KEMANDIRIAN, KETAKUTAN AKAN KEBERGANTUNGAN DAN PERASAAN TIDAK AMAN

KEMANDIRIAN, KETAKUTAN AKAN KEBERGANTUNGAN DAN PERASAAN TIDAK AMAN

Hal yng perlu dicamkan bukanlah nilai-nilai Bangsa Amerika yng saling bertentangan yang dicatat oleh para Sosiolog dan Sejarawan, tetapi adalah perwujudan dari satu nilai inti. Nilai inti dari bangsa Amerika yng msh dipertanyakan adlah Self-Reliance (Kemandirian), sifat psikologis yang paling gigih daripada Kekhawatiran akan kebergantungan. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa semua nilai-nilai yang telah disebutkan sejauh ini, adalah saling bertentangan dan juga saling mendukung satu sama lain, sisi yang buruk sama halnya dengan sisi yang baik, bersumber atau berkaitan dengan kepercayaan diri.

Kemandirian bangsa America pada dasarnya sama dengan sifat Individualisme bangsa Inggris kecuali yang belakangan (Individualisme) adlah induk dari yang mendahuluinya (kemandirian) dan yang mendahuluinya telah melampui jauh dari yang disebutkan belakangan (Individualisme). Akan tetapi, Kemandirian ini tidak punya karakteristik dasar yang melekat dalam Individulisme. Di Eropa, Individualisme berkembang dikarenakan adanya permintaan atas persamaan hak politik. Hal ini menuntut bahwa setiap individu memiliki hak yang diberikan oleh Tuhan dan tak dapat dicabut oleh siapapun juga, dan setap orang mempunyai hak yang sama untuk mengatur dirinya sendiri atau memilih pengaturnya(gubernur) sendiri. Di lain pihak, kemandirian di Amerika tidak dpat dipisahkan dari desakan individu militan pada persamaan ekonomi, sosial, dan politik yang telah diakui di inggris dan bangsa-bangsa Eropa lainnya, yang diartikan sebagai Hak Setiap Warga Amerika yang Tak Dapt dicabut ialah Kemandirian dan Persamaan yang tidak terbatas.

Hal ini tidak mengesankan bahwa semua warga/orang Amerika pada kenyataannya sangat menikmati persamaan ekonomi dan sosial yang tidak terbatas yang mana  sangat mereka percayai. Tetapi ini akan mudah untuk mengobservasi seberapa kuat dan luasnya kemandirian yang ada pada diri mereka. Sebagai contoh, orang Inggris telah berhasil memulai adanya Sosialisme dalam masyarakat, dalam penamaan juga, tapi orang-orang Amerika tidak menghiraukan akan keamanan sosial, subsidi pertanian, kesejahteraan, kesehatan dan bentuk-bentuk perencanaan Pemerintah lainnya-campur tangan dan bantuan, juga dalam hal keberanian yang bebas dan tidak adanya toleransi terhadap sistem politik dan sosial. Demikian pula orang-orang Inggris masih cenderung menghormati perbedaan kelas berdasarkan kekayaan, status, perilaku dan tutur bahasa, sedangkan orang-orang Amerika cenderung mentertawakan perilaku Aristokrat atau tutur bahasa Oxford dan merasa tersinggung sekali akan status yang telah diungkapkan oleh Lloyd Warner sebelumnya bahwa hal ini dianggap “tabu” dalam diskusi siswa SMA Jonesville. Akhirnya, orang-orang Inggris tetap menganggap bahwa mahkota sebagai simbol turun temurun yang terbaik dari semuanya, sedangkan orang-orang Amerika mengkritik mengenai kebebasan individu akan jabatan tertinggi dan paling tidak hak yang suara yang sama yang dimiliki oleh ssesorang  untuk menjadi Presiden.

Kemandirian ini juga sangat berbeda sekali dengan Otonomi diri (berkecukupan). Pada kenyataannya banyak orang-orang desa di Cina dan Eropa yang dapat mencapai otonomi (berkecukupan). Rata-rata petani Cina yang berkecukupan akan mendapat paling tidak hanya simpati dari petani yang tidak berkecukupan. Tetapi, Kemandirian orang-orang Amerika adalah cita-cita orang militan yang ditanamkan para orang tua pada anak mereka sehingga dapat menilai kelayakan dan kebaikan. Inilah Kemandirian yang ditulis oleh Ralph Waldo secara fasih dan meyakinkan dalam beberapa bagian yang tak abadi. Ini juga merupakan Kemandirian yang diajarkan di sekolah-sekolah di Amerika pada saat ini. Berikut ini adalah kutipan langsung dari sebuah pernyataan mengenai “Keyakinan Dasar” yang diberikan kepada para siswa oleh deprtemen ilmu sosial dari  satu SMU terbaik  pada th.1959:

Kemandirian adalah, seperti halnya, kunci menuju  kebebasan individu dan merupakan satu-satunya keamanan nyata yang datang dari kemampuan dan kebulatan hati untuk bekerja keras untuk merencanakan dan unutk menyelamatkan keadaan saat ini dan masa yang akan datang.

Dan sekarang Kemandirian bangsa Amerika bukanlah hal yang baru. Sebagai sebuah konsep, Kemandirian ini pada kenyataannya dikenal dan dipahami dengan baik. Tapi hal tersebut adalah kekuatan dari titk yang tidak jelas dimana dasar keterlibatan dan percabangannya telah keluar jauh dari tinjauan secara ilmiah. Bagaimana individualisme orang-orang Eropa Barat telah berubah bentuk menjadi kemandirian bangsa Amerika adalah pertanyaan diluar jangkauan bab ini. Hal Itu telah berkaitan dengan yang lain (Hsu 19970:120-130). Cukup dikatakan disini bahwa idealnya setiap individu adalah majikan dirinya sendiri, dalam mengendalikan takdirnya sendiri, dan akan memajukan dan menyurutkan dlam pergaulan/masyarakat yang hanya berdasarkan usahanya sendiri. Mungkin dia memiliki sifat yang baik dan buruk, akan tetapi,

Tersenyumlah, dan Dunia akan tersenyum padamu,

Menangislah, dan menangislah kamu sendiri

Terlihat jelas disini tetntu saja bahwa tidak semua orang Amerika punya kemandirian. Di dalam masyarakat ditemukan individu yang bervariasi dalam tingkat temperamennya, karakter dan intelenjensi. Lebih lanjut, tidak ada cita-cita yang menunjukkannya secara seragam  pada semua bagian dalam masyarakat. Tetapi sebuah perbandingan yang singkat akan memperlihatkannya lebih jelas. Seorang pria di sebuah pedesaan diCina mungkin telah gagal dalm hidupnya dimana kemandirian bukanlah sesuatu yang ideal di sana. Tapi andaikata pada masa tuanya, anak laki=lakiny dpat untuk memenuhi kebutuhannya secara dermawan, orang tersebut tidak hanya sangat bahagia dan puas akan hal ini, tetapi juga dia akan menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia agar mengetahui bahwa dia memiliki anak-anak yang baik yang dapat membantunya dalam keadaan yang dia tidak pernah biasa dengan itu. Sebaliknya, orang tua warga Amerika yang belum berhasil dalam hidupnya akan mengambil keuntungan dari kemakmuran anak-anaknya, tapi dia jelas tidak ingin orang lain mengetahuinya. Dalam kenyataannya, dia akan marah dengan hal yang berkenaan dengan itu. Pada kesempatan pertama ketika hal ini memungkinkan untuknya untk menjadi madiri dari anaknya, dia juga akan melakukannya.

Oleh karena itu, walaupun kita mungkin menemukan banyak individu di pedesaan Cina dan dimanapun juga yang mana mereka mampu memnuhi kebutuhan sendiri pada kenyataannya, dan walaupun kita dapat menemui beberapa orang di Amerika yang pada kenyataannya bergantung pada orang lain, hal yang penting ialah bahwa ketergantunagn pada diri sendiri bukanlah hal yang ideal, bukan masalah menjadi dukungan ataupun juga kebanggan, tetapi mana yang ideal, yaitu keduanya.  Dalam masyarakat Amerika, ketakutan akan kebergantungan sangatlah besar bahwa seorang individu yang tidak mandiri adalh seorang yang tidak dapat menyesuaikan diri. “Sifat menggantukan diri” merupakan istilah yang menghina sekali, dan seorang yang dikategorikan seperti itu memerlukan pertolongan psikolog.

Bagaimanapun juga, jelas bahwa tidak ada individu yangbisa mandiri.  Pada kenyataanya, dasar kehidupan manusia adalah ketegantunagn manusia terhadap kawan lain secara intelektual dan teknologi dan juga secra sosial dan emosional. Individu-individu mungking memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam pemenuhan akan kawan, tetapi tak ada orang yang yang dapat benar-benar berkata dia tidak memerlukan siapapun dalam masyarakat atau dimanapun

Perasaan tidak aman itu sendiri pada orang-orang Amerika ditunjukkan dalam berbagai cara. Unsur yang paling utama yaitu kekurangan ketetapan/kekekalan dalam hal asal muasal hubungan seseorang (contohnya termasuk keluarga manakah seseorang dilahirkan) maupun pemerolehan hubungan seseorang tersebut (contoh: hubungan pernikahan bagai seorang wanita, dan hubungan bisnis/pekerjaan bagi seorang laki-laki). Keinginan yang paling vital seorang manusia ialah berusaha bersaing yang terus menerus dengan kawannya. Dia harus melakukan ini supaya bisa masuk ke dalam suatu grup/komunitas, atau untuk dapat bertahan dalam grup/komunitas tsb. Dalam usahanya tsb, dia menemukan beberapa pilihan yaitu kepatuhan pada tirani organisasi dan persetujuan terhadap kebisaan dan fakta-fakta kumpulan teman sebaya yang mana itu merupaka hal yang vital baginya untuk dapat menaikkan atau pun menjaga statusnya dalam waktu dan tempat tertentu. Dengan kata lain, agar dapat berbuat sesuai dengan orientasi nilai inti Kemandirian, bangsa Amerika harus berbuat sebaliknya secara keseluruhan. Dinyatakan dalam bahasa ilmu pengetahuan, di satu sisi terdapat hubungan langsung antara kemandirian dengan kebebasan individu dan di sisi lain kepatuhan pada suatu organisasi dan yang lain (Hsu 1960:151). Persisnya, kekuatan yang sama pada keadaan tsb dapat dilihat pada hubungan:

  1. cinta orang nasrani dengan kefanatikan agama.
  2. Penekanan pada ilmu pengetahuan, kemajuan dan kemanusiaan dengan dasar keunggulan kelompaok/golongan yang berkaitan dengan gereja dan ras.
  3. etika yang berpegang teguh pada aturan-aturan dengan Penambahan kelemahan pada adat istiadat mengenai sex.
  4. demokrasi yang ideal mengenai persamaan dan kebebasan dengan kecenderungan totaliter dan pencemaran nama baik/pemfitnahan.

Keempat pasang hal yang bertentangan diatas tidak berdiri sendiri. contohnya, Cinta Nasrani sangat bertentangan dengan rasisme sama halnya dengan kefanatikan beragama. Sepadan dengan penekanan pada Ilmu pengetahuan, dan juga yang keempat, yaitu kebalikan dari kecenderungan totaliter dan pemfitnahan dan yang berkaitan dengan gereja dan keunggulan suatu kelompok atau golongan. Pada kenytaannya, kita dapat memabndingkan paruh pertama dari pasangan diatas dengan paruh berikutnya.

Cinta VS Benci dalam NASRANI

Tujuan dari bab ini ialah agar kita dapat mempertimbangkan beberpa kontradiksi did dalam keseluruhan tulisan ini, penekanan kita pada Cinta Nasrani dan kebebasan, persamaan, dan demokrasi pada satu sisi, dan di sisi lain yaitu Rasisme dan hal-hal keagaman yang berkaitan dengan gereja.  Hal ini menjadi sebuah pertentangan yang telah menguji kekuatan pembicara terbaik dan kecerdikan para sarjana, terutama dalam bidang agama. Mereka mencoba menganggap perang agama tidak ada. dan mencoba melupakan keberadaan Holy Inquisition (Keuskupan Agung). Mereka berusaha mengesampingkan ratusan hingga ribuan penyihir yang dihukum mati dengan cara dibakar di tiang pembakaran. Mereka menyangkal adanya kaitan antara ini semua dengan pembantaian massal Yahudi oleh Nazi Jerman. dan terutama terhadap golongan anti-bangsa Semit, gol anti-orang intelek, dan penganiayaan rasisme ditemukan di sini secara berubah, dan di Amerika sana bisa ditemukan secara terbuka. Namun ketika beberapa sarjanawan menyadari bahwa pola pada zaman dulu hidup lagi pada saat ini, walaupun teknik khususnya telah berubah, mereka cenderung melakukan observasi yang sedikit bahayanya seperti pada contoh berikut ini:

ibadah/pemujaan pada umumnya- berbagi simbol-simbol keagamaan- telah mengikat kelompok manusia pada ikatan yang paling erat, tapi perbedaan agama dapat mnyebabkan permusuhan kelompok yang sengit (Elizabeth K. Nottingham 1954:2).

Robin Williams, yang mengutip pernytaan diatas kemudian selanjutnya menyarankan memberi dua petunjuk mengenai teka-teki mengenai mengapa pemujaan/peribadtan sama-sama menyatukan dan juga membedakan penganutnya: (a) tidak semua konflik yang terjadi atas nama agama “bermuatan agama”, dan (b) sebenarnya terdapat perbedaan tingkat kepntingan yang terlibat dalam “pertalian keagamaan pada namanya saja” (Williams 1956: 14-15). Akan tetapi tidak ada dasar yang dapat diobservasi untuk membedakan antara pertentangan agama yang sejati dan pertentangan agam yang hanya pada namanya saja “agama.” Apakah kontroversi mengenai ilmu Theologi/mengenai Injil benar-benar murni keagamaan atau kah hanya pada namanya saja? Yang betul ialah, sekalipun konflik bukanlah mengenai apa2 melainkan tentang peribadtan, ataukah pertanyaan mengenai kelhiran perawanan, mereka masih diperdebatkan antara tiap manusia dengan kepribadian yang melibatkan emosional untuk masalah-maslah tertentu.

Pos ini dipublikasikan di KAPITALISME & GLOBALISASI, TEORI SOSIOLOGI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s