Yang Tersembunyi di Balik Hijab : Simbol dan Ideologi

Yang Tersembunyi di Balik Hijab : Simbol dan Ideologi

Pendahuluan

Masalah jilbab akhir-akhir ini kembali menjadi topik pembahasan di berbagai media massa. Wacana publik tentang jilbab seringkali berputar-putar pada pertanyaan: Apakah ia sebuah ekspresi kultural Arab ataukah substansi ajaran agama; Apakah ia sebuah simbol kesalehan dan ketaatan seseorang terhadap otoritas agama ataukah simbol perlawanan dan pengukuhan identitas seseorang?

Pada titik ini, jilbab sebenarnya masuk pada arena kontestasi, sebuah permainan makna dan tafsir. Relasi-kuasa bermain dan saling tarik antara kalangan agamawan normatif ; antara atas nama kepentingan norma (tabu, aurat, kesucian, dan privasi) dan atas nama kebebasan (ruang gerak, dll).

Dalam konteks kekinian, jilbab juga menjadi simbol identitas, status, kelas dan kekuasaan. Menurut Nasaruddin Umar, misalnya, pakaian adalah ekspresi yang paling khas dalam bentuk material dari berbagai tingkatan kehidupan sosial sehingga jilbab menjadi sebuah eksistensi sosial, dan individu dalam komunitasnya.

Simbol dan Ideologi Hijab

Jilbab dalam Islam merupakan representasi dari akhlaq yang mulia, keihsanan. Namun, dalam perkembangan zaman berikutnya, era di mana unsur-unsur peradaban pun semakin kompleks dan sistem kemasyarakatan pun mengarah kepada globalisasi, maka makna jilbab pun berkembang, bahkan hingga ke arah yang tak terduga.

Fenomena yang menarik dari maraknya penggunaan jilbab di Indonesia adalah bahwa gerakan tersebut justru dipelopori oleh mahasiswi di lingkungan perguruan tinggi non IAIN dan sekolah-sekolah menegah non pesantren sejak tahun 1980-an, sebagaimana dicatat oleh Kees van Dijk bahwa, Popularitas jilbab yang berkembang pesat sekali lagi telah mengangkat diskusi tentang apa yang merupakan tradisi Arab dan apa yang merupakan ajaran agama. Mereka yang membedakan kedua hal tersebut menemukan bahwa cadar jarang dikenakan oleh para mahasiswi di institusi-institusi perguruan tinggi Islam, namun mahasiswi di universitas sekuler kadang memilih untuk mengenakannya. Diperkirakan bahwasanya perwujudan Islam yang lebih ekstrim menemukan dukungannya pada mereka yang belum mendalami nilai-nilai Islam semenjak kanak-kanak namun oleh mereka yang menemukan pentingnya Islam kemudian dalam kehidupan mereka.[1]

Gejala ini sebenarnya memiliki kaitan erat dengan Revolusi Iran 1979 yang menetapkan seluruh perempuannya—termasuk turis asing yang sedang berkunjung ke negeri itu—untuk memakai jilbab apabila akan bepergian keluar rumah. Bahkan pada saat itu, majalah-majalah berbahasa Inggris—seperti Yaumul Quds, Makjubah, dan lain sebagainya—menampilkan potret-potret perempuan anggun, terpelajar, pejuang dan tokoh masyarakat dengan jilbabnya yang beraneka corak dan warna. [2]

Akbar S. Ahmed melihat bahwa proses kembalinya umat Islam kepada identitas primordial merupakan suatu cara memperoleh kembali martabatnya yang hilang. Seorang wanita mengenakan hijab atau seorang pria memelihara jenggot, keduanya berupaya mendapatkan kembali harga diri mereka. Mereka membuat pesan: dengan menonjolkan diri dan identitas mereka sendiri, mereka bermaksud menangkap kembali sedikit martabat yang secara mendalam diperlukan oleh semua manusia. [3]

Sedangkan di Indonesia jilbab muncul dalam bentuk simbol yang memiliki banyak makna serta didasarkan pada pemahaman perempuan yang menggunakannya, bahkan Suzanne April Brenner berpendapat bahwa jilbab di Indonesia merupakan suatu peristiwa yang “seratus persen modern” di mana perempuan berjilbab adalah sebagai suatu tanda globalisasi, suatu lambang identifikasi orang Islam di Indonesia dengan umat Islam di negara-negara lain di dunia modern ini…(serta) …menolak tradisi lokal, paling tidak dalam hal berpakaian; dan sekaligus si pemakai juga menolak hegemoni Barat, dan hal-hal lain yang terkait dengannya di Indonesia. [4]

Pada awalnya, jilbab di Indonesia hanya dianggap sebagai simbol busana kaum pinggiran, selain itu pemakaiannya pun sangat dibatasi oleh ruang dan waktu, misalnya pada saat melayat, shalat tarawih berjama’ah di masjid, atau pada hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha; sedang perempuan yang mengenakan jilbab kemanapun ia pergi biasanya adalah seorang perempuan yang sudah berhaji (hajjah). Namun, hal tersebut telah mengalami perubahan yang cukup drastis. Pada tahun 1980-an dan 1990-an telah menjadi mode dan menjadi simbol identitas Muslim yang diakui di kalangan gadis-gadis muda.

Pada kenyataannya di era mendekati abad 21 ada juga fenomena lain dari Jilbab yang dapat dikategorikan sebagai suatu fenomena gaya hidup pop, fenomena yang biasanya dikenal dengan nama ‘kudung gaul”, atau “jilbab trendi” bankan menjadi tren tersendiri. Perempuan yang mengenakan kudung gaul tersebut biasanya selalu mengenakan jilbab pada saat bepergian keluar rumah, namun jilbab itu kemudian dikombinasikan dengan pakaian berupa sweater atau t-shirt yang “kekecilan” (body fit) sehingga membentuk lekuk-lekuk tubuhnya dan tergantung di atas pinggangnya, serta celana (jeans maupun katun) yang juga ketat (stretch atau hipster). Cara berpakaian ini memang sedang menjadi suatu trend fashion yang seringkali diidentikkan sebagai pakaian anak gaul. Oleh karena itu, cara pandang mereka terhadap jilbab sangatlah banal dan permukaan, selain itu dalam pergaulan pun mereka mengikuti etika yang berlaku pada komunitas anak gaul, seperti cara berpacaran, kebiasaan jalan-jalan di mal, ngeceng, mendatangi jumpa fans atau konser idolanya dan berteriak-teriak histeris, bahkan dalam beberapa kasus ada yang hingga hamil di luar nikah. Kudung gaul dalam hal ini bisa dikatakan sebagai suatu bentuk ideologi skizofrenik.

“Busana muslimah kian trendi,” begitu headline yang tertulis di suatu koran nasional dan menandakan bahwa dunia fashion pada akhirnya melirik busana muslimah sebagai alternatif gaya seperti yang terjadi pada tanggal 10 Januari 1996 di mana digelar peragaan busana dengan tema “Tendensi Busana Muslim” yang mengambil tempat di Puri Agung, Hotel Sahid Jakarta dan memperagakan karya-karya dari 12 desainer. Pada saat itu, peragaan tersebut bisa dikatakan merupakan suatu terobosan baru, suatu pergelaran besar yang menyajikan keanggunan dan kemewahan busana muslimah yang kemilau. Acara ini merupakan suatu upaya adaptasi busana muslimah yang dulu diidentikkan dengan pakaian kaum pinggiran kepada kalangan atas, dan, sebagaimana layaknya peragaan fashion lainnya. Atau paling tidak untuk melepaskan keinginan terpendam sang desainer yang diungkapkan lewat karya-karyanya yang “aneh”; suatu cara untuk menghindari kejenuhan akan model busana yang itu-itu saja[5]; tentu saja kreasi-kreasi tersebut memang terlalu riskan untuk dikatakan memenuhi syarat-syarat digariskan dalam syari’at Islam.

Fenomena lainnya adalah bahwa pada saat ini pun relatif lebih mudah untuk menemukan showroom busana muslimah dengan koleksi-koleksinya yang menarik. Harganya pun ada yang berkisar hingga ratusan ribu ke atas. Busana muslimah pun kini muncul dalam berbagai corak dan warna, bahkan juga dipadukan dengan berbagai corak etnik.

Dalam kenyataannya memang gaya visual bisa menyatu dengan gaya hidup karena manusia tidak bisa lepas dari bahasa rupa, baik tiga dimensi maupun dua dimensi. Pada zaman tradisional masyarakat terbagi sangat jelas baik melalui perhiasan ataupun pakaian. Alvin Toffler menyatakan bahwa sekarang ini terjadi kekacauan nilai, yang diakibatkan oleh runtuhnya sistem nilai tradisional yang mapan sehingga yang ada adalah nilai-nilai terbatas seperti kotak-kotak nilai yang disebutnya sebagai subkultur (sebagai akibat peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat  modern).

Toffler mendefinisikan gaya hidup sebagai, …alat yang dipakai oleh individu untuk menunjukkan identifikasi mereka dengan subkultur tertentu. Setiap gaya hidup disusun dari mosaik beberapa item, yaitu “super-product” yang menyediakan cara mengorganisir produk dan idea.[6]

Dalam perspektif ini, maka busana muslimah pun bisa dikategorikan sebagai sebuah gaya hidup yang menawarkan sebuah identitas sekaligus sarana untuk menghindari kebingungan dikarenakan begitu banyak pilihan. Namun, gaya hidup yang berkembang hari ini sangat beragam, mengambang dan tidak hanya dimiliki oleh suatu masyarakat khusus. Dengan kata lain, semua individu adalah konsumer yang bisa memilih dan membeli gaya hidupnya sendiri sesukanya sehingga terjadilah ketidakpastian akan nilai dan gaya hidup yang sebenarnya ditawarkan oleh busana muslim. Karena sistem “pasar gaya hidup” inilah maka perubahan yang radikal dan ironis dalam idiom busana muslimah pun terjadi secara paradigmatik maupun sintagmatik.

Sedangkan hari ini idiom hijab atau busana muslimah tersebut diubah secara paradigmatik. Jilbab, misalnya, diganti dengan sebuah topi yang menutupi rambut saja, atau ciput yang biasanya hanya menjadi bagian dalam dari jilbab, atau bahan-bahan lainnya yang biasanya fashionable namun masih menampakkan bagian leher. Selain itu secara sintagmatik jilbab, misalnya lagi, dipadukan dengan sweater atau t-shirt body fit ditambah celana atau jeans yang ketat (stretch atau hipster), plus kosmetik tebal dan parfum yang menyengat. Selain itu, pemilihan warna pun dikombinasikan hanya sebatas pertimbangan matching atau tidak, sebatas estetika pop saja.[7]

Berkaitan dengan hal ini Lama Abu Odeh mencatat, Andaikan kita dapat membekukan waktu tersebut dalam era 70-an, dalam upaya untuk memahami hubungan wanita dengan tubuh mereka, kita akan menemukannya berlapis-lapis dan amat rumit. Dari satu sisi tubuh mereka nampak sebagai medan perang dimana perjuangan budaya masyarakat pasca kolonial berlangsung. Di sisi lain, busana Barat yang menutupi tubuh mereka membawa dengannya konstruksi kapitalis atas tubuh wanita: yang terseksualisasi, terobjektivikasi, terbendakan, dsb… Namun karena kapitalisme tidak pernah benar-benar menang dalam masyarakat pasca kolonial, dimana ia berhasil tinggal bersama dengan formasi-formasi sosial pra-kapitalis (tradisionalisme), tubuh-tubuh para wanita ini juga secara simultan terkonstruksi secara ‘tradisional’: ‘terbendakan’, ‘termilikkan’, terteror sebagai wakil kehormatan (seksual) keluarga. Proses tinggal bersama (kohabitasi) dalam tubuh wanita dari konstruksi ganda ini (yang kapitalis dan yang tradisional) dialami oleh para wanita ini sebagai sesuatu yang senantiasa berselisihan. Yang awal seperti memaksa mereka untuk menjadi perayu, seksi dan seksual, sementara yang terakhir menjadi pemalu, konservatif dan aseksual. Di mana yang awal didukung oleh atraksi pasar (konsumsi komoditas-komoditas Barat), yang terakhir didukung oleh ancaman kekerasan (sang wanita amat disucikan, seringkali dengan kematian, jika ia mengorbankan kehormatan seksual keluarga).[8]

Fashion pada dasarnya adalah suatu antusiasme yang singkat terhadap sesuatu seperti pada gaya berpakaian. Gejolak tersebut datang dan pergi secara cepat. Selain itu, fashion pun merepresentasikan kecenderungan perilaku manusia yang berlangsung sangat singkat.

Dalam masyarakat modern fashion merupakan suatu industri yang memutar faktor manusia dan modal yang kemudian menjadikannya sebagai suatu kebutuhan industri sehingga terbentuklah pola-pola yang berkaitan  dengan perkembangan fashion. Penilaian terhadap suatu komoditi (dalam hal ini adalah busana muslimah) ditentukan oleh pola pikir masyarakat yang berkembang pada saat itu yang dapat menular dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya melalui media sehingga mengembangbiakkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, makna-makna konotatif; inilah ideologi.

Kesadaran ideologis berada pada tingkat kesadaran psikis, atau lebih tepatnya lagi di wilayah ego yang merupakan sistem representasi berupa image yang mengkonstruksi doxa (waham atau kesadaran semu) yang bersumber dari fakultas-fakultas tubuh. Apabila jilbab masih berupa suatu sistem penampakan entah berupa fashion, simbol keagamaan, wacana (dekonstruksi), maka pada tataran tersebut jilbab masih merupakan kesadaran ideologis yang sangat rentan terhadap permainan semiotis.

Hijab sebagai busana muslimah kini mengalami deviasi dalam bentuk yang lebih halus; dia tidak lagi dikaitkan praktek takhayul yang naif, tidak pula dengan tabu-tabu, akan tetapi dengan image atau, dalam bentuk yang lebih sophisticated, wacana dekonstruksi (syari’at). Seperti yang juga terjadi pada Hippies, Punk, dan lainnya, jilbab pun tidak terlepas dari sentuhan kapitalisme yang mengubahnya menjadi komoditi yang bebas dikonsumsi. Misalnya dalam acara-acara keagamaan di televisi, setelah syarat-syarat utama sang presenter terpenuhi—cantik, terkenal, artikulatif dan memiliki image ramah dan riang—maka kemudian dilengkapilah dengan hijab sebagai kode acara tersebut (hal serupa tidak selalu “diberlakukan” kepada presenter laki-laki). Pada kesempatan lain, bisa saja sang presenter kemudian tampil di acara yang bernuansa pantai atau kolam renang dengan tuntutan swimsuit atau bikini sebagai kodenya. Hal ini menjadi sesuatu yang umum karena pakaian cenderung dipakai sebagai representasi ideologi yang seakan dijajarkan dalam suatu etalase, dalam suatu “demokrasi selera” dari sekian banyak tawaran pilihan gaya hidup yang disediakan; dan, terutama dalam “dunia gemerlap”, hijab hanyalah salah satu dari sekian banyak daftar pakaian yang harus dikenakan dalam menjalani profesi sebagai selebritis.

Permainan semiotis dari simbol-simbol keagamaan tidak hanya terjadi pada hijab saja, contoh lainnya adalah seperti penggunaan peci haji yang secara sintagmatik dipadukan dengan kode busana gaul lainnya yang, tentu saja, menghilangkan image spiritualitasnya, dan digantikan dengan image yang baru sama sekali.

Lama Abu Odeh pun pernah memberikan ilustrasi bagaimana dengan berjilbab seorang perempuan dapat terhindar dari pelecehan seksual (sexual harassment), terlindung dari perkataan dan perlakuan yang tidak senonoh terhadap dirinya dibanding dengan perempuan yang berpakaian “terbuka” seperti yang dikemukakannya bahwa Kesediaan seorang wanita untuk mengemukakan keberatan terhadap gangguan pria sangatlah berbeda ketika ia berhijab. Rasa ‘untuk tidak tersentuh’ dari tubuhnya biasanya lebih kuat dari pada seorang wanita yang tidak berhijab.[9]

Namun hal itu ternyata tidak berlaku bagi para perempuan pengguna kudung gaul dikarenakan mereka masih menonjolkan daya tarik tubuhnya kepada laki-laki (di samping kode-kode gaul yang digunakannya dalam berinteraksi secara sosial) yang secara otomatis menghilangkan “rasa segan” terhadap perempuan berjilbab pada umumnya untuk kemudian mereka pun cenderung diperlakukan sama dengan perempuan yang berpakaian “terbuka” lainnya.

Penutup

Tidak perlu merangkai kata-kata hingga menjadi kalimat demi mewakili ide, juga tidak perlu membicarakanya melalui alat-alat suara demi menyampaikan sebuah maksud, adalah tubuh dan segala sesuatu yang dipakaikan ke tubuh yang akan membentuk “kata-kata” atau alat untuk menyampaikan ide. Pakaian adalah ekspresi dari suatu jalan hidup, sedang hijab, khususnya, merupakan representasi spiritualitas. Namun, simbol, bagaimanapun, dapat dipandang sebagai suatu entitas kosong yang bisa diisi dengan petanda apapun. Oleh karena itu, Washburn pun mengkategorikan jilbab sebagai personal symbol yang membawa makna baik di tingkat personal maupun kebudayaan (dan habitus) karena tidak semua orang memakainya.[10]

Secanggih-canggihnya semiotika membeberkan wacana jilbab tetaplah sulit untuk bisa mewakili keseluruhan fenomena jlbab yang ada hari ini karena hal tersebut selalu berkaitan kepribadian si pemakai dan pemaknaan subyektifnya. Jilbab dalam basis teologinya kini senantiasa berada dalam dilema ketika berhadapan dengan media dan gaya hidup pop, ketika berhadapan dengan persimpangan jalan antara nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai gaul.

Tampaknya pola sejarah manusia memang berjalan ke arah yang semakin halus. Tak ada lagi perbudakan manusia secara fisik di dunia ini, yang kemudian berganti pola menjadi apa yang biasa dikenal sebagai hegemoni. Tak ada lagi fetishisme terhadap berhala, berganti menjadi fetishisme terhadap komoditi dan citra yang dikandungnya. Begitu pula halnya dengan hijab sebagai simbol keagamaan, deviasi yang dialaminya bukan lagi berupa takhayul-takhayul yang naif, tabu-tabu yang menekan perempuan, tapi bergerak ke arah yang semakin halus berupa deviasi semiotik atau pembacaan berbasis wacana yang semakin sophisticated. Dalam garis tipis halus dan licin itulah kini manusia diuji dan disaring ihwal kemurnian niatnya dalam mencari Tuhan.

Pendek kata, jilbab secara historis mempunyai banyak makna. Jilbab lebih dari sekadar cita rasa berbusana religius. Jilbab terkadang tampil sebagai simbol ideologis dari suatu komunitas tertentu, menjadi fenomena bagi suatu lapisan sosial, menjadi simbol segregasi jender, menjadi simbol komunitas patriarki, menjadi simbol “keterbatasan” peran wanita, dan lain-lain. Jilbab adalah sebuah fenomena majemuk, memiliki tingkat-tingkat makna dan beragam konteks. Persoalan jilbab tak lagi wajib-mubah, haram-halal, etis-tidak etis. Ia menyiratkan simbol sarat makna dan kepentingan, tergantung siapa pemakainya.

Daftar Pustaka :

Ahmad Mansyur Suryanegara, (1991): Membudayakan kembali Libasut Taqwa di Indonesia, Diskusi Busana Muslimah, Festival Istiqlal 1991, 29 Oktober, Hotel Borobudur Intercontinental, Jakarta.

Akbar S. Ahmed, (1997): Living Islam: Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand Hingga Stornoway, alih bahasa oleh Pangestuningsih, Mizan: Bandung.

Beryl Causari Syamwil dalam Busana Muslimah kian Trendi, Republika, Minggu, 28 Januari 1996.

_____________ , (Dzulqaidah 1414): Harapan kepada Peran Buku-buku Tentang Wanita Islam di Indonesia, dalam Jurnal Salman Komunikasi Aspirasi Ummat (SKAU),

Dijk, Kees van, (1997): Sarong, Jubbah, and Trouser, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.): Outward Appearances: Dressing State & Society in Indonesia, KITLV Press: Leiden.

Lama Abu Odeh, (1997): Post-Colonial Feminism and the Veil: Thinking the Difference, dalam Mary M. Gergen & Sara N. Davis (ed.), Toward a New Psychology of Gender: A Reader, Routledge: New York.

Nasaruddin Umar, (1996): Antropologi Jilbab, dalam Ulumul Qur’an, no. 5, vol. VI, Lembaga Studi Agama dan Filsafat bekerjasama dengan Pusat Peranserta Masyarakat.

Washburn, Karen E., (2001): Jilbab, Kesadaran :Post-Kolonial, dan Aksi Tiga Perempuan (Jawa), dalam Monika Eviandaru, dkk., Perempuan Postkolonial dan Identitas Komoditi Global, Kanisius: Yogyakarta.


[1] Dijk, Kees van, (1997): Sarong, Jubbah, and Trouser, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.): Outward Appearances: Dressing State & Society in Indonesia, KITLV Press: Leiden, hal. 75-77.

[2] Beryl Causari Syamwil, (Dzulqaidah 1414): Harapan kepada Peran Buku-buku Tentang Wanita Islam di Indonesia, dalam Jurnal Salman Komunikasi Aspirasi Ummat (SKAU), hal. 19

[3] Akbar S. Ahmed, (1997): Living Islam: Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand Hingga Stornoway, alih bahasa oleh Pangestuningsih, Mizan: Bandung, hal 212.

[4] Washburn, Karen E., (2001): Jilbab, Kesadaran :Post-Kolonial, dan Aksi Tiga Perempuan (Jawa), dalam Monika Eviandaru, dkk., Perempuan Postkolonial dan Identitas Komoditi Global, Kanisius: Yogyakarta, hal. 111.

[5] Kebosanan adalah perilaku yang dipacu oleh masyarakat industri atau kapitalis. Sistem nilai yang berlaku di situ adalah nilai-nilai yang berpijak pada suatu kapital atau uang. Masyarakat diajak berkelana dalam siklus kehidupan fashion, dan diajari untuk selalu meraih sesuatu yang baru, serta diajari juga untuk cepat bosan terhadap suatu mode. Sebuah siklus yang seolah selalu menawarkan kebaruan, suatu progress, padahal sebenarnya mereka hanya berputar-putar saja. Selain itu masyarakat pun seolah diberikan kebebasan untuk memilih yang sebenarnya adalah pendiktean dari seperangkat gaya oleh produsen kepada konsumen.

[6] Lihat Washburn, Karen E., (2001): op cit, hal :132.

[7] Baru-baru ini sempat mencuat suatu peristiwa yang kontroversial dalam dunia fashion di Prancis di mana seorang desainer terkemuka menempelkan potongan ayat Al-Qur’an yaitu surat Al-Baqarah yang ditempelkan di atas bagian belahan dada yang terbuka pada baju rancangannya. Ketika ditanya, sang desainer berkata bahwa dia tidak mengetahui bahwasanya huruf Arab tersebut adalah ayat Al-Qur’an, karena dia menemukan sebuah potongan ayat tersebut—entah dari mana—yang kemudian dinilainya sangat bagus apabila ditempelkan pada salah satu baju rancangannya. Di sini bisa dilihat bahwa “estetika” bagi desainer jauh lebih utama ketimbang maknanya.

[8] Lama Abu Odeh, (1997): op.cit., hal. 246-247.

[9] Lama Abu Odeh, (1997): op.cit., hal. 248-249.

[10] Washburn mengkategorikannya menjadi tiga bagian, dan dua kategori selain personal symbol tersebut adalah, pertama, cultural symbol, suatu simbol yang sangat dikenali dan diketahui oleh orang di satu kebudayaan. Kedua, psychogenetic symbol, suatu simbol yang mungkin mempunyai arti personal untuk pelaku-pelaku di zaman dulu, tetapi yang sekarang sudah hilang arti personalnya. Lihat Washburn (2001): op.cit., hal. 131-132.

Pos ini dipublikasikan di SOS. AGAMA & BUDAYA. Tandai permalink.

3 Balasan ke Yang Tersembunyi di Balik Hijab : Simbol dan Ideologi

  1. aftinanurulhusna berkata:

    Reblogged this on I love life, life loves me. and commented:
    Wawasan baru yang perlu untuk diketahui bagi mereka yang ingin mendakwahkan hijab..

  2. luaydpk berkata:

    Jika kembali ke sumber ajaran Islam mengenakan jilbab adalah perintah, maka jilbab tak hanya sekedar simbolik namun sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya, terkandung nilai spiritual…

  3. Achmad Gustina berkata:

    Jilbab itu bukan urusan Tuhan atau masalah ketaatan sama sekali, melainkan sebuah alat untuk mengontrol & menundukkan kaum perempuan secara masal & masif, & ujungnya, merupakan alat yg berguna utk menundukkan sebanyak mungkin populasi manusia di bawah satu keragaman budaya saja (dalam hal ini model busana), dan ujungnya lagi, menundukkan semua manusia di bawah satu pola pikir/ideologi saja.
    Keragaman yg ada pada ras manusia & yg merupakan sunatullah itu akan lenyap kalau jilbab & pemikiran yg ada di belakangnya dipaksakan ke semua. Jadi, hanya tuhan yg schizophrenic yg memerintahkan manusia utk seragam setelah mengatakan bahwa keragaman itu merupakan sunnahNya.
    Saya tidak percaya kalau ada yg bilang perempuan itu pake jilbab krn panggilan hati atau krn takwa, kalau krn takut iya. takut sama siapa? takut sama (ajaran) yg bilang bahwa kalau dia gak pake jilbab dia bakal disate di neraka.
    Perempuan yg diajari bahwa tidak pakai jilbab itu tidak berdosa, bahkan sama baiknya dg yg pakai jilbab, tidak akan memilih berjilbab. Jilbab itu sungguh sebuah konstruksi, bukan sesuatu yg alami.
    Dan jilbab juga tidak bisa disejajarkan dg pakaian wanita biasa lainnya, krn ideologi yg ada di belakang jilbab ini mengatakan bahwa jilbab itu lebih bagus dari model busana apapun, jilbab itu pakaian yg disukai Tuhan dsb. dan ada banyak prosedur & konsekuensi bagi wanita ketika memilih berjilbab. Jilbab dikaitkan dg dosa & takwa, hukuman & pahala, serta surga & neraka. Tidak ada busana lain yg dimuati ideologi seberat ini bukan? Maka, jilbab akhirnya juga tidak bisa dimasukkan sbg bagian kampanye kebebasan berpakaian utk wanita.
    Sekali perempuan berjilbab, maka mereka tidak akan bisa memilih utk melepaskannya kembali dg mudah. Jilbab bukan jenis pakaian yg bisa dg bebas dilepas pasang oleh pemakainya. Ibarat mengenakan rantai yg kuncinya harus dibuang sesudahnya. Jadi sekali lagi saya ulang, jilbab itu belenggu, sampai dia dilepaskan dari ideologinya saat ini.
    Inilah bedanya jilbab dg pakaian lain. Jadi, mengkampanyekan kebebasan utk memilih berjilbab, notabene sama saja dg mengkampanyekan perempuan utk boleh memilih membelenggu dirinya sendiri. Ya, tentu saja orang boleh memilih membelenggu dirinya sendiri selama dia sadar apa yg dilakukannya dan bukan krn dia dimanipulasi ajaran yg mengatakan itu perintah Tuhan.
    Istilah kebebasan memilih pakaian itu baru tepat kalau ia boleh dilepas pasang semaunya serta tidak dicantolkan pada Tuhan, dan semua (kebanyakan) pakaian memang begini, kecuali jilbab. Jilbab itu bukan sekedar pakaian, melainkan sebuah ideologi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s