sering kali ikatannya hanya ikatan emosional belaka. Namun mereka memiliki kekuatan yang besar karena mampu diikat oleh hal yang sederhana tersebut. Di lain pihak kelompok kecil memiliki militansi yang lebih tinggi karena mempunyai kesamaan yang lebih mendasar dari kelompok yang besar. Ikatan yang menyatukan mereka umumnya lebih bernilai, namun secara kekuatan mereka tidak berdaya dihadapan massa yang lebih besar.

Referensi
Sanderson, SK., Makro Sosiologi: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial (edisi kedua), PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Simmel, Georg. How is Society Possible? Dalam American Journal of Sociology vol.16. 1910-1911
____________. The Sociology of Georg Simmel. New York: Free Press, 1950
____________. Simmel on Culture. London: Sage Publication, 1997
Ritzer, G. dan Goodman, DJ., Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana, 2003.
Turner, J. H., The Structure of Sociological Theory (sixth edition), Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company, 1998.
Durkheim, The Division of Labor in Society, (1893) The Free Press reprint 1997.
Durkheim, Rules of Sociological Method, (1895) The Free Press 1982.
Durkheim, Suicide, (1897), The Free Press reprint 1997.
Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life, (1912, English translation by Joseph Swain: 1915) The Free Press, 1965.
Steven Lukes: Emile Durkheim: His Life and Work, a Historical and Critical Study. Stanford University Press, 1985.

Pos ini dipublikasikan di TEORI SOSIOLOGI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s