Media Politik atau Politik Media; Sebuah Keniscayaan

Media Politik atau Politik Media; Sebuah Keniscayaan

Kesamaan utama antara politik dan media ada pada hubungannya dengan orang banyak. Kedua ranah tersebut membutuhkan dan dibutuhkan oleh masyarakat, yang anonim, dalam melakukan operasi-operasi rutinnya. Politik berurusan dengan ideologi, dan topik ideologi tentu saja menyangkut kehidupan sosial rakyat. Sementara media adalah jembatan antara topik atau tema yang diangkat dengan rakyat yang tersebar.

Secara teoritis, keduanya bisa berjalan dengan harmoni. Media massa bisa memediasi kegiatan politik dari para politisi kepada masyarakat. Dan sebaliknya, media juga bisa memediasi opini, tuntutan, atau reaksi masyarakat kepada para politisi. Media massa adalah ruang lalu lintas bagi segala macam ide-ide yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Namun demikian, permasalahannya adalah, sejauh apa media bisa bertindak adil atas berbagai kepentingan yang dimediasinya? Ada begitu banyak kepentingan yang terjadi, dan bagaimana media massa menempatkannya secara proporsional? Apa yang menyebabkan sebuah kegiatan politik dari golongan tertentu lebih dikedepankan ketimbang kepentingan politik lain dari golongan yang lain juga?

Jawabannya terkadang tak begitu jelas. Dan belum ada Undang-Undang yang tertuang untuk itu. Belum ada aturan yang mengkriteriakan bahwa seseorang harus mendapat sekian kalimat untuk dimuat di media cetak, berapa menit di televisi, dan harus mendapat intonasi yang sama dari pewawancara dalam media televisi.

Lebih dari itu, masalahnya bukan hanya terletak pada bagaimana bertindak adil, tetapi juga bagaimana gemuruh aktivitas politik itu bisa selaras dengan empat fungsi media
massa, yakni memberikan informasi, memberikan pendidikan, memberikan hiburan, dan melakukan kontrol sosial.

Dalam menghadapi dunia politik, media massa tak jarang menemui kesulitan-kesulitan tersendiri. Di satu sisi, media massa dituntut untuk melaksanakan fungsinya agar pembaca, pemirsa, atau pendengar kian memiliki sikap kritis, kemandirian, dan kedalaman berpikir. Namun di sisi lain, pragmatisme ekonomi memaksa media mengadopsi logika politik praktis yang terpatri pada spektakuler, sensasional, superfisial, dan manipulatif.

Propaganda Politik

Politik dan media memang ibarat dua sisi dari satu mata uang. Media memerlukan politik sebagai makanan yang sehat. Media massa, khususnya harian dan elektronik, memerlukan karakteristik yang dimiliki oleh ranah politik praktis: hingar bingar, cepat, tak memerlukan kedalaman berpikir, dan terdiri dari tokoh-tokoh antagonis dan protagonis.

Politik juga memerlukan media massa sebagai wadah dalam mengelola kesan yang hendak diciptakan. Tidak ada gerakan sosial yang tidak memiliki divisi media. Apapun bidang yang digeluti oleh sebuah gerakan, semuanya memiliki perangkat yang bertugas untuk menciptakan atau berhubungan dengan media.

Dunia politik sadar betul bahwa tanpa kehadiran media, aksi politiknya menjadi tak berarti apa-apa. Bahkan menurut C. Sommerville, dalam bukunya Masyarakat Pandir atau Masyarakat Informasi (2000), kegiatan politik niscaya akan berkurang jika tidak disorot media.

Media memang memiliki kemampuan reproduksi citra yang dahsyat. Dalam reproduksi citra tersebut, beberapa aspek bisa dilebihkan dan dikurangi dari realitas aslinya (simulakra). Kemampuan mendramatisir ini pada gilirannya merupakan amunisi yang baik bagi para politisi, terutama menjelang pemilu.

Yang menjadi masalah bagi politisi adalah bagaimana ia menjalin hubungan muatualisme dengan pihak media; bagaimana ia membangun kesan tertentu dengan memilih latar belakang (pada televisi) saat bercakap-cakap dengan media; bagaimana ia mampu meyakinkan media bahwa ia dan aksinya adalah penting. Semua dilakukan dengan mengharapkan imbalan berupa publisitas.

Namun pada saat yang sama, media massa juga harus berpikir bahwa ia tidak diperkenankan mengadopsi kepentingan-kepentingan tersebut secara berlebihan. Salah-salah, ia akan menjadi bagian dari program politik sebuah golongan politik. Dan tak mudah memang membuat garis demarkasi apakah sebuah media prorakyat atau tengah ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang juga mengklaim sebagai pejuang kerakyatan.

Contoh yang sering terjadi adalah ketika nasionalisme menjadi isu sentral dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai tokohnya. Dari versi TNI, dirinyalah yang harus didukung karena ia sedang berjuang menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), misalnya. Dan keinginan itu kerap dilakukan dengan memonopoli kebenaran. Meski bisa jadi versi TNI benar, tapi ketika ada upaya menghalangi versi lain untuk berbicara tentang siapa yang terkena tembakan atau berapa korban yang jatuh dalam kontak senjata antara TNI dan GAM, maka fakta menjadi tak bermakna.

Begitu juga dengan media yang biasanya melulu mengutip istilah-istilah yang dilontarkan oleh pejabat negara. Kita tentu masih ingat dengan istilah Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK), Gerombolan Bersenjata, Teroris Islam, atau Fundamentalis. Ketika media memberitakan berbagai istilah ini terus menerus tanpa ada konfirmasi pada publik bahwa ia bersumber dari sebuah pihak, maka media sebenarnya telah termakan oleh praktek politik media yang sedang dijalankan oleh salah satu pihak, yaitu propaganda melalui labelling.

Tanpa sadar, sebuah media akan menjadi kaki tangan sebuah golongan. Ia “diperdaya” oleh sebuah golongan bahwa “ini” penting ketimbang “itu”. Dalam sebuah talk show di salah satu stasiun televisi, dibangun sebuah wacana bahwa operasi militer di Aceh tidak menyelesaikan persoalan. Makna kebenaran dari wacana ini memang bisa disetujui. Namun, diskusi tersebut tidak mempersoalkan bagaimana selayaknya memperlakukan kelompok sipil bersenjata di Aceh.

Sebuah golongan mendesakkan sebuah wacana bahwa ia penting untuk diangkat. Namun, pada saat yang sama, bisa dirasakan bahwa media tengah meniadakan bagian tertentu dari fakta besar. Sebab, dalam kasus Aceh, perang tersebut juga telah menyebabkan perpecahan dalam keluarga. Banyak kasus dimana si abang adalah GAM dan si Adik adalah TNI. Dan keduanya duduk bersama di meja makan.

Keluarga sebagai penyangga awal dari struktur sosial telah berantakan. Dan tentu ini bukan hanya masalah operasi militer. Namun, media kerap telah dibingkai oleh sebuah konsep yang terstigmatisasi dengan salah satu pihak. Dan pada gilirannya, media tidak memediasi informasi secara benar. Pemberitaan menjadi tidak proporsional, dan kemanusiaan menjadi taruhannya. Dan tidak hanya itu saja, media pun akhirnya bersifat fasistis.

Media Berpolitik?

Pada sisi lain, kepentingan media akan informasi juga telah membuat celah tersendiri bagi orang-orang tertentu. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang begitu haus akan publisitas. Mereka dengan cerdas mengemas berbagai persitiwa sehingga ia bisa selalu muncul di berbagai media.

Orang seperti ini disebut oleh Bimo Nugroho, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ketika berbicara dalam sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Jurnalistik di Universitas Islam Bandung, sebagai medialomania. Medialomania adalah penyakit doyan menjadi narasumber. Kecenderungan seperti ini biasanya terdapat pada politisi atau aktivis yang masanya sudah lewat namun tetap ingin berada di kancah politik.

Bagi orang seperti ini, media adalah kendaraan politik. Ia mampu membangun relasi dengan orang-orang internal media serta pandai membungkus peristiwa melalui komentar-komentar atau aksi-aksi yang sesuai dengan selera wartawan. Meski tak lagi signifikan bagi perkembangan kualitas politik, hubungan baiknya dengan media membuat media atau wartawan tak memiliki banyak pilihan, selain alasan bahwa wartawan malas mencari narasumber di lapangan.

Dan masih menurut Bimo Nugroho, orang yang “gila” publisitas itu kerap memberi fasilitas seperti konferensi pers hingga “amplop”. Ia memberikan dirinya sebagai teman akrab yang mudah dicari oleh wartawan. Dan media, tanpa sadar, telah terjebak menjadi media politik dari orang yang bersangkutan.

Sementara itu, dalam diskusi yang sama, Direktur Utama Radio Mora Bandung, Monang Siragih, mengatakan bahwa sinergi media dengan politik sebenarnya sah-sah saja. Maksudnya, tak ada larangan bahwa sebuah menjadi media politik. Setiap media membawa misi politiknya masing-masing. Yang utama adalah apakah tujuannya untuk kebenaran dan kesejahteraan rakyat atau tidak.

Monang Saragih berpendapat bahwa adalah hak setiap orang untuk berserikat dan menyampaikan gagasan-gagasannya. Kebebasan sudah datang untuk setiap orang dalam menyampaikan sikap politiknya. Dan tidak ada yang lebih baik dari media dalam menyalurkan hasrat tersebut.

Secara sederhana, pendapat ini memang benar. Namun tatkala dipraktekkan, sulit baginya untuk keluar dari kepentingan diri sendiri demi kepentingan publik. Dalam konteks media yang turut bermain dalam politik praktis, Andreas Harsono, pendiri Majalah Pantau yang juga pembicara dalam diskusi panel tersebut, segera membantahnya.

Menurutnya, wartawan sebaiknya memisahkan diri dari dunia politik. Ia harus memilih antara kedua ranah tersebut. Alasannya, keduanya memiliki fungsi dan idealisasi yang berbeda. Keduanya tak dapat berjalan seiringan karena tak selamanya kepentingan sebuah golongan politik menyuarakan kepentingan yang lebih besar atau nasional; sementara media yang menjadi kendaraan politik beroperasi secara lebih besar.

Media yang berpolitik bisa menyesatkan para pembaca, pendengar, atau pemirsa. Sebab, pemilihan narasumber, pemilihan waktu atau ruang bagi suatu sosok atau peristiwa, serta keseimbangan pelaporan atas suatu fakta akan menjadi bias dengan sengaja. Yang menjadi lawan politik dari pemilik media dengan sendirinya akan tereliminir. Cara pandang politisi dan wartawan terhadap informasi berbeda.

Netralitas Media?

Namun demikian, bila kita mengkaji secara mendalam, media sebenarnya memang takkan pernah bisa netral, baik secara teoritis maupun praktis. Dalam Analisis Wacana, pemilihan atas peristiwa apa yang menjadi headline, siapa yang menjadi narasumber, bahasa apa yang digunakan, atau sudut pandang apa yang dipakai dalam membaca fakta, semuanya adalah pilihan-pilihan yang tak terhindarkan oleh media yang bersangkutan.

Informasi yang disebarkan oleh media bukanlah informasi yang bebas. Fakta keras tak dapat berbicara. Ia hanya dapat bunyi ketika ia telah disentuh oleh media atau wartawan. Dan ketika itu, netralitas yang disandang fakta keras tersebut seringkali, jika tidak selalu, terlepas oleh nilai-nilai yang dianut oleh wartawan atau media.

Contohnya adalah ketika seorang kamerawan hendak meliput sebuah acara yang dihadiri oleh simpatisan salah satu partai politik di sebuah lapangan. Ia bisa mengesankan bahwa partai tersebut besar dengan menyempitkan atau memfokuskan (zoom in) gambar hingga terlihat penuh. Dengan demikian, muncul pencitraan bahwa partai tersebut besar. Buktinya, ia dihadiri oleh begitu banyak orang yang saling berdesakkan. Padahal, bisa saja simpatisan itu berjumlah sedikit, dan hanya memenuhi sepertiga dari lapangan.

Sebaliknya, seorang kamerawan bisa mengecilkan sebuah acara partai lain di lapangan yang sama keesokkan harinya. Caranya, ia akan melebarkan fokus (zoom out) gambar hingga menampakkan sisi luar dari lapangan. Dengan sendirinya, massa partai tersebut akan terlihat sedikit. Buktinya, massa tersebut hanya memenuhi setengah dari apa yang tampk di layar kaca. Padahal, acara partai ini tiga kali lipat lebih besar dari partai sebelumnya.

Sementara itu, secara praktis, ada banyak contoh kasus dimana sebuah informasi telah tersaring dan membawa misi tertentu untuk membentuk opini umum sesuai kehendak pemilik jaringan media tersebut. Ini adalah konsekuensi dari logika bisnis permodalan yang membutuhkan pencitraan.

Bahkan Hollywood, produsen film terbesar yang menguasai pasaran film di dunia, juga telah menjadi corong bagi nasionalisme bangsanya. Banyak film-film Hollywood yang kemudian menjadi kasus bagi peradaban lain. Diantaranya adalah True Lies; film-film yang melakukan propaganda bahwa Amerika Serikat adalah pemenang dan hebat di medan perang, seperti film-film yang bercerita tentang perang Vietnam atau Irak; bahkan game komputer yang bertujuan untuk menangkap Saddam Hussein dan Osama Bin Laden.

Salah satu pemikir sosial dari Amerika Serikat, Noam Chomsky, di berbagai literatur menyebutkan bahwa Washington menghabiskan dana satu milyar dollar setiap tahunnya untuk kepentingan propaganda atau humas. Tujuannya tak lain agar dapat mengontrol jaringan media massa dunia dan menjadikannya sebagai dominator arus informasi dunia.

Pemerintah Amerika Serikat memang mendorong agar perusahaan-perusahaan media saling melakukan merger sehingga bisa menjadi perusahaan media raksasa. Untuk itu, dibuatlah berbagai kemudahan demi perkembangan ekspansi perusahaan-perusahaan media raksasa tersebut.

Contohnya, pada tahun 1996, Kongres Amerika Serikat memberikan dana sebesar 10 juta dollar kepada jaringan media massa dunia dan beberapa milyar dollar lagi untuk jaringan media besar lainnya. Sebagai imbalannya, pemerintah Amerika Seikat meminta adanya dukungan media terhadap kebijakan pemerintah. Dan pada tahun 2003, Komisi Hukum Federal Amerika Serikat telah mengesahkan Undang-Undang yang memungkinkan media-media raksasa melakukan monopoli.

Dari beberapa sumber di internet, Robert Mc Chensy, seorang dosen dari Universitas Illionis, Amerika Serikat, yang juga pemimpin redaksi Monthly Review, mencatat bahwa pada saat ini, pasar media dunia berada di tangan tujuh perusahaan multinasional, yaitu Disney, Time Warner, Sony, News Corporation, Viacom, Vivendi, dan Bertelsmann. Ketujuh perusahaan ini merupakan studio pembuatan film terbesar dunia, menguasai 80-85 persen pasar musik dunia, pasar buku dunia, majalah, serta kanal-kanal televisi dunia.

Dengan kemampuan teknologi yang mereka punyai, mereka mampu menjadikan media-media yang ada sebagai media politik arus utama di dunia. Ada banyak contoh yang bisa kita simak. Misalnya ketika kemenangan George W. Bush yang kontroversial pada pemilu tahun 2000. Stasiun televisi Fox News, yang didirikan atas bantuan tokoh-tokoh partai Republik, partai darimana George W. Bush berasal, berperan penting dalam kemenangan itu.

Dan pada tahun 2004, direktur stasiun televisi ini akhrnya secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada Bush. Sementara itu, terungkap juga bahwa ada perjanjian resmi antara CNN dan pemerintah Amerika Serikat, mengingat siaran CNN bisa ditangkap di seluruh penjuru dunia.

Mempolitisir media juga dilakukan pemerintah Amerika Serikat ketika terjadi peristiwa 11 September 2002 dan invasi Amerika Serikat ke Afghanistan dan Irak. Pemerintah Ameika Serikat membombardir informasi bahwa pelakunya terkait dengan kaum muslim. Dan sekonyong-konyong media pun turut memberitakannya begitu saja.

Begitu pula ketika pemerintah Amerika Serikat hendak menyerbu Irak. Media-media (bahkan media-media di luar Amerika Serikat dan Inggris) mengikuti bulat-bulat segala pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat bahwa ada nuklir di Irak. Dan ketika nuklir itu tidak juga terbukti, media yang telah mendunia itu tak melakukan apa-apa untuk apa yang telah mereka beritakan.

Dampak yang terjadi bukanlah sesuatu yang main-main. Banyak muslim di berbagai tempat, terutama di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang mendapatkan perlakuan diskriminatif karena disangka teroris. Tanpa tahu apa-apa, rumah atau tempat pengajiannya diawasi, atau bahkan digerebek secara semena-mena.

Istilah teroris digunakan berulang-ulang oleh pemerintah dan media-media di Amerika Serikat, dan bergema ke seluruh dunia. Media-media di Indonesia, sebagaimana negara-negara lain, pun turut terseret. Sekarang istilah GPK, Gerombolan Bersenjata, Separatis, atau Komunis, tidak lagi menjadi trend. Para pejabat negara menggantikannya dengan istilah teroris untuk segala perlawanan terhadap stabilitas.

Labelling melalui media pada kenyataannya terus terjadi. Tanpa disadari, ia telah disusupi oleh program politik salah satu pihak, dan mengorbankan hak pihak lain. Monopoli informasi terjadi melalui propaganda yang dimediasikan oleh media. Meskipun media berusaha untuk seimbang, istilah-istilah yang sebenarnya memojokkan itu terlanjur menjadi sebuah istilah yang dianggap wajar.

Media memang tidak mungkin bersikap apolitis. Begitu juga politik. Keduanya saling membutuhkan. Namun, menurut hemat penulis, biarlah keduanya saling berinteraksi sebagai dua pihak yang sejajar. Jika keduanya berselingkuh, keniscayaan akan bias media justru akan semakin menjadi-jadi. Dan korbannya adalah kebenaran itu sendiri, serta rakyat yang berhak untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Banyak cara untuk membentuk opini atas berbagai fakta keras. Bias ini bisa disengaja maupun tidak. Yang pasti, ia sesuatu yang memang tidak terhindarkan. Persoalannya ada pada bagaimana pemberitaan suatu media bisa diverifikasi, orientasi pada moral dan kerakyatan, dan menjaga interdependensi.

Pos ini dipublikasikan di SOSIOLOGI POLITIK. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s