Pencitraan Perempuan Dalam Media

Pencitraan Perempuan Dalam Media

CITRA perempuan (image of women) dengan tugasnya sebagai pengurus rumah tangga sudah jauh lebih dahulu terbentuk ketimbang kemunculan media massa. Ketika kita melihat iklan di televisi yang menayangkan perempuan sedang memasak dengan memakai bumbu masak tertentu, di situ kita disuguhi citra tentang posisi sosial perempuan yang sudah baku dalam kehidupan masyarakat, yakni sebagai pengelola utama kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Tayangan iklan itu tidak menampilkan sesuatu yang baru tentang citra perempuan. Iklan itu hanya “mengambilalih” sesuatu yang dianggap wajar dan seharusnya terjadi dalam kehidupan, yakni salah satu jenis pekerjaan yang melekat pada perempuan sebagai pemasak makanan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Meskipun mungkin perempuan yang memasak itu memakai pakaian yang bersih, baru, dan modis, peralatan masaknya serba baru dan canggih, serta dapur yang luas dan bersih, secara substansial iklan itu tidak mengubah atau membuat kreasi baru tentang citra perempuan.

Iklan itu hanya memperlihatkan tiruan langsung, kemasan dari pola pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam realitas historis masyarakat. Media, di sana, katakanlah hanya sekadar perpanjangan tangan atau instrumen yang dipakai untuk menyebarluaskan citra tentang perempuan yang sudah terbentuk dalam kenyataan hidup bermasyarakat. Dengan kata lain, media tersebut lebih merepresentasikan sisi normatif pandangan masyarakat tentang citra perempuan.

Media hanya menayangkan atau menggambarkan kembali, melalui iklan, berita, features, dan sebagainya, sifat-sifat feminim yang dilekatkan pada diri perempuan. Umpamanya keharusan untuk lebih mempertimbangkan emosi ketimbang pikiran, berperilaku halus dan lemah-gemulai dari pada kasar, serta peran sosialnya yang mesti berkiprah di ranah rumah tangga (domestic domain) bukan di ranah publik (public domain), yang sejak lama dibentuk masyarakat.

Pembakuan dan pemihakan

Melalui ragam media, citra perempuan ditampilkan dengan berbagai daya tarik feminitasnya, apakah itu tubuhnya yang langsing, suaranya yang merdu, pakaiannya yang modis dan up to date, serta perilakunya yang mengesankan keanggunan. Kalaupun ditampilkan maskulin, seperti agresif dan kasar serta berpakaian layaknya laki-laki, hal itu akan dianggap sebagai penyimpangan belaka.

Demikian juga, kerapkali kita melihat ragam media yang menghidangkan tampilan aktivitas perempuan yang sedang mencuci, mengasuh anak, memasak, serta menyapu dan mengepel rumah dengan penuh keceriaan. Dan jika ditampilkan pekerjaan perempuan di luar rumah, kalaupun tidak diasosiasikan dengan penyimpangan, selalu dikaitkan dengan pengertian konotatif komplementer seperti membantu menambah pendapatan suami atau sekadar mengisi waktu senggang setelah pekerjaan di rumah selesai. Tetapi yang lebih tendensius, perempuan yang bekerja di luar rumah itu digolongkan sebagai “wanita karier”, ambisius, tidak peduli suami dan keluarganya, dan hanya mengejar kepentingan sendiri. Katakanlah, perempuan yang egoistis.

Dengan menggambarkan atau menceritakan perilaku dan aktivitas perempuan seperti itu, media tampak hanya memperkuat citra perempuan yang sudah dibangun sebelumnya. Tampilan substansi media itu bukan sesuatu baru, mungkin yang baru hanya pada tingkatan performance-nya, bukan isinya. Adakah media yang menampilkan laki-laki yang mengasuh dan mengajari anak, yang memasak atau mencuci pakaian, dan yang sedang membersihkan rumah? Sangat jarang sekali, untuk tidak menyebutkan tidak ada. Dengan demikian, media tampak lebih merepresentasikan citra yang sudah dibuat masyarakat, yang memisahkan identitas mental (feminim dan maskulin) dan pembagian kerja seksual (ranah domestik dan ranah publik) antara laki-laki dan perempuan. Itu berarti, ikut memperkuat pembakuan stereotype yang sudah dikonstruksi masyarakat.

Alih-alih menguranginya, media seringkali malahan menambahi stereotype itu. Umpamanya melalui tayangan iklan tertentu perempuan Indonesia dituntut memiliki rambut halus, hitam, berkilau, dan lurus, bentuk badan langsing dan tinggi, hidung yang rada mancung-mungil, bibir tipis, payudara sedikit menonjol, dan berkulit kuning keputih-putihan. Adakah iklan pencuci rambut dan sabun mandi pada ragam media yang menampilkan perempuan yang gendut, bibir tebal, rambut keriting, hidung pesek, tubuh pendek, dan kulit hitam?

Melalui penambahan citra itu, sesungguhnya media, langsung atau tidak, telah melakukan diskriminasi. Dalam konteks ini, media, disengaja atau tidak, telah mengabaikan kelompok perempuan lain. Dengan kata lain, media telah membangun citra yang negatif bagi sebagian kelompok yang memiliki ciri-ciri yang tidak ditampilkan dalam ragam media itu.

Jenis kelamin dan gender

Warga masyarakat umumnya memang memiliki anggapan bahwa perempuan dan laki-lakii memiliki kepribadian yang berbeda sejak lahir. Seorang berjenis kelamin laki-laki dianggap memiliki sifat yang maskulin, seperti agresif, rasional, terbuka, aktif dan dinamis, sedangkan perempuan memiliki sifat-sifat yang feminim, seperti lebih irasional atau mendahulukan pertimbangan emosi, permisif dan pasif, serta lebih tertutup.

Kritik pada perbedaan sifat sebagai bawaan biologis itu menyebutkan, memang saat bayi lahir sudah memiliki jenis kelamin (sex), laki-laki atau perempuan, tapi belum memiliki kejeniskelaminan (gender). Karena dikaitkan dengan ciri-ciri tertentulah, maka perbedaan biologis itu kelak memberi kejeniskelaminan dan pola kepribadian tertentu, karena pola sosialisasi yang berbeda. Maskulinitas dan femininitas adalah stereotype yang didasarkan atas perbedaan biologis, tapi itu tidak melekat sejak lahir, ia dibuat oleh masyarakat sendiri.

Sekarang ini, perbedaan tersebut diberi istilah perbedaan gender, yaitu keadaan individu yang lahir secara biologis sebagai laki-laki dan perempuan yang kemudian mendapat pencirian psikologis sebagai laki-laki dan perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan femininitas serta pemisahan dalam lingkungan pekerjaannya, yang pembedaan dan pemisahannya kemudian dilegitimasi oleh nilai-nilai dan norma-norma budaya masyarakat.

Perbedaan jenis kelamin hanya berkaitan dengan ciri-ciri biologis, seperti prokreasi (hamil, melahirkan, dan menyusui), dan perbedaan ini tidak bisa diubah, umpamanya laki-laki tidak mungkin bisa melahirkan. Sementara perbedaan gender berhubungan dengan karakter dan peran sosial. Citra perempuan yang lembut, halus, permisif, emosional, demikian pula dengan pembagian kerja, yang menempatkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga (domestic domain) dan laki-laki sebagai pencari nafkah (publik domain) menunjukkan pada peran sosial berdasarkan gender.

Dan perbedaan gender itu sebenarnya bisa diubah dan bahkan di balik, umpamanya, bisa saja, dan memang sering juga kita jumpai, laki-laki yang memiliki karakter feminim, yang lembut dan halus, sebaliknya, kita bisa temukan juga perempuan yang memiliki karakter maskulin, yang agresif, dan rasional. Atau kita temukan juga laki-laki/suami yang tidak bekerja, tinggal dan bekerja di rumah, sementara perempuan/istri mencari nafkah.

Dengan demikian, apa yang disebut perbedaan gender hanya terkait dengan perbedaan identitas mental dan posisi sosial antara laki-laki dan perempuan, yang perbedaan itu tidak bersangkut paut dengan kodrati biologis, tetapi bisa dipertukarkan dan saling menggantikan. Artinya, perempuan pun bisa memiliki identitas yang maskulin dan bisa pula memiliki posisi sosial yang unggul di ranah publik; demikian pula sebaliknya, laki-laki pun bisa berperan di ranah domestik dan punya identitas mental yang feminim. Tapi sayangnya, masyarakat umum belum mau sepenuhnya memahami hal itu. Banyak warga yang masih meyakini bahwa perbedaan identitas mental dan posisi sosial itu sesuatu yang kodrati dan terus-menerus dimasyarakatkan. Dalam konteks ini, sedikit banyak, media massa ikut mempertahankan dan terus membakukan asumsi-asumsi perbedaan gender sebagai sesuatu yang alamiah, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kesimpulan

Suatu analisis mengenai peran media menyebutkan, media cenderung lebih banyak memperkuat perilaku dari pada mengubahnya. Bahkan aktivitas suatu media bisa saja tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan pada orang yang menjadi sasarannya. Perubahan yang kecil sekalipun dapat terjadi tanpa aktivitas komunitas.

Namun ada pula analisis yang menyatakan, media bisa saja mengubah persepsi dan perilaku atau akan membawa efek besar bila apa yang ditampilkannya tidak hanya melaporkan apa yang terjadi dalam masyarakat, tapi juga bertanggung jawab untuk melancarkan suatu gerakan masyarakat dan meyakinkan bahwa gerakan yang mereka lakukan itu pasti menguntungkan. Beberapa riset etnografis-antropologis membuktikan bahwa pesan yang disampaikan media secara terus-menerus, menjadikan para pemirsa menggunakannya untuk mengatur dan mengelola lingkungan mereka, memperlancar komunikasi antarpribadi, memperoleh akses pada sebagian orang dan institusi, mempelajari dan menerapkan perilaku dan peran sosial baru, di samping ada pula yang menggunakannya untuk menghindari orang lain atau memakainya untuk mendominasi orang lain.

Sebenarnya sekarang ini adalah zamannya media. Hidup kita “dikepung” media, rasa-rasanya sulit untuk tidak hidup dengan media. Sebagian atau bahkan banyak dari pengetahuan dan informasi yang kita miliki kita peroleh dari berbagai media. Berbicara citra mengenai apapun, apakah itu manusia dan benda, yang melekat pada diri kita, sebagian besar dibentuk oleh media.

Nah, dalam konteks kemampuan dalam pembentukan citra itulah, media bisa berperan untuk mengangkat isu-isu perempuan ke sektor publik yang lebih luas. Di sini media bisa membuat citra yang tidak dikriminatif dan memojokkan identitas mental dan tubuh perempuan, atau membakukan peran sosial perempuan. Media bisa membangun citra bahwa perempuan pun memiliki kemampuan yang sama seperti laki-laki bila diberi kesempatan. Karena itu, citra-citra “baru” mengenai perempuan harus terus-menerus ditampilkan, sampai akhirnya menjadi familiar. Peran media dalam mengubah posisi subordinasi perempuan adalah mengubah citra perempuan yang selama ini diyakini masyarakat dan kemudian ditampilkan oleh media itu sendiri.

Daftar Referensi

Abar, Ahmad Zaini. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”, Kedaulatan Rakyat, 19 December 1997, hal. 4

Barrett, Michael. 1997. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. The Continuum Publishing Company,  New York.

Bordo, Susan. 1990. “Feminism, Postmodernism, and Gender Skepticism”. Routledge, Chapman & Hall, Inc., London.

Kertaredja, P. Bone. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”, Kedaulatan Rakyat, 23 December 1997, hal. 4

Mulkham, Abdul Munir.  “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”, Kedaulatan Rakyat, 23 December 2007, hal. 4

Mutrafin. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”, Bernas, 22 December 1997, hal 4

Naomi, Intan Omi. 1997.  “Wartawati Herstory”, Sangkan Paran Gender. Pustaka Pelajar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1997), hal 105.

Stivens, Maila. “Concealing Politics, Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia, paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person, Power, and Politics, NUS, 11-13 Agustus 2005.

Pos ini dipublikasikan di SOSIOLOGI GENDER. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s