Kritik Foucault Terhadap Positivisme

Kritik Foucault Terhadap Positivisme:

Pembacaan Arkeologis dan Geneanologis atas Rezim Kuasa[1]

Dan ‘kebenaran’ sekarang adalah apa yang diajarkan oleh para pengkhotbah yang berasal dari mereka pula, orang suci dan pembela orang-orang kecil yang bersaksi tentang dirinya sendiri: ‘akulah kebenaran’

(W.F Nietszche dalam Thus Spake Zarathustra)

Abad 20, selain dikenal sebagai abad kekerasan, juga merupakan abad yang penting dalam proses memikirkan manusia sebagai manusia.[2] Titik penting hal ini, tampak dalam kelahiran dua model pemikiran filosofis, yaitu eksistensialisme dan post-modernisme. Eksistensialisme, telah mengembalikan ke-aku-an subyek manusia, sedang postmodernisme memberi kesadaran bagi manusia memahami dirinya dari selubung palsu kesadaran yang berkuasa, meliputi kaidah umum hingga bagian yang terkecil dan tak terpikirkan secara sadar.

Dalam caltwalk postmodernisme, tampaklah dengan anggun beberapa pemikir berjalan beriringan memperkenalkan busana mereka. Francois Lyotard memperkenalkan busana kritik terhadap proyek manusia gagal (baca, dehumanisasi), Jacques Derrida memperkenalkan kebebasan dan pembongkaran pada penafsiran bahasa –seperti juga Roland Bhartes-, Jean Baurdillard menanggalkan selubung yang ada pada masyarakat konsumsi, dan terpenting Michel Foucault yang membongkar selubung kuasa dibalik segala realitas yang ada. Alur pemikiran post-modernitas yang bersifat dekonstruktif ini, menisbahkan pemikiran mereka kepada sang mahaguru eksistensialisme, Wilhelm Friedrick Nietszche.[3]

Diantara pemikir postmodernisme, yang sangat dipengaruhi Nietszche adalah Michel Foucault dan Gilleze Deleuze. Kedua orang ini, sama-sama orang perancis. Sama-sama memikirkan Nietszche, dan lebih penting, sama-sama menghidupkan pemikiran gurunya dengan jiwa yang baru, -terutama- dalam konteks geneonologi dan hubungannya terhadap rezim kekuasaan.[4]

Tulisan ini, tidak cukup cerdas untuk memikirkan bagaimana dua pemikir besar tersebut, memikirkan dan menghidupkan Nietszche.  Tulisan ini hanya mencoba memberi perhatian kepada pemikiran Foucault. Ia dinilai lebih penting   -tentunya dari perspektif penulis secara subyektif-, mengingat Foucault menghidupkan pemikiran Nietszche sebagai kritik terhadap modernitas –meliputi system pengetahuan dan dunia real lainnya- dengan klaim metodelogis serta historis. Bagi penulis, pencarian kesadaran berdasarkan klaim metodelogis sekaligus historis sangat jarang dilakukan para filsuf. Umumnya, mereka hanya beranjak pada dunia metafisik dan estetika an sich. Dan Foucault membaca kesemua realitas tersebut, lewat jalur arkeologis dan geneanologis.

Paper ini ‘bertugas’ memberi sedikit penjelasan terhadap kedua model pembacaan ini sebagai bagian dari pembongkaran terhadap rezim kuasa. Itu saja!

Sekilas Tentang Foucault[5]

Michel Foucault lahir di Poiters, Perancis pada tahun 1926. Ia berasal dari kalangan medis, ayahnya seorang ahli bedah, seperti juga saudara dan kakeknya. Orang tua Foucault mengharap anaknya mengikuti jejak yang sama, tetapi ia “membangkang” dan memilih belajar filsafat, sejarah dan psikologi. Sikap ini mengisyaratkan bahwa sejak lama Foucault memang tidak menyukai sesuatu yang mapan. Ia menempuh masa studinya di Ecole normalle superiure pada 1945 dan mendapat license pada bidang filsafat (1948), psikologi (1950) dan psikopatologi (1952).

Selanjutnya ia mengajar psikopatologi di Almamaternya, menjadi dosen di Universitas Uppsala (Swedia) untuk bidang sastra dan budaya Perancis (1954-1958) serta menjadi direktur pusat kebudayaan Perancis di Polandia (1958) dan kemudian di Jerman (1959). Pada 1960 ia kembali pulang ke Perancis, dan berhasil memperoleh gelar “doctor negara” dengan hasil penelitiannya  mengenai “Sejarah Kegilaan”.

Pada 1960-an Foucault juga mengajar universitas-universitas di  Montpellier, Tunis, Clemor Ferrand dan Paris Nanterre. Ia juga adalah salah seorang pendiri Universitas Paris Vincennes (Terkenal sebagai Universitas Paris VIII), sebagai hasil ekperimentalnya dalam pembaruan system pendidikan pasca pemberontakan mahasiswa 1968. Ia tak lama mengajar disana, karena pada Desember 1969 ia diangkat sebagai professor di College de France. Selain menjadi dosen tamu di Eropa, Faucault juga kerap menjadi dosen tamu di beberapa universitas di Amerika Serikat. Selain sebagai seorang akademisi dan pemikir, Foucault juga pernah aktif sebagai aktivis partai komunis perancis, sejak pasca PD II hingga tahun 1951.

Pada 1984, ia meninggal dunia pada umur 57 tahun –konon kabarnya penyebab kematiannya karena terserang AIDS-. Pada upacara pemakamannya, kawan karibnya Gilles Deleuze membacakan halaman terakhir dari  Arkeologi Pengetahuan.

Sebagai akademisi, Foucault banyak melahirkan pemikiran dan sangat produktif dalam menuliskan pemikirannya. Karya-karyanya antara lain: Maladie meladie et personalite (1954) yang membahas mengenai penyakit jiwa dan kepribadian, Folie et deraison: Historie de la folie a l’age classique yaitu deksripsi historis-filosofis atas kegilaan pada masa klasik (1960), Raymod Russel yang membahas mengenai sastrawan perancis (1963), Naissance de la clinique: une archeologie du regard medical yaitu mengenai sejarah arkeologi klinik/medis (1963), Les mots et les choses: une archeologie des sciences humaines yang membahas arkeologi ilmu-ilmu manusia (1966), L’archeologie du savoir yaitu bahasan arkeologi pengetahuan (1969), L’ordre du discurs atau susunan diskursus (1970), Surveiller et punir: Naissance de la prison yaitu tentang sejarah penjara (1975), sebuah rekaman historis pembunuhan abad ke-19 yang berjudul Moi, Pierre Riveire …(1973), serta terakhir adalah tiga jilid dari Historie de la sexuality atau sejarah seksualitas yaitu La volonte de savoir (1976), L’usage des plaisirs (1982) dan L’souci de soi (1984).

Transliterasi Reflektif ke arah Metodelogis: Nietszche ke Foucault

Tak dapat dipungkiri, ide-ide rezim kekuasaan dalam pemikiran Foucault mendapat rujukan pantas dari pemikiran Nietszche dalam “Will to Power”.  Foucault memperluas cakrawala berfikir Nietszchean yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk kehendak untuk berkuasa. Bagi Nietszche, ide tentang pengetahuan murni tidak dapat diterima, karena nalar dan kebenaran tidak lebih dari sekedar sarana yang digunakan oleh ras dan spesies tertentu. Kebenaran bukan sekumpulan fakta, karena hanya mungkin ada interpretasi dan tidak adanya batas bagaimana dunia di interpretasikan. Jika kebenaran memiliki sandaran historis, maka ia merupakan konsekuensi dari kekuasaan.

Gagasan segar Nietszche diatas, kemudian dipikirkan kembali dan diperluas secara metodelogis oleh Foucault yaitu dengan apa yang disebutnya arkeologi dan geneanologi. Kedua hal ini adalah pendekatan yang bertujuan untuk melakukan pembongkaran terhadap mitos dalam sebuah system pengetahuan.

Tentang Arkeologi

Arkeologi adalah pendekatan yang Foucault lakukan hingga 1970. Ia mendefinisikan arkeologi sebagai eksplorasi sejumlah kondisi historis nyata dan spesifik dimana berbagai pernyataan dikombinasikan dan diatur untuk membentuk atau mendefinisikan suatu bidang pengetahuan/obyek yang terpisah serta mensyaratkan adanya seperangkat konsep tertentu dan menghapus batas rezim kedalaman tertentu.[6] Arkeologi menekankan pada penggalian (excavation) masa lalu ditempat tertentu. Foucault berusaha mencari jejak-jejak yang ditinggalkan dari sebuah ritus atau monumen diskursif. Baginya setiap obyek historis yang berubah, tidak boleh ditafsirkan dalam perpektif yang sama. Sehingga dalam hal ini, diskursus senantiasa bersifat diskontiniu. Pemahaman ini dibuktikan akan kenyataan bahwa selalu saja terjadi keterputusan  historis, antara bagaimana suatu obyek di konseptualisasikan dan dipahami. Selalu saja ada jarak, dalam menafsirkan obyek.

Kajian teoritik mengenai arkeologi Foucault terletak pada dua karyanya yaitu Les mots et les choses (1966) dan L’archeologie du savoir (1969). Dalam Les mots, Foucault memperkenalkan istilah episteme yang merujuk kepada pengandaian, prinsip, kemungkinan dan cara pendekatan tertentu yang dimiliki setiap zaman dan membentuk suatu system yang kokoh. Episteme bekerja secara sembunyi, menelusup dalam pemikiran, pengamatan dan pembicaraan yang muncul secara nirsadar. Sangat wajar jika perspektif ini banyak dilihat orang, sebagai kecenderungan strukturalis. Pada buku L’archeologie du savoir, tema mencolok yang dipaparkan Foucault adalah diskontinuitas dalam sejarah. Foucault agaknya sependapat dengan sejarawan mazhab annals yang menjelaskan sejarah atas dasar konseptual. Dahulu, sejarah dipaparkan menekankan kontinuitas dimana sesuatu berjalan secara linier dan evolutif. Sekarang, tugas sejarah justru sebaliknya, memaparkan diskontinuitas. Jika kita membaca “kesatuan”, maka seharusnya dibaca sebagai “ditafsirkan sebagai kesatuan”. Jadi setiap pemikiran atau fakta sejarah harus dimengerti sebagai kumpulan pernyataan, yang berpangkal pada titik intensi pengarang yang melahirkan pernyataan tersebut. Karena itu, dalam obyek penelitiannya, Foucault lebih suka berbicara mengenai “bentuk diskursif” daripada tentang ilmu, teori dan sebagainya. Untuk itu yang harus dilihat adalah aturan-aturan mana yang menguasai terbentuknya obyek diskursif itu.[7]

Sebagai contoh adalah kajiannya terhadap sejarah kegilaan.[8] Karya ini berbicara tentang eksklusi kegilaan dari cakupan hal-hal yang bersifat rasional yang ada dalam sejarah psikiatri, dan ternyata kemudian berfungsi untuk mengokohkan rasionalisme barat. Rasio sudah sangat monologal, sehingga melihat kegilaan sebagai obyek yang mesti disisihkan dan dibersihkan dari subyek rasional, yaitu dengan mencampakkannya sebagai penyakit mental. Padahal pada hakekatnya, kegilaan bersifat komplementer terhadap rasio.

Dalam studi ini, Foucault membedakan tiga zaman perjumpaan kegilaan dan rasio, yaitu  masa renaissance, klasik (abad 17) dan modern (abad 18). Pada masa renaissance, terdapat dialog antara kegilaan dan rasio, karena kegilaan masih dianggap menyimpan unsur kebenaran. Masa klasik, ilmu psikiatri mulai muncul dan memandang kegilaan sebagai hal yang harus disisihkan dari wilayah rasio. Untuk menanganinya maka di Perancis dan juga Inggris, didirikan tempat pengurungan bagi kegilaan dan juga tempat terapi bagi penyembuhannya. Pada akhirnya di zaman modern, psikiatri benar-benar berkuasa dan kedua praktik eksklusi ini sepakat mengeluarkan kegilaan sama-sekali dari wilayah rasio. Dengan demikian, pengetahuan mengenai kegilaan setiap zaman senantiasa berbeda, dan tentunya, hal ini diakibatkan kepada pemahaman struktur masyarakat yang membentuknya –epsteme-.

Tentang Geneanologi

Pendekatan metodelogi yang kedua adalah geneanologi, yang mulai dikembangkannya sejak ia memberi mata kuliah tentang Nietszche di Universitas   Vincennes pada 1969.[9] Istilah geneanologi yang digunakan Foucault yang dikembangkan dalam Surveiller et punir, tentu saja mengingatkan kita kepada konsep geneanologi Nietszche dalam “The Birth of Tragedy and Geneanology Morals”. Nietszche mendefinisikan geneanology sebagai antitesa kecenderungan pencarian asal-usul yang bersifat alpha-omega, dengan kata lain Nietszche menolak obyektifitas dan monopoli versi kebenaran.[10]

Pendefinisian Nietsche diatas, kemudian diambil alih oleh Foucault untuk menunjukkan relasi kontinuitas-diskontiuntitas dalam sebuah diskursus. Jadi dalam hal ini, geneanologi  mengambil bentuk berupa pencarian kontinuitas dan diskontinuitas dari diskursus. Geneanologi tidak mencari asal-usul, melainkan menelusuri awal dari pembentukan diskursus yang dapat terjadi kapan saja. Foucault dalam kerangka metodelogis ini, tidak menggunakan verstehen (pemahaman) melainkan destruksi dan pembongkaran hubungan-hubungan historis yang disangka ada antara sejarawan dengan obyeknya. Jika dalam arkeologi, proyek metodelogi diarahkan untuk menggali situs local praktik diskursif, maka geneanologi beranjak lebih jauh yaitu untuk menelaah bagaimana diskursus berkembang dan dimainkan dalam kondisi historis yang spesifik dan tak dapat direduksi melalui operasi kekuasaan.[11] Sehingga tanpa disadari kekuasaan menelusup dalam setiap ruang. Pada titik inilah, Foucault telah memperluas obyek samar “kuasa” yang ditinggalkan Nietszche dan menjadikannya tema terpenting bagi pemikirannya kemudian. Geneanologis diarahkan Foucault untuk menganalisa strategi kuasa yang berbelit-belit, yang harus dipahami dari dalam  -lewat aturan, nilai yang berlaku bahkan juga tutur kata dan kebiasaan-.

Sebagai contoh kajian geneanologis ini adalah kajian Foucault mengenai penjara, sekolah dan rumah sakit yang menunjukkan beroperasinya kekuasaan dan disiplin dalam pembentukan atau penggunaan pengetahuan, termasuk kontruksi subyek sebagai efek diskursus. Dalam Surveiller et punir (1975), Foucault menggambarkan bagaimana strategi khusus kuasa –menjaga dan menghukum- muncul sebagai fenomena eropa abad ke-18. Ia melihat parade-parade militer, pedoman tata-tertib sekolah, cara membangun panopticum (sejenis penjara), rumah sakit dan tangsi adalah cara-cara untuk mengatasi sisi gelap abad pencerahan, yaitu biara dan kastil tua, puisi romantik yang dinilai bercita-rasa gelap dan kabur. Kekuatan masa modern, jelas tidak menyukai hal itu, sehingga mitologi tersebut harus didisiplinkan dengan cara yang baru.[12]

Dengan demikian, diskursus mengatur bukan hanya yang dapat diungkapkan, tetapi juga siapa yang mengungkapkan, kapan dan dimana. Secara khusus, rezim kebenaran adalah hasil produksi kekuasaan yang subyektif, karena melibatkan relasional pengetahuan sehingga bersifat disiplin. Foucault bermaksud menunjukkan hubungan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dengan tehnologi dominasi. Bahwa tumbuhnya ilmu kemanusiaan berhubungan dengan praktik pendisiplinan tingkah laku dan adat kebiasaan yang dibakukan secara institusional dan juga sering secara arsitektural -yaitu merujuk kepada pendirian penjara, rumah sakit, asrama dan seterusnya-. Monumen arsitektural, dimata Foucault adalah monumen kemenangan rasio atas kegilaan, bahkan juga menaklukkan seluruh ritus kemasyarakatan.

Kritik terhadap Kuasa Pengetahuan

Dalam dua pembacaan metodelogis diatas, maka usaha ini harus ditempatkan sebagai kritik Foucault terhadap pengetahuan. Kritik ini terutama didasarkan pada satu klaim Foucault, bahwa pengetahuan adalah bagian dari strategi kuasa, sehingga dengan sendirinya bersifat subyektif. Foucault bergerak pada jalur penyingkapan kedok rasio dengan segala perwujudannya dalam modernitas. Berbeda dengan postmodernis lain, dia tidak bergerak pada dunia metafisika ataupun estetika[13] dalam kritik-kritiknya, melainkan dalam dunia ilmu kemanusiaan.  Karena dibelakang ilmu kemanusiaanlah, cara kerja rasio begitu terlihat monologal dengan segenap kuasanya. Dan Foucault berhasrat untuk menelanjangi selubung tersebut.

Kaum positivisme percaya bahwa obyektifitas itu ada. Untuk meyakinkan terhadap kebenaran klaimnya, maka dibuatlah serangkaian aturan atau prosedur untuk memperoleh dan menyebarkan kebenaran. Foucault menelanjangi modernitas ini, yaitu dari sisi metodelogis, lewat bukunya Les mots et les choses (1966), L’archeologie du savoir (1969) dan L’ordre du discurs (1970). Buku-buku ini memuat konsep kerja yang dibangun Foucault, seperti arkeologi, geneanologi, episteme serta kuasa. Tujuan dari pembangunan semuanya adalah untuk menunjukkan kegagalan modernitas yang mengklaim obyektifitas dalam pandangan keilmuannya.

Bagi Foucault tidak ada sesuatu yang obyektif, karena segala sesuatu subyektif, segala sesuatu memiliki ruang cipta -baik sadar atau tidak- ketika sebuah pengetahuan disusun. Bahkan pengetahuan sendiri muncul, sebagai sesuatu yang subyektif dalam fungsinya mencampakkan gejala unreason atau ketidaksadaran (baca, kegilaan). Pengetahuan selalu bersifat politis, tetapi bukan karena mempunyai konsekuensi politik atau digunakan demi kepentingan politik, melainkan karena pengetahuan dimungkinkan karena adanya relasi-relasi kuasa. Dan kuasa itu tidak selalu bekerja melalui penindasan dan represi, tetapi terutama melalu normalisasi dan regulasi. Kuasa tidak dapat dilokalisasi, karena ia bekerja lewat aturan dan susunan. Dengan demikian kuasa tidak bersifat negatif, refresif dan subyektif, justru kuasa memiliki ciri positif dan produktif. Kuasa memproduksi realitas dan juga ritus-ritus kebenaran.

Selain memberi uraian metodelogis, Foucault juga menerapkannya dalam analisis studi kasus beberapa tema penelitiannya. Studi kasus Foucault meliputi obyek kegilaan, penjara dan seksualitas. Menurut hemat penulis, sangat mungkin adanya kesengajaan dalam pemilihan obyek kajian Foucault. Kegilaan ingin menunjukkan normalisasi dan regulasi yang memenangkan rasio. Penjara ingin menunjukkan bagaimana rasionalitas menormalisasikan sesuatu yang dianggap menyimpang sebagai upaya menghukum dan mendisiplinkan pelakunya, selain itu penjara juga dilihat sebagai monumen dari bekerjanya rezim disiplin. Sedangkan seksualitas, dilukiskan sebagai titik utama pelaksanaan kekuasaan dan produksi subyektivitas dalam masyarakat barat. Subyektifitas memiliki batas-batas yang sama dengan seksualitas sebagaimana subyek yang terbentuk melalui produksi seks dan kontrol tubuh.[14] Kedokteran, gereja, psikoanalisis, program pendidikan dan demografi adalah diskursus yang menganalisis, mengklasifikasi dan mengatur seksualitas serta menghasilkan subyek berjenis kelamin. Dengan demikian studi kasus Foucault ini, menunjukkan bagaimana kerja teoritis episteme bekerja pada level praktis dan menjawab tantangan filosofis yang cenderung abstrak.

Dengan melakukan kritik terhadap susunan pengetahuan, maka gugatan ini dengan tepat meruntuhkan seluruh jantung klaim keabsahan pengetahuan yang demikian di lihat sebagai sesuatu yang mapan. Secara khusus, Foucault melihat kecenderungan operasionalisasi pengetahuan, telah menjadikan ilmu-ilmu kemanusiaan, -seperti sejarah antropologi-  kehilangan nilai kemanusiaannya. Foucault mencoba memanusiakan kembali manusia.

Referensi

Barker, Chris. Culture Studies, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005.

Bertens, K. Filsafat Barat XX Jilid II Prancis, Jakarta: PT Gramedia, 1996.

Deleuze, Gillez. Nietszche, Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2000.

Foucault, Michel. Disipline and Punish, London:1977

.___________Maddnes and Civilization, (edisi terj. Indonesia), Yogyakarta: Ikon, 2001.

___________ Seks dan Kekuasaan, Jakarta: PT Gramedia, 1997.

Hobsbawm, Eric J. The Age Of Extremes, London: Abacus, 1995.

Lash, Scott. Sosiologi Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Macey, D. The Lives of Michel Foucault, London: Hutchinson, 1993.

Nietszche, W.F. Geneanology Moral (edisi terj. Indonesia), Yogyakarta: Jalasutra, 2001.

Endnote:

[1]  Dipresentasikan di PMII Komisariat UNJ September 2005.

[2]  Eric J. Hobsbawm, The Age Of Extremes, (London: Abacus, 1995).

[3] Wilhelm Friedrich Nietszche (1844-1900) dikenal sebagai filsuf eksistensialisme, ia terkenal lewat pengumumannya akan kematian Tuhan. Ungkapan ini, bersifat simbolik yaitu bermaksud menolak sesuatu yang mapan, dimana Tuhan adalah narasi besar kemapanan. Jadi membunuh Tuhan sama sekali sangat berbeda dari konsepsi teologis. Dengan membunuh Tuhan, maka manusia akan lebih berhasrat menunjukkan keberanian dan menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia Ubermensch. Hal inilah, -penolakan kemapanan dan penanaman kecurigaan- yang dianggap menjadi cikal-bakal postmodernisme. Mungkin Nietszchelah, pahlawan kaum postmodernisme!.Lebih lanjut mengenai Nietszche lihat Gillez Deleuze, Nietszche, (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2000).

[4]  Paper ini tidak bermaksud menjelaskan dikotomi Foucault dan Deleuzze dalam menafsirkan Nietszche secara khusus. Kiranya fungsi ini sudah dideksripsikan dengan cermat oleh Scott Lash, dalam Sosiologi Postmodernisme, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal 65-87.

[5]  Lihat D. Macey, The Lives of Michel Foucault, (London: Hutchinson, 1993).

[6]  Chris Barker, Culture Studies, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), hal. 146-147.

[7]  K. Bertens, Filsafat Barat XX Jilid II Prancis, (Jakarta: PT Gramedia, 1996), hal 313

[8]   Michel Foucault, Maddnes and Civilization, (edisi terj. Indonesia, Yogyakarta: Ikon, 2001)

[9]   K. Bertens, Op, Cit., hal.318

[10] W.F Nietszche, Geneanology Moral (terjemahan Indonesia dari The Birth of Tragedy and Geneanology Morals), (Yogyakarta: Jalasutra, 2001).

[11]  Chris Barker, Op.Cit., hal. 148.

[12]   Michel Foucault, Disipline and Punish, (London:1977).

[13]  Tokoh postmodernis metafisik meliputi: Heidegger, Derrida dan Lyotard, sedangkan type estetik yaitu Adorno, Marcuse dan juga Horkheimer.

[14]   Lihat Michel Foucault, Seks dan Kekuasaan, (Jakarta: PT Gramedia, 1997).

Pos ini dipublikasikan di TEORI SOSIOLOGI. Tandai permalink.

2 Balasan ke Kritik Foucault Terhadap Positivisme

  1. aditya berkata:

    Teori Kritik Sosial ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s