SUICIDE (1897)

SUICIDE (1897)
Oleh : Chasidin Fathurie (S2 – Sosiologi Universitas Indonesia)
NPM 1006745700

Pendahuluan
Buku Suicide adalah kerja utama ketiga Durkheim dan penting, karena itu adalah upaya pertama untuk membawa empirisisme ke Sosiologi. Empirisme akan memberikan penjelasan sosiologis untuk fenomena seperti bunuh diri, yang secara tradisional dianggap sebagai kajian psikologis atau biologis. Durkheim mendefinisikan peran Sosiologi sebagai sebanding dengan Biologi dalam ilmu pengetahuan alam. Kedua disiplin mempelajari karakteristik normal atau abnormal fenomena, yang mempengaruhi kekuatan, atau kelemahan dari organisme. Sosiologi fokus utama adalah untuk “studi fakta-fakta eksternal kepada individu”. Ketika istilah bunuh diri datang ke pikiran, kita tidak secara otomatis menghubungkannya dengan Sosiologi. Bunuh diri bisa dikatakan menjadi kondisi mental, yang sebagian besar dicadangkan untuk disiplin psikologi. Durkheim melihat bagaimana kondisi mental ini dianggap dapat dibawa ke Sosiologi dengan melihat unsur-unsur seperti keluarga, pekerjaan dan hubungan sosial, yang semuanya merupakan bagian dari masyarakat dan akar Sosiologi. Elemen ini “selalu sezaman dengan beberapa krisis yang sementara mempengaruhi negara sosial”. Melihat kelompok-kelompok masyarakat, Durkheim mencatat bahwa setiap “populasi memiliki tingkat bunuh diri sendiri, dan bahwa tingkat ini lebih konstan daripada kematian umum”.
Buku yang terbit 1897 atau dua tahun setelah buku The Rules of Sociological Method ini seakan menegaskan bagaimana kerja riset berbasis ilmu sosiologi dengan pendekatan kuantitatif-obyektivis yang diusung oleh Durkheim. Diperkaya dengan data yang kuat tentang gejala dan praktik bunuh di berbagai Negara dan dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Metode ini juga mengukuhkan bahwa gejala sosial harus didekati dengan pendekatan positivistic Durkheimian. Selain itu, secara metodologis kerangka berfikir Durkheim mengenai fakta sosial yang harus dijelaskan oleh fakta sosial lainnya, benar-benar diterapkan dengan baik serta merupakan bentuk konsistensi cara berfikir mengenai fakta sosial sebagai ‘thing’.
Bab 1 : Bunuh diri dan Psikopatik
Buku ini ingin meneliti sejauh mana dalam masyarakat modern masih tergantung dan berada di bawah pengaruh masyarakat. Definisi bunuh diri menurut Durkheim adalah: “bunuh diri istilah diterapkan pada semua kasus kematian yang diakibatkan secara langsung atau tidak langsung dari tindakan positif atau negatif dari korban sendiri, yang dia tahu akan menghasilkan hasil ini” (Suicide, 1982 : 110). Definisi ini digunakan untuk memisahkan bunuh diri benar dari kematian disengaja. Dia kemudian mengumpulkan statistik tingkat bunuh diri beberapa negara Eropa, yang terbukti relatif konstan antara negara-negara dan di antara demografi yang lebih kecil dalam suatu negara. Dengan demikian, kecenderungan kolektif terhadap bunuh diri ditemukan.
Durkheim dalam buku ini ingin membedakan fenomena bunuh diri yang terjadi pada individu seperti yang ada dalam psikologi dengan yang terjadi karena faktor diluar individu. Sesuai dengan aturan metode sosiologis yang dibuatnya, Durkheim ingin membuktikan bahwa fakta sosial adalah penyebab fenomena bunuh diri dan ini membuktikan tesisnya tentang metodologinya terhadap masalah sosial. Meskipun fenomena bunuh diri ,juga merupakan fenomena individu, namun secara umum, Durkheim melihat peristiwa bunuh diri dapat di generalisasikan sebagai peristiwa yang disebabkan keterasingan. Dalam metodologi penelitiannya, Durkheim mengelompokkan fakta bunuh diri sesuai dengan kararkternya. Sebab apabila fakta bunuh diri hanya dilihat dalam sisi pelakunya, maka akan mempersulit hipotesa yang dikemukakannya karena akan terjadi bias, karena akan menemukan terlalu banyak faktor. Oleh karena itu Durkheim menjelaskan batasan bunuh diri sebagai berikut, “ Suicide is applied to all cases of death resulting directly or indirectly from positive or negative act of the victim himself, which he knows will produce this result ”
Ada dua situasi yang menyebabkan bunuh diri, yaitu berasal dari faktor internal, yang kedua bunuh diri harus dijelaskan dengan fakta sosial yang lainnya atau berasal dari lingkungan eksternal. Pada saat Durkheim meneliti masalah bunuh diri, kasus ini lebih banyak dianggap sebagai kasus yang disebabkan oleh penyakit mental, yang sering disebut sebagai monomania, dan orang berpenyakit gila. Namun dalam kenyataannya, beberapa prinsip yang mendasari sebab bunuh diri ini sangat berlawanan dengan data statistic yang ada, ketika masalahnya bukan berasal dari gejala klinis yang dapat dihubungkan motifnya. Ternyata bunuh diri secara statistik tidak dapat dikatakan sebagai monomania dan konsekuensinya bukan merupakan suatu penyakit.
Bab 2, 3, 4 : Bunuh diri dan hubungannya dengan faktor-faktor pendorong.
Durkheim sebagai sosiolog melakukan pengujian dan berbeda dengan pendekatan psikologi dan antropologi. Dengan menggunakan statistik, Durkheim mampu mengeluarkan faktor-faktor yang tidak relevan dalam melihat bunuh diri sehingga sosiologi menjadi mandiri sebagai sebuah ilmu serta membuat perspektif baru yang sekarang disebut sebagai paradigm/perspektif positivisme. Meskipun dalam data tersajikan tingkat bunuh diri dari berbagai Negara yang diteliti dalam pengelompokkan berdasarkan ras dan keturunan, namun menurut Durkheim tidak cukup untuk membuktikan hubungan fakta sosial bunuh diri yang dapat digeneralisasikan dengan faktor-faktor ini. Begitu juga dengan faktor alam, dengan melakukan penelitian terhadap temperature beberapa negara yang diambil contohnya oleh Durkheim, ternyata hipotesa inipun oleh Durkheim tidak dapat menggeneralisasikan tingkat bunuh diri yang terjadi disebabkan karena faktor alam. Sementara itu, Durkheim menjelaskan bahwa meskipun ada faktor utama yang secara psikologis mendorong tindakan bunuh diri secara sosial didapat dari fakta sosial secara umumnya yang dilakukan dengan cara meniru. Namun tidak dapat digeneralisasikan dalam kelompok sebagai fakta sosial Jadi meniru adalah merupakan gejala yang pasti dari psikologi pada individu saja.
Buku 2
Tipe-tipe Sosial dan Sebab-sebab Sosial
Bab 1 : Bagaimana mengungkapkan Tipe dan sebab-sebab sosial ?
Menurut Durkheim dalam mengungkapkan tipe sosial dari bunuh diri dimulai dari sebab yang mempengaruhinya bukan dengan melakukan klasifikasi bunuh diri secara tidak langsung dari karakteristik permulaan yang dapat diuraikan. Kita bisa melihat dari kondisi sosialnya dan mengelompokkannya dalam kelompok yang terpisah. Durkheim memperlihatkan cara menemukan kasus-kasus yang ada adalah dengan data statistik bunuh diri yang terjadi dihampir semua negara yang memperlihatkan motif bunuh diri karena sebab diluar dirinya.
Hasilnya, Durkheim menemukan antara lain:
1. Fakta bunuh diri rata-rata tinggi pada janda, single, atau mereka yang bercerai daripada mereka yang menikah;
2. Fakta bunuh diri juga rata-rata lebih tinggi pada mereka yang tidak memiliki anak daripada yang mempunyai anak;
3. Fakta bunuh diri juga rata-rata lebih tinggi pada penganut agama Protestan daripada Katolik;
4. Petugas pemeriksa kematian di Negara yang penganut Katoliknya tidak memiliki catatan mengenai peristiwa bunuh diri ini, karena perbuatan ini termasuk dosa.
Durkheim juga menangkap fakta sosiologis lain, di mana bunuh diri mungkin dijadikan sebagai perlawanan terhadap ikatan sosial. Ikatan atau aturan sosial adalah merupakan cara untuk membangun integrasi sosial dan aturan sosial.
Tipe-Tipe Bunuh Diri :
1. Bunuh diri Egoistik (egoistic suicide).
Ini adalah jenis bunuh diri yang terjadi di mana tingkat integrasi sosial yang rendah dalam masyarakat. Individu tidak cakap melakukan pengikatan diri dengan kelompok-kelompok sosial (bergaul/berinteraksi dengan kelompok sosial/masyarakat). Akibatnya adalah nilai-nilai, berbagai tradisi, norma-norma serta tujuan-tujuan sosial pun sangat sedikit untuk dijadikan panduan hidupnya. Dalam masyarakat modern, kesadaran kolektif lemah berarti bahwa orang tidak dapat melihat arti yang sama dalam hidup mereka, dan mengejar kepentingan individu tak terkendali dapat menyebabkan ketidakpuasan yang kuat. Salah satu hasil ini dapat bunuh diri. Individu yang sangat terintegrasi ke dalam struktur keluarga, kelompok agama, atau beberapa jenis lain dalam kelompok integratif cenderung menghadapi masalah ini, dan yang menjelaskan tingkat bunuh diri lebih rendah di antara mereka. Dalam masyarakat tradisional, dengan solidaritas mekanis, ini tidak mungkin menjadi penyebab bunuh diri. Ada kesadaran kolektif yang kuat memberikan seseorang atau individu arti/makna bagi kehidupan mereka.
Bagi Durkheim, ini adalah fakta social. Seorang actor atau individu tidak pernah bebas dari kekuatan kolektivitas: ‘Namun seorang pria individual mungkin, selalu ada sesuatu yang tersisa kolektif – depresi sangat dan melankolis yang dihasilkan dari individualisme berlebihan yang sama.
“Actors are never free of the force of the collectivity: ‘However individualized a man may be, there is always something collective remaining – the very depression and melancholy resulting from this same exaggerated individualism.'” Also, on p. 214 of Suicide, Durkheim says “Thence are formed currents of depression and disillusionment emanating from no particular individual but expressing society’s state of disillusionment.” Durkheim notes that “the bond attaching man to life relaxes because that attaching him to society is itself slack. … The individual yields to the slightest shock of circumstance because the state of society has made him a ready prey to suicide.” (Suicide, pp. 214-215).

2. Bunuh diri altruistik.
Ini adalah jenis bunuh diri yang terjadi ketika integrasi terlalu besar, terlalu kuat kesadaran kolektif, dan “individu dipaksa menjadi bunuh diri.”. Integrasi mungkin bukan penyebab langsung bunuh diri di sini, tetapi perubahan sosial yang sangat tinggi dapat mengakibatkan integrasi ini. Pada tipe kedua, individu secara ekstrim melekat pada masyarakat dan karena hal inilah dia tidak lagi memiliki kehidupan pribadinya. Dengan integrasi sosial yang terlampau kuat, individu tidak lagi dipandang kedudukannya, namun justu dipaksa untuk tunduk/patuh sepenuhnya pada tuntutan kelompok-kelompok. Contoh : Para pengikut Jim Jones dari Kuil Rakyat atau anggota Kuil Solar, seperti juga bunuh diri ritual di Jepang. Contoh dalam masyarakat primitif yang dikutip oleh Durkheim adalah bunuh diri dari mereka yang sudah tua dan sakit, bunuh diri perempuan setelah kematian suami mereka, dan bunuh diri pengikutnya setelah kematian seorang kepala suku. Menurut Durkheim jenis bunuh diri sebenarnya mungkin “springs from hope, for it depends on the belief in beautiful perspectives beyond this life.”
3. Bunuh diri Anomi.
Anomie atau anomy berasal dari bahasa Yunani yang berarti pelanggaran hukum. Nomos berarti penggunaan, adat, atau hukum dan nemein sarana untuk mendistribusikan. Anomy demikian adalah ketidakstabilan sosial yang dihasilkan dari pemecahan standar dan nilai-nilai. (Webster’s Dictionary). Bunuh diri tipe ini terjadi karena tatanan, hukum-hukum, serta berbagai aturan moralitas sosial mengalami kekosongan. Kelemahan aturan sosial antara norma-norma sosial dan individu dan mesti bisa membawa pada perubahan sosial ekonomi yang dramatis bagi individu. Atau dengan kata lain, tidak cukupnya aturan yang ada sebagai ‘penampung’ aspirasi individu. Dari sini kemudian terjadilah semacam frustasi sosial yang kemudian meningkatkan keinginan orang untuk bunuh diri.
Seperti halnya dengan anomi pembagian kerja, ini dapat terjadi ketika bentuk normal pembagian kerja terganggu, dan “kolektivitas untuk sementara tidak mampu melaksanakan kewenangan atas individu-individu.” (Ritzer, hal 92). Hal ini dapat terjadi baik selama periode terkait dengan depresi ekonomi (pasar modal kecelakaan tahun 1930-an) atau ekspansi ekonomi yang cepat. Situasi baru dengan beberapa norma, efek regulatif struktur melemah, dan individu mungkin merasa tanpa akar. Dalam situasi ini, seseorang dapat dikenakan arus sosial anomik. Orang-orang yang dibebaskan dari kendala menjadi “budak nafsu mereka, dan sebagai hasilnya, menurut pandangan Durkheim, melakukan berbagai tindakan destruktif, termasuk bunuh diri dalam jumlah yang lebih besar.” (Ritzer, hal, 92).
Ada empat jenis bunuh diri akibat dari tipe anomik ini, antara lain:
Pertama, anomi ekonomis akut (acute economic anomie) yakni kemerosotan secara sporadis pada kemampuan lembaga-lembaga tradisional (seperti agama dan sistem-sistem sosial pra-industrial) untuk meregulasikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial.
Kedua, anomi ekonomis kronis (chronic economic anomie) adalah kemerosotan regulasi moral yang berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya saja Revolusi Industri yang menggerogoti aturan-aturan sosial tradisional. Tujuan-tujuan untuk meraih kekayaan dan milik pribadi ternyata tidak cukup untuk menyediakan perasaan bahagia. Saat itu angka bunuh diri lebih tinggi terjadi pada orang yang kaya daripada orang-orang yang miskin.
Ketiga, anomi domestik akut (acute domestic anomie) yang dapat dipahami sebagai perubahan yang sedemikian mendadak pada tingkatan mikrososial yang berakibat pada ketidakmampuan untuk melakukan adaptasi. Misalnya saja keadaan menjadi janda (widowhood) merupakan contoh terbaik dari kondisi anomi semacam ini.
Keempat adalah anomi domestik kronis (chronic domestic anomie) dapat dilihat pada kasus pernikahan sebagai institusi atau lembaga yang mengatur keseimbangan antara sarana dan kebutuhan seksual dan perilaku di antara kaum lelaki dan perempuan. Seringkali yang terjadi adalah lembaga perkawinan secara tradisional sedemikian mengekang kehidupan kalangan perempuan sehingga membatasi peluang-peluang dan tujuan-tujuan hidup mereka.
4. Bunuh diri fatalistik.
Aturan sosial adalah sesuatu yang ditanamkan secara lengkap pada individu. Di sana kemudian tidak ada lagi harapan dari perlawanan perubahan pada disiplin yang menyesakkan dari masyarakat. Maka bunuh diri dirasakan sebagai cara untuk lari dari kenyataan ini. “To bring out the ineluctable and inflexible nature of a rule against which there is no appeal, and in contrast with the expression “anomy” which has just been used, we might call it fatalistic suicide”(Durkheim, 239).
Bab 6 : Bentuk Individu dari berbagai tipe Bunuh Diri
Tipe bunuh diri egoistik dikarakterkan dengan tingkat depresi dan bunuh diri altruistik dikarakterkan dengan emosi kekerasan. Namun secara keseluruhan tipe bunuh diri dapat dikelompokkan dalam Morfologinya. Tipe bunuh diri egoistik dikarakterkan dengan apatisme dan melankolis. Bunuh diri Altruistik dikarakterkan dengan energi nafsu dan ditambah dengan antusiasme yang bersifat mistik atau perasaan berlebihan terhadap tanggung jawab serta memiliki keberanian. Bunuh diri Anomik dikarakterkan dengan perasaan jijik yang dipengaruhi karena pertentangan dengan kehidupan yang wajar. Selain itu, ada tipe campuran yang dikarakterkan dengan campuran apatisme dan agitasi dari tindakan. Sementara campuran tipe Anomik dan Altruistik serta campuran tipe Egoistik/Altruistik dikarakterkan dengan sifat melankolis yang berkaitan dengan daya tahan moral pelaku.
Buku 3
Sifat umum Bunuh diri sebagai Gejala Sosial
Bab 1 : Elemen Sosial Bunuh Diri
Penyebab bunuh diri secara individual yang utama terdapat dua faktor, yang pertama dari situasi eksternal pelaku (the external situation of the agent) dan yang lainnya tergantung dari frekuensi tindakan bunuh diri tersebut dilakukan. Di mana menurut Durkheim, beberapa pelaku bunuh diri melakukannya karena kecewa kepada keluarga, atau menderita kemiskinan, sakit yang tidak kunjung sembuh, dan sebagainya. Inilah yang oleh Durkheim disebut sebagai tekanan eksternal yang akhirnya mengancam pelaku sehingga, secara moral dan sosial, ia sudah tercabut dari ‘dunia sosial’nya. Oleh karena itu, tidak jarang fakta bunuh ini merupakan satu representasi dari produk dari temperamen yang pasti. Hasil penelitian ini, membenarkan validitas dan reliabilitas hipotesa awalnya mengenai fakta sosial ini. Meskipun pada saat itu, Durkheim belum melakukan pengujian, namun penelitian ini secara historis menjadi metodologi penelitian Durkheim yang dapat menjelaskan angka-angka bunuh diri yang ada.
Bab 2 : Hubungan Bunuh Diri dengan Gejala Sosial Lainnya
Bagi Durkheim, fakta sosiologis bunuh diri tidak bisa berdiri sendiri. Bukti-bukti yang memperlihatkan hal itu bisa dilihat dari—sebagai contoh—pada masyarakat Kristen, tindakan bunuh dilarang. Pada tahun 452 Dewan Arles mengumumkan bahwa tindakan bunuh diri merupakan (kegiatan) criminal dan itu hanya disebabkan oleh kejahatan yang terpinspirasi kemarahan Bahkan dalam salah satu bab buku yang ditulis oleh St. Louis dikatakan bahwa tubuh dari pelaku bunuh diri telah diadili sebelum yang berwenang…(Durkheim, 292). Durkheim konsisten dengan aturan tentang metode sosiologisnya dalam memandang bunuh diri, yaitu bahwa fakta bunuh diri sangat terkait dengan gejala lainnya. Kelompok yang berbeda ternyata juga memiliki sentimen yang berbeda sehingga hanya dapat ditemukan dalam perbedaan level dengan fakta sosial yang ada ,sehingga mempengaruhi keputusan pelaku untuk bunuh diri. Perbedaan tersebut pada akhirnya membuat tingkat bunuh diri dan tipe bunuh diri yang terjadi juga berbeda.
Bab 3 : Implikasi Praktis
Menurut Durkheim penting adanya perhatian terhadap fakta sosial bunuh diri seperti yang didasarkan pada pandangannya melihat masyarakat, sehingga kita dapat melakukan pemecahan masalah bunuh diri dengan moralitas. Konsekuensi praktis dari memahami gejala bunuh diri ini, selanjutnya diderivasikan Durkheim dalam bentuk solusi kebijakan untuk mengurangi masalah ini. Di antaranya adalah penegakan kekuatan moral (moral power) yang bisa membangun sistem hukum bagi masyarakat; tetapi hal ini harus cukup mengubungkan urusan dunia mereka yang mungkin dikumpulkan sebagai nilai kebenaran (Durkheim, 351).
Gejala bunuh diri yang dipahami sebagai anomali atau penyimpangan tersebut tetap tidak bisa dielakkan. Karena secara alami terdapat sifat-sifat individu yang tidak bisa dielakkan. Bunuh diri juga membenarkan adanya gejala sosial Patologi, dimana tindakan ini dianggap sebagai tindakan kurang bermoral adalah keadaan yang tidak normal.
Bagi Durkheim, institusi Negara yang menghubungkan individu dengan masyarakat telah gagal. Bahkan keluarga pun juga telah gagal dalam mempengaruhinya, sehingga pelaku adalah orang yang telah memiliki keluarga ataupun yang belum. Diperlukan suatu bentuk institusi lain yang dapat menekan angka bunuh diri berdasarkan pada kelompok kerja. Untuk itu menurut saran Durkheim bahwa Satu cara untuk mengurangi angka bunuh diri yang berhubungan dengan anomaly (sosial) adalah untuk membuat perkawinan yang tidak dapat dibatalkan.

Pos ini dipublikasikan di TEORI SOSIOLOGI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s