Jacques Derrida: “Sejarah telah Berakhir?”

Jacques Derrida: “Sejarah telah Berakhir?”

Riwayat Singkat Jacques Derrida

Jacques Derrida dilahirkan di El-Biar, Algeria pada tahun 1930. Ia merupakan salah satu dari banyak pemikir terkemuka yang berdarah Yahudi. Ayahnya bekerja sebagai salesman. Dan Derrida adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Pada tahun 1942 terjadi gerakan anti-semit yang cukup marak di Algeria. Pada suatu hari di tahun yang sama, Derrida mulai bersekolah. Ia belum tahu jika pergolakan yang sedang terjadi  itu ditujukan kepada kaumnya, Yahudi. Derrida kecil memulai hari pertama sekolahnya dengan suka cita hingga kemudian kepala sekolah memanggilnya ke kantor dan menyuruh Derrida kecil pulang. “Pulanglah, orangtuamu akan menjelaskan semua ini padamu,” demikian ujar Derrida menirukan ucapan sang kepala sekolah. Masa kecil Derrida diwarnai oleh teror Nazi yang membuat hidupnya dipenuhi oleh ketegangan-ketegangan kecil yang cukup membekas di dalam benaknya.

Pada usia 22 tahun ia menuju Perancis untuk melanjutkan studinya di Ecole Normal Superieur, Paris. Di sanalah ia memperdalam filsafat fenomenologi Edmund Husserl dan banyak belajar kepada Michel Foucault dan Louis Althusser. Setelah melakukan studi mendalam pada Arsip Husserl di Leuven, Belgia, ia kemudian menjadi pengajar di almamaternya. Pada saat terjadinya perang kemerdekaan di Algeria, sejak tahun  1957-1959 Derrida diminta bekerja untuk mengajar bahasa Perancis dan Inggris bagi  anak-anak tentara Algeria.

Ia menyelesaikan disertasi doktornya pada tahun 1980, dan kemudian disertasi ini diterbitkan menjadi buku dalam bahasa Inggris dengan judul “The Time of a Thesis Punctuation.” Hingga akhir hayatnya, Derrida tercatat sebagai direktur penelitian di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Paris. Derrida juga dikenal sebagai pendiri dan ketua pertama dari International College of Philosophy, sebuah lembaga riset yang memberikan tempat bagi para filsuf untuk meneliti.

Pada tahun 1966 ia memberi ceramah di John Hopkins University, Amerika Serikat.  Pada saat itu ia menyajikan sebuah makalah yang berjudul “Structure, Sign and Play in the Discourse of The Human Sciences” makalah yang ia bawakan dalam ceramahnya itu menarik minat banyak orang kepada Derrida. Kemudian dimulai sejak saat itulah ia banyak bepergian untuk memberikan kuliah-kuliahnya dan bahkan menjadi pengajar tetap di berbagai universitas di Amerika Serikat. Pada tahun 1986 ia dikukuhkan menjadi profesor dalam bidang humaniora pada University of California, Irvive, di mana di tempat inilah sebagian besar manuskripnya disimpan.

Derrida juga dalah anggota dari Amrican Academy of Arts and Sciences dan pada tahun 2001 menerima penghargaan Adorno. Sepanjang hidupnya ia menerima doktor kehormatan dari Cambridge University, Columbia University, University of Essex, University of Leuven dan Williams College.[1]

Pada tahun 2003 Derrida didiagnosa menderita kanker pankreas. Akibatnya kesehatannya makin menurun, dan aktivitasnya untuk memberikan kuliah semakin jarang dilakukannya. Setelah menderita sakit yang cukup parah dan perawatan medis yang cukup lama, Derrida meninggal pada malam Jum’at 8 Oktober 2004 di rumah sakit Paris.[2]

Walaupun si pengeluh itu wafat, tetapi sampai sekarang “Konsep” dekonstruksinya (Derrida sendiri menolak merumuskan dekonstruksi sebagai konsep, teori, atau semacamnya) mampu mewarnai wacana pemikiran di berbagai bidang, dari sastra hingga tata busana, dari senirupa hingga arsitektur. Dekonstruksi selalu menyertai wacana pemikiran filsafat kontemporer seperti struturalisme, pascastrukturalisme, pasacamodernisme, pascakolonialisme, teori kritis, dan kritik baru (new criticism).

Pada masa-masa awal karirnya sebagai filsuf, Derrida mempelajari filsafat fenomenologi dari Edmund Husserl. Karya tulisnya tentang fenomenologi Edmund Husserl itu kemudian diterbitkan pada tahun 1954 dengan judul “The Problem of Genesis on Husserl’s Phenomenology.”

Dalam sebuah konferensi di John Hopkins University, ia menulis sebuah makalah yang cukup membuat banyak orang “melirik” padanya. Makalah dengan judul “Struktur, Tanda, dan Permainan Wacana dalam Ilmu Humaniora” itu mengajukan sebuah kritik terhadap kaum strukturalis. Dan ia menjadi satu-satunya orang di dalam konferensi yang tidak begitu saja tunduk faham strukturalisme. Makalah yang ia presentasikan itu kemudian diterbitkan pada tahun 1970 dengan judul “Kontroversi Strukturalis.”

Dalam konferensi tersebut ia bertemu dengan Paul de Man, yang akan menjadi teman kontroversialnya. Di sana juga ia bertemu dengan seorang psikoanalis berkebangsaan Perancis, Jacques Lacan, yang kemudian menjadi teman kerja Derrida.

Konsep dekontruksi yang ia ajukan sebagai cara pandang baru yang mengkritisi strukturalisme menjadikan Derrida sebagai seorang filsuf yang terkemuka, juga kontroversial. Dekonstruksi adalah sebuah upaya untuk membongkar makna dan interpretasi sebuah teks (sastra, filsafat atau lainnya). Pada mulanya banyak orang bingung memahami sistem dekontruksi yang diciptakan oleh Derrida, dan hal itu menyebabkan sedikit kritik baginya.

Sejarah Telah Berakhir?

Kebenaran sejarah merupakan tema penting sejak RG Collingwood, bapak ilmu sejarah modern, di awal abad 20 memperkenalkan pola penulisan sejarah yang telah diteorikan dan dimetodologikan sehingga penulisan atas suatu peristiwa di masa lalu bisa diharapkan lebih mendekati kebenaran dengan menjaga prinsip-prinsip obyektif yang dimiliki.[3]

Bagi sejarawan konvensional, khususnya mereka yang menjadi penganut mahzab Leopold von Ranke – mungkin – konsep Derrida tentang dekontruksi adalah momok yang dianggap akan menghancurkan eksistensi ilmu sejarah. Bagaimana tidak, Derrida menyodorkan sebuah konsep dekontruksi yang meragukan kestabilan makna kata dalam setiap teks, apapun itu. Dan ilmu sejarah sebagai ilmu yang menjadikan teks (baca: arsip, sumber tertulis dari masa lalu) sebagai sandaran utama dalam proses produksinya seakan-akan diragukan posisinya dalam ilmu pengetahuan. Dan dari sanalah ia mengatakan bahwa inilah saatnya di mana sejarah sebagai sebuah ilmu telah runtuh.

Bagi para sejarawan yang mengambil jarak berhadapan dengan mereka yang konvensional, tentu saja konsep Derrida memberikan pencerahan tentang bagaimana memaknai sebuah teks (grammatologi). Sungguhpun banyak sejarawan konvensional yang menentang habis pemikiran post-strukturalis Derrida, beberapa pemikirannya tentang cara “pembongkaran” teks amat membantu sejarawan untuk merekonstruksi peristiwa masa lalu dengan lebih kritis.

Sebagaimana diketahui, bahwasannya Derrida adalah filsuf yang menaruh banyak minat pada berbagai cabang ilmu pengetahuan, termasuk di antaranya pada ilmu sejarah. Ia amat menentang konsep “endisme” yang dikemukakan oleh Fukuyama. Fukuyama menulis sebuah artikel di dalam jurnal The National Interest yang kemudian menjadi judul bukunya yang terkenal “The End of History and the Last Man.” Menurutnya, sejarah (grand narasi) telah berakhir dengan pertanda rutuhnya Tembok Berlin pada 1986 dan hancurnya komunisme Uni Soviet. Lebih lanjut ia mengatakan dalam pendahuluan bukunya:

“….Saya berpendapat bahwa sebuah konsensus luar biasa berkenaan dengan legitimasi demokrasi liberal sebagai sistem pemerintahan telah muncul di seluruh dunia selama beberapa tahun terakhir, setelah ia menaklukkan ideologi-ideologi pesaingnya seperti monarki turun-temurun, fasisme dan baru-baru ini komunisme. Lebih dari itu saya berpendapat bahwa demokrasi liberal mungkin merupakan “titik akhir dari evolusi ideologi umat manusia,” dan “bentuk final pemerintahan manusia,” sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah.”[4]

Tentu saja tolok ukur yang digunakan oleh Fukuyama bertentangan dengan apa yang dipahami oleh Derrida. Dalam buku “Specter of Marx” yang ditulisnya sebagai jawaban atas apa yang sebelumnya diemukakan oleh Fukuyama, Derrida mengajukan pertanyaan: “Bagaimana mungkin orang bisa terlambat untuk tiba pada akhir sejarah? Sebuah pertanyaan bagi masa kini.[5]

Tentang buku itu sendiri, “Specter of Marx” yang terjemahan dalam bahasa Inggrisnya terbit pada tahun 1993, merupakan pembelaan Derrida terhadap Marx yang pada kurun tahun 1990-an mengalami sebuah kejatuhan yang amat dahsyat. Kendati kaum Marxis sendiri akan menganggap Derrida sebagai orang yang munafik atau bahkan mungkin seorang revisionis.

Kembali kepada perdebatan tentang “akhir sejarah,” Derrida kemudian melakukan dekonstruksi terhadap wacana “akhir sejarah” yang ditulis oleh Fukuyama. Menurut Derrida, “akhir sejarah” yang menggunakan kemenangan demokrasi liberal sebagai pertanda adalah salah besar. Derrida melihat apa yang dilakukan Fukuyama tak lebih dari pembelaan terhadap demokrasi liberal yang diusung oleh Amerika Serikat.

Fukuyama menjadikan konsep Hegel yang mengatakan bahwa akhir sejarah umat manusia adalah terbentuknya negara liberal sebagai titik pijak awal pandangannya tentang akhir sejarah. Berlawanan dengan apa yang ditulis oleh Karl Marx bahwa titik akhir sejarah adalah terbentuknya masyarakat komunis yang tanpa kelas.

Jadi mengapa persoalan di atas menjadi pertanyaan? Derrida dalam hal ini terutama menanggapi pernyataan yang dikemukakan oleh Fukuyama tentang sejarah yang berakhir, Derrida segera mengambil posisi yang berlawanan dengan Fukuyama. Derrida dengan nada tinggi yang kontroversial mempertanyakan “bagaimana mungkin wacana semacam itu bisa diciptakan oleh mereka yang merayakan keunggulan kapitalisme liberal dan persekongkolannya yang sudah niscaya dengan demokrasi liberal, hanya dengan tujuan  menyembunyikan, terutama dari diri mereka sendiri, fakta bahwa kemenangan ini tidak pernah berwatak kritis, rapuh, terancam, bahkan dari segi tertentu mengundang bencana, dan secara keseluruhan berduka karena kehilangan pasangannya?”

Dari hasil telaah dekonstruktifnya, dengan tegas dan berani ia mengatakan bahwa yang dikemukakan oleh Fukuyama adalah semata siasat ideologis untuk meyakinkan dirinya sendiri. Sebab “akhir sejarah” akhirnya berarti penindasan terhadap oposisi politik oleh penguasa baru yang tengah bercokol.

Bukan Peristiwa yang Berakhir, Melainkan Ilmu?

Menurut Derrida yang berakhir bukanlah sejarah sebagai sebuah hal yang koheren, proses tunggal dan evolusioner sebagaimana yang dipahami oleh Fukuyama, melainkan ilmu sejarah itu sendiri.  Togi Simanjuntak dalam sebuah artikelnya yang dimuat di Harian KOMPAS, 3 Desember 2005 mengatakan bahwa Kritik terpenting pascastrukturalisme dan pascamodernisme adalah menyangkut historisisme. Baik pascastrukturalisme maupun pascamodernisme menolak paham yang mengatakan sejarah memiliki pola umum, bahwa masyarakat berkembang ke arah lebih baik dari zaman ke zaman. Sejarah konvensional memasukkan peristiwa-peristiwa berdasarkan pembabaran besar dalam suatu proses yang linier. Sejarah sebagai suatu narasi besar diperlihatkan melalui peristiwa dan tokoh besar dengan mendokumentasikan asal-usul kejadian, menganalisis genealogi, lalu membangun dan mempertahankan singularitas peristiwa, memilih peristiwa yang dianggap spektakuler (seperti perang), serta mengabaikan peristiwa yang bersifat lokal dan tanpa kekerasan (kehidupan di pedesaan, misalnya).

Cara menulis, memahami, dan memberi makna peristiwa masa lalu seperti ini dinilai sudah usang. Pemikir pascastrukturalis Jean-Francois Lyotard dalam The Sign of History (1989: 393ff) secara sinis menyebutkan teori-teori besar sejarah modern yang dibangun sejak Marx dan Engels dengan materialisme-historisnya, juga para penganut teori demokrasi liberal beserta teori ekonomi pasca-Keynesian, telah runtuh. Ia menggunakan Peristiwa Auschwitz 1945, Peristiwa Budapest 1956, protes mahasiswa 1968, dan krisis ekonomi dunia 1974 sebagai titik pijak gugatannya.

Sejarah memang yang unik, yang – seperti telah dikemukakan sebelumnya – menyandarkan kepada teks tertulis. Sehebat dan sesahih apapun metodologi dan teori yang digunakan, ia akan tetap dan selalu tetap bergantung pada teks yang digunakan. Metodologi hanya membantu sejarawan untuk membangun kontruksi peristiwa masa lalu dengan sistematis.

Kembali pada Derrida, ia memperkenalkan metode membaca teks. Dalam Speech and Phenomena, and Other Essays on Husserlss Theory of Signs (1973) serta Writing and Difference (1978), Derrida membongkar pendekatan tradisional, seperti yang dipahami sejarawan konvensional, bahwa teks merupakan pembawa makna yang stabil dan setiap peneliti mencari kebenaran (ilmu pengetahuan) melalui teks. Dekonstruksi memisahkan konsep tradisional penulis dan karyanya. Dekonstruksi tidak mengistimewakan penulis, mengubah sejarah dan tradisi menjadi intertekstualitas, dan meninggikan pembaca. Dekonstruksi merupakan aktivitas pembacaan di mana teks harus dibaca dengan cara sama sekali baru.

Menurut Derrida, teks dapat menyembunyikan kekurangan, kelemahan, dan kebohongan penulis serta mengandung sejumlah ketakkonsistenan konsep bahkan kontradiksi ciptaan penulis yang menjadi landasan teks, sehingga muncul sulawan (paradoks) dalam menggunakan konsepnya di dalam teks secara keseluruhan. Tak seorang pun dapat membuat sarana (tanda) dan tujuan (makna) menjadi identik. Bahasa merupakan proses temporal (Togi Simanjuntak, “Kritik Historisisme Historiografi Peristiwa 1965,” KOMPAS 3 Desember 2005)

Saya dapat memberikan contoh yang sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, Anda menganggap agama yang Anda anut merupakan sebuah “agama sempurna”. Jika suatu hari Anda/orang lain tiba-tiba mempertanyakan salah satu bagian agama itu, atau bahkan mungkin meragukannya, maka Anda harus mempertimbangkan kembali kesempurnaan agama Anda itu. Setidaknya, Anda harus kembali mendefinisikan konsep sempurna itu, karena bagaimana pun, konsep kesempurnaan agama Anda itu sudah menjadi tidak sempurna lagi. Konsep yang tidak sempurna inilah yang menjadi satu-satunya konsep yang Anda miliki, karena pada waktu yang bersamaan akan selalu ada kemungkinan bagi sebuah pemaknaan bahwa agama Anda itu ternyata bukanlah “agama sempurna”. Menurut dekonstruksi, kita tidak akan dapat mencapai titik definitif dari konsep-konsep kita. Sama halnya jika Anda berdebat mengenai penyebab dan efek kebakaran. Anda menduga-menduga kapan api itu menjalar (penyebabnya) atau efeknya. Namun setelah Anda merenungkannya sejenak, akan didapati jika perbedaan antara “sebelum” dan “setelah” tersebut terdiri dari satu titik yang terlalu sukar utnuk dipadatkan dan dibagi menjadi 2 (menjadi “sebelum” dan “sesudah”). Ini juga berlaku pada kata-kata, ia terlihat sarat makna jika terdengar di telinga, tetapi tiba-tiba ia seolah-olah hanya menjadi sekam saat ktia jumpai di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketika maknanya lenyap ditelan oleh metafora dan sinonim-sinonim belaka.

Wicara dan tulisan

Perbincangan filsafat pada prinsipnya merupakan perbincangan tentang logos, istilah Yunani untuk wicara (bahasa lisan), pikiran, hukum, atau akal/rasio. Dalam sejumlah esainya, Derrida menunjukkan bagaimana selama ini para filsuf dan ilmuwan lebih menekankan pentingnya wicara (speech) ketimbang tulisan (writing).

Ketika membahas Esai Tentang Asal Usul Bahasa karya Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), Derrida menunjukkan bagaimana Rousseau menilai wicara sebagai bentuk asali dan paling sehat dari bahasa, suatu kondisi alami dari bahasa. Rousseau mencurigai tulisan dan menganggap tulisan hanyalah turunan saja, suatu suplemen atau tambahan dari bahasa.

Tokoh lain yang juga menekan tulisan dan memajukan wicara adalah antropolog strukturalis Prancis, Claude Lévi-Strauss. Derrida membahas bukunya, Tristes Tropiques, terutama bab “The Writing Lesson” yang menganalisa munculnya tulisan dan konsekuensinya pada suku Nambikwara. Seperti Rousseau, Lévi-Strauss menunjukkan kerinduannya pada kesatuan primordial masa wicara sebelum adanya tulisan.

Keduanya menunjukkan bahwa tulisan telah melakukan “kekerasan” yang menandai tahapan yang tak mungkin kembali pada mentalitas “primitif”. Tapi, penilaian kedua tokoh itu kontradiktif dalam paparannya sendiri. Lévi-Strauss, misalnya, justru membuktikan bahwa kehidupan suku itu ditandai oleh “kekerasan spektakuler” yang bertentangan dengan pandangan sang antropolog yang memberi gambaran ideal dari kodrat mereka yang tak korup dan gembira.

Derrida berargumen bahwa tulisan itu telah menjadi bagian dari eksistensi sosial dan tak dapat ditentukan waktu munculnya yang biasanya disebut para antropolog sebagi konvensi grafis. Dalam konteks ini, tidak ada “otentisitas” murni yang dibayangkan Lévi-Strauss dan Rousseau telah dihancurkan oleh tulisan, karena tulisan itu telah ada dalam wicara.

Pembacaan teks Derrida atas naskah Lévi-Strauss dan Rousseau ini merupakan contoh bagaimana dekonstruksi bekerja. Dekonstruksi, dengan demikian, merupakan semacam strategi pembacaan yang mengungkapkan “retakan” pada naskah dan oposisi biner pada konsepnya, seperti budaya/alam (culture/nature) dan tulisan/wicara.

Derrida lalu maju ke tahap berikutnya dengan mengedepankan tulisan dalam filsafatnya. Tulisan, baginya, muncul di dalam tema hakiki dari wicara sekaligus di dalam teks. Dekonstruksi di sini berarti upaya pengungkapan aktif atas tulisan yang tertekan sekaligus siap untuk muncul. Dalam ungkapan Derrida yang sangat terkenal, “tak ada apa-apa di luar teks” (Il n’y a pas de hors-texte) yang muncul dalam Of Grammatology (1967).

Kritik Bagi Derrida

Konsep dekontruksi a’la Derrida bukannya tidak menuai kritik. Bahkan dari pendukungnya yang setiapun terpaksa mengakui bahwa Derrida memberi masalah yang cukup serius dalam pemahaman terhadap sebuah masalah. Teortisi budaya yang cukup terkemuka Christopher Norris berpendapat bahwa Derrida memancing banyak filsuf untuk mengatakan bahwa ia adalah seorang pemain metafor yang berlebih-lebihan. Para filsuf juga akan mengatakan bahwa Derrida hanyalah melakukan kegiatan corat-coret yang sok canggih, demikian Norris.

Lebih keras lagi, Wayne C. Booth mengatakan bahwa Derrida menyampaikan sebuah analisis tekstual yang “tak berkesudahan, culas dan mengerikan.” Bagaimana tidak, karena apa yang dikemukakan oleh Derrida memaksa kita untuk membongkar ulang semua kontruksi pengetahuan yang telah dibangun, termasuk di antaranya sejarah.[6]

Kesimpulan

Banyak pihak menilai bahwa untuk memahami pemikiran Derrida terbilang sulit. Kesulitan itu, menurut saya, utamanya karena Derrida tidak pernah menulis suatu buku tunggal tentang metodenya. Dia tak punya semacam Arkeologi Pengetahuan punya Michael Foucault atau Unsur-unsur Semiologi-nya Roland Barthes; kedua tokoh ini hidup semasa Derrida dan menjadi tokoh penting (pasca-) strukturalisme. Alasan kedua, Derrida menciptakan istilah baru atau neologi semacam différance–yang tampaknya merupakan suatu upaya untuk menjaga jarak dari filsafat lain–yang punya arti khusus yang tak sepenuhnya dia sendiri rumuskan.

Paling banter dia hanya menyusun sebuah daftar artikel dan bukunya yang pernah dipublikasikan dan menyarankan urutan untuk membacanya. Buku-bukunya pun merupakan kumpulan artikel yang terikat pada satu tema tertentu.

Metode kerja Derrida mutatis mutandis dengan metode Ibn Rushd (1126-1198) yang dikenal sebagai komentator Aristoteles terbesar. Dengan mengomentari tulisan-tulisan Aristoteles, Ibn Rushd membangun filsafatnya sendiri. Derrida juga demikian. Dengan mengomentari gagasan-gagasan sejumlah filsuf Barat, dari Plato sampai Foucault, ia setahap demi setahap membangun filsafatnya.

Dengan cara itulah Derrida memperkenalkan dan menjalankan projek dekonstruksinya. Sehingga, tak ada cara lain untuk memahaminya selain mengikuti bagaimana dekonstruksi itu bekerja ketika Derrida membahas suatu gagasan seorang atau lebih filsuf.

Apa yang dikemukakan oleh Derrida memang mengandung dua sisi makna yang salin berlawanan. Berkaitan dengan pernyataannya di atas tentang teks yang dapat menyembunyikan kekurangan dan kelemahan penulisnya, tentu hal itu secara langsung merupakan kalimat yang menegaskan bahwa sejarah didasarkan atas fakta ilmiah yang non-sense. Sehingga eksistensi sejarah harus dipertanyakan kembali, bahkan jika perlu dinyatakan bubar.

Namun demikian, melalui cara pembacaan kritis terhadap teks yang ditawarkannya, kita dapat benar-benar menelisik peristiwa masa lalu untuk lebih mendekati pada kebenaran. Pemisahan “si penulis” dan teks yang ditulisnya sebagai dua hal yang berbeda amat berguna membantu kita dalam menentukan validitas sebuah sumber.

Nilai penting dari karya Derrida ini terletak pada kemampuannya untuk membuat kita melihat jejak dari apa yang telah terabaikan dari konsep dan deskripsi kita karena kelemahan-kelemahan ini merupakan satu entitas yang menjadi kesatuan, yang mengakibatkan mereka tidak mustahil untuk ada dan eksis. Dekonstruksi mengajarkan kita untuk memikirkan dan merenungkan lagi dasar, praktik, konsep, dan nilai kita. Apapun itu, setelah kita menggunakan dekonstruksi, pandangan kita tidak akan menjadi terlalu dogmatis atau fanatis, bahkan akan menjadi lebih murni dan jernih.

Daftar Pustaka

Al-Fayyadl, Muhammad. 2005. Derrida. LkiS, Yogyakarta.

Akhbar S. Ahmed. 1996. Posmodernisme: Bahaya dan Harapan (terj). Mizan, Bandung.

Beilhazh, Peter. 2002. Teori-teori Sosial : Observasi Kritis Para Filosof Terkemuka (terj). Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Derrida, Jacques. 1994. “Specter of Marx: The State of the Debt, the Work of Mourning, and the New International” Routhledge, London.

Fukuyama, Francis. 2003. “The End of History and The Last Man”. Qalam, Yogyakarta.

Kurzman, Charles. 2000. Wacana Kontemporer (terj). Paramadina, Jakarta.

Magnis-Suseno, Franz. 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Kanisius, Yogyakarta.

Piliang,  YA. 1999. Sebuah Dunia Yang Dilipat. Mizan, Bandung

Simanjuntak,Togi, “Kritik Historisisme Historiografi Peristiwa 1965,” KOMPAS 3 Desember 2005.

Sim, Stuart. 2002. “Derrida dan Akhir Sejarah . Jendela, Yogyakarta.

www.bbc.co.uk.

.


[1] http://www.wikipedia.com/derrida/

[2] http://www.bbc.co.uk

[3] Togi Simanjuntak, “Kritik Historisisme Historiografi Peristiwa 1965,” KOMPAS 3 Desember 2005

[4] Francis Fukuyama, “The End of History and The Last Man” (Yogyakarta: Qalam, 2003) hal. 1-3

[5] Jacques Derrida, “Specter of Marx: The State of the Debt, the Work of Mourning, and the New International” (London: Routhledge, 1994) hal. 15

[6] Stuart Sim, Derrida dan Akhir Sejarah  (Yogyakarta: Jendela, 2002) hal. 8-9

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s